Penulis: Enny Ernawati

Sekitar sebulan yang lalu aku menerima sebuah bbm dari teman lama, sebut saja namanya TD. Dia dulu teman satu kost denganku waktu kuliah di Malang dan sekarang tinggal di Jawa Tengah. Kami lama tak bertemu. Tapi kami sering bbm-an atau saling telpon. Kadang bbm-an becanda gak jelas asal ketawa aja hehehe… lucu-lucuan lah pokoknya.

Tapi malam itu isi bbm TD cukup serius. Dia bercerita bahwa dia sekarang punya “yayang”. Pikirku yayang itu suaminya. Tapi TD menjawab, “Aku kan bilang yayang bukan suami.”  Eh maksudnya ?? Terus terang aku gak “mudeng” maksud TD. Ternyata TD ngaku kalau sekarang sedang menjalin hubungan dengan seorang duda yang dikenalin temannya. Aku kaget banget.  Ah, apa yang kau cari, sahabatku…. TD sudah dua punya anak. Dan dia menikah dengan suaminya juga atas pilihannya sendiri bukan karena dijodohkan.

TD minta saranku supaya bisa melupakan duda itu, karena katanya duda itu akan menikah dengan pilihan orang tuanya. Aku menyarankan agar TD benar-benar “tutup buku” melupakan segala hal tentang si duda, jangan simpan fotonya, jangan simpan nomer telponnya, jangan ingin tahu apa pun tentang dia & delete kontaknya di BB. Tapi TD malah nawar, ” Yang gak ekstrim gitu gak ada ya?Masak aku harus delete kontaknya …” Hedeehhh….

Aku berusaha menggambarkan perasaan suami TD, anak-anaknya, orang tuanya bila perselingkuhannya ketahuan. Mereka pasti akan sangat sedih, kecewa bahkan terluka. Tapi TD sepertinya sangat berat melepaskan si duda. Akhirnya aku hanya bisa berkata, “Serahkan sama Allah banyak berdoa minta petunjuk dari Allah.”

Mak, aku sendiri juga bingung. Aku kenal suami TD, anak-anaknya dan juga orang tuanya. Kalau pengenku semua baik-baik saja, tak ada perselingkuhan dan TD tetap bersama suami juga anak-anaknya.

Perselingkuhan mungkin terjadi bila satu pasangan tidak bisa menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya. Ah tak ada manusia yang sempurna ya mak dan seharusnya bila kita sudah menerima dia jadi pasangan kita, ya terimalah dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tak perlu membandingkan dengan orang lain.

Apa pun alasannya perselingkuhan itu akan menyakitkan untuk keluarga dan orang-orang terdekatnya. Belum tentu juga bila bersama selingkuhannya akan lebih bahagia daripada dengan pasangannya sekarang, bahkan bisa terjadi sebaliknya ya mak. Segala sesuatunya memang harus dipikirkan masak-masak jangan menuruti emosi dan nafsu belaka. Kalau menurut emak-emak ?