Reportase mak Mugniar Marakarma

Mungkin karena sudah cinta, sewaktu ada SMS undangan pelatihan menulis untuk komunitas menulis yang saya ikuti, saya malah meminta undangan satu lagi untuk bisa mewakili KEB. Sementara undangan yang tadinya ditujukan untuk komunitas tersebut, saya berikan kepada seorang kawan. Saya bergabung dalam 2 komunitas perempuan pecinta menulis dan saya kira tak banyak komunitas seperti itu di Makassar, makanya saya berani saja meminta satu kursi lagi sembari mengirimkan link Rumah Emak kepada panitia di SMS saya.

Mulanya saya mendapatkan jawaban “tak ada kursi lagi”. Namun selang beberapa hari kemudian saya di-SMS lagi, katanya saya boleh mewakili KEB. Aih, senangnya. Orang Makassar harus tahu komunitas keren ini. Kalau komunitas yang satunya lagi, sudah cukup dikenal di sini, KEB belum ada yang mengenalkannya. Lagi pula identitas saya semakin kuat setelah bergabung dengan KEB. Saya blogger, dan saya seorang emak.

Dari pelatihan yang berlangsung selama 2 hari (16 – 17 November 2013) dan diikuti oleh 14 komunitas ini, saya belajar banyak hal. Kesemuanya saya tuangkan ke dalam lima tulisan di blog saya, beberapa hal penting akan saya bagi di sini, yaitu:

Perempuan Perlu Banyak Menulis

Dalam pasal 33 UU nomor 40 tahun 1999, disebutkan fungsi media, yaitu: sarana transformasi informasi, media hiburan, media pendidikan, kontrol sosial, dan lembaga ekonomi. Namun fungsi-fungsi ini tidak maksimal terlaksana.

Saat ini yang menonjol dari media adalah fungsinya sebagai lembaga ekonomi, yaitu bagaimana agar media bisa menghasilkan uang. Tentu saja terjadi ketimpangan, karena media seharusnya berperan dalam menciptakan keterbukaan di bidang informasi, penegakan hak-hak sipil,  dan supremasi hukum yang mencakup seluruh aspek, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Berita  media sebanyak 30-50% menyangkut perempuan. Namun umumnya mengenai dua tema besar, yaitu: kekerasan dan sensualitas. Isu perempuan masih menjadi isu pinggiran, di mana 59% dari pemberitaan, atau 715 berita, diletakkan pada rubrik sekunder. Sisanya berada di rubrik primer (477 berita), 10 berita di rubrik tambahan dan 8 berita di rubrik khusus perempuan. (dari sebuah penelitian tahun 2010 – 2011).

Maka dari itu perempuan perlu lebih banyak menyuarakan tentang perempuan meski secara fisik tak terlibat dalam media main stream (Koran, TV/radio) agar berbagai isu dan ide yang berada di sekitar perempuan (termasuk yang mengenai dunia anak) bisa terangkat. Untuk lebih detil, Emak bisa baca di tulisan saya berjudul Jalan Alternatif Agar Perempuan Lebih Lantang Bersuara.

Materi Menulis Non Fiksi dan Fiksi

Tak semua hal bisa digolongkan berita. Berita merupakan peristiwa yang dianggap laik berita (mempunyai nilai berita/news value). Agar memenuhi persyaratan, ada kriteria-kriteria yang harus dipenuhi seperti aktual, signifikansi, magnitude, dan lain-lain.

Ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam menulis non fiksi (baik berita maupun opini) dan fiksi. Sebagian besar Emak sepertinya sudah paham.

Secara teknis, tak banyak bedanya dengan pelatihan-pelatihan menulis lain. Bila Emak sekalian mau membacanya dengan detil, bisa disimak di tulisan-tulisan di blog saya berikut: Perempuan, Ayo Menulis (1), Perempuan, Ayo Menulis (2), dan Perempuan, Ayo Menulis (3).

***

KEB merupakan wadah yang tepat buat kita semua untuk saling berbagi melalui tulisan mengenai berbagai hak di sekitar kita. Berbagai hal yang tentu saja tak jauh-jauh dari perempuan.

Semoga KEB, Makpon, para Makmin, dan kita semua bisa terus eksis ngeblog dan bisa terus saling memotivasi satu sama lain. Izinkan pula saya mengucapkan selamat ulangtahun kepada KEB, semoga selalu ada untuk berbagi dan selalu menginspirasi perempuan Indonesia.

Makassar, 14 Januari 2014