Halo emak-emak, selamat tahun baru 2014!

Akhir tahun lalu, atau bisa dibilang akhir bulan lalu, saya disibukkan dengan pencarian paspor saya yang hilang, tidak ketemu sejak saya terakhir pulang dari luar negeri bulan April 2012. Saya yakin paspor tersebut ada di rumah, hanya terselip dan saya lupa menaruhnya di mana. Pencarian jadi tambah sulit karena kamar saya yang lama sudah dipakai adik saya, dan barang-barang dari kamar itu kebanyakan berada di dalam kardus.

Sepanjang tahun 2013 kami tidak melakukan perjalanan ke luar negeri, jadi saya tidak serius mempermasalahkan hilangnya si paspor. Menjelang akhir 2013, datang rencana untuk berangkat ke luar negeri di tahun 2014. Suami saya pun segera mengumpulkan dokumen untuk memperpanjang paspornya. Dokumen kependudukan anak kami yang berusia 18 bulan pun diurus supaya ia bisa punya paspor. Sementara saya akhirnya membongkar satu per satu kardus untuk mencari si paspor yang masih berlaku sampai 2015 itu. Hasilnya? Paspor saya tidak ada!

Karena bingung harus mencari ke mana lagi, saya pun mengurus surat hilang di kepolisian sektor. Berbekal surat hilang dan dokumen lain, saya mengajukan penggantian paspor hilang di Kantor Imigrasi (Kanim) Jakarta Selatan. Kami mengantri ambil nomor loket sejak jam 6.15 pagi. Oh ya, karena suami sudah mengurus via online dan membayar, hari itu juga ia dan si anak bisa foto dan wawancara. Sedangkan saya, setelah cek berkas di loket, lalu menuju Bidang Wasdakim untuk pembuatan berita acara (BAP).

Ternyata, untuk pembuatan BAP tidak sehari jadi, karena yang mengantri sudah lumayan banyak saya harus kembali besoknya. Besoknya, BAP yang dibuat pun hanya wawancara lalu diketik manual. BAP manual itu harus di-input ke dalam sistem dahulu, dan hari itu sistemnya eror sehingga tidak bisa dikerjakan. Surat pengantar untuk ke Kantor Wilayah (Kanwil) juga tidak bisa langsung jadi sehari.

Pada tanggal yang telah ditentukan, paspor suami dan anak pun selesai. Saya yang mengambil sekalian menanyakan BAP dan surat pengantar ke Kanwil. Ternyata, hari itu sistemnya masih eror, hasil wawancara BAP saya belum bisa di-input. Saya diminta kembali tanggal 2 Januari 2014.

Selama proses menunggu tersebut saya jadi tidak tenang karena ada kemungkinan permohonan ditangguhkan oleh pihak Kanwil. Sesuai aturan, Kanwil berhak menunda penggantian paspor hilang sampai 2 tahun. Saya terus berdoa semoga paspor saya tiba-tiba muncul kembali.

Pada malam tahun baru, adik saya membereskan barang-barangnya dalam rangka menyiapkan rumah untuk teman-temannya yang mau berkumpul malam itu. Salah satu yang ia bereskan adalah tas laptop saya yang ia pakai beberapa bulan terakhir ini. Ia kosongkan kantong di sisi tas tersebut dan kaget ketika mengetahui isinya adalah dokumen perjalanan pesawat lengkap dengan paspor saya!

Wah, ternyata selama ini paspor saya ada di dalam tas laptop. Saya baru ingat kalau tas tersebut memang dibawa ke luar negeri terakhir kali, itulah tempat yang terlewat saya cari. Padahal saya sudah membongkar koper dan tas ransel yang dulu juga dibawa, tapi tidak terpikir mencarinya di satu tas yang tersisa. Alhamdulillaaaaah…

Tapi urusan belum selesai sampai di situ. Tanggal 2 Januari saya datangi Kanim untuk membatalkan laporan kehilangan paspor saya. Untungnya prosesnya tidak ribet. Berkas saya dikembalikan oleh Wasdakim, lalu saya melapor di loket kalau saya tidak jadi meneruskan pengajuan penggantian. Petugas di loket menjawab karena saya belum ke Kanwil dan belum membayar, maka mereka tinggal menghapus surat yang masuk di Kanim. Paspor saya yang masih berlaku pun bisa segera digunakan.

Saya senang sekali tidak perlu bolak balik ke Kanim dan ke Kanwil, serta paspor saya pun kembali. Alhamdulilaaaah… rasanya jadi tenang tidak perlu memikirkan ancaman penundaan paspor baru.

Semoga apa yang terjadi sama saya tidak dialami emak-emak ya. Setelah ini saya simpan paspor kami baik-baik, kami beli passport case supaya paspor dan dokumen perjalanan dapat ditaruh dengan rapi. Jangan sampai (nyaris) hilang lagi!