Artikel dari mak Widyanti Yuliandari
Untitled

Logo WWD 2014, sumber: www.unwater.org

Jika bukan karena penting dan strategisnya ketersediaan air, mungkin dunia tak merasa perlu memiliki satu hari khusus untuk memperingatinya. World Water Day atau Hari Air se-Dunia diperingati setiap tahun pada tanggal 22 Maret. Peringatan ini ditujukan sebagai sarana memfokuskan perhatian dunia pada pentingnya air bersih dan advokasi untuk pengelolaan sumber daya air bersih . Peringatan Internasional  ini pertama kali secara resmi diusulkan dalam Agenda 21 tahun 1992, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan ( UNCED ) di Rio de Janeiro , Brasil .

Tema hari air sedunia tahun 2014 ini, adalah “Water And Energy”. Salah satu tujuan peringatan tahun ini adalah meningkatkan kesadaran akan keterkaitan antara air dan energi. Kedua sumberdaya ini memang saling terkait, juga memiliki banyak kesamaan. Untuk menghasilkan energi dibutuhkan air. Air digunakan sebagai cooling water pada pembangkit listrik, juga pada proses penyulingan minyak bumi, juga untuk memproduksi biofuel. Sebaliknya, energi dibutuhkan untuk pemompaan air, proses pengolahan air hingga pentransportasian air (air kemasan misalnya). So, save energy save water. Sebaliknya, save water save energy.

Bagaimana para para perempuan yang lekat dengan peran manajer rumah tangga dapat berkontribusi dalam efisiensi air dan energi? Banyak hal yang bisa dilakukan dari rumah. Meski saat ini untuk urusan energi yang sering diulik adalah ranah kebijakan. Daripada kita meributkan hal yang akhirnya tak pernah dapat kita kerjakan, mengapa tidak melakukannya dari hal-hal kecil yang dapat kita kerjakan sekarang juga!

Gaya Hidup, Air dan Energi

Perubahan gaya hidup saat ini sangat erat terkait dengan peningkatan kebutuhan air dan energi. Tuntutan serba cepat, mudah dan praktis juga gejala mengarah pada budaya konsumtif membuat kita terkadang melupakan sisi efisiensi.

Mari kita coba melihat kebutuhan air dan energi secara holistik. Bukan sekedar terbatas kebutuhan yang nyata-nyata kita gunakan di rumah. Namun juga yang digunakan di ladang-ladang dan peternakan yang memproduksi makanan kita. Di pabrik-pabrik yang menghasilkan makanan, pakaian dan semua barang kebutuhan kita. hingga energi yang digunakan pada kendaraan-kendaraan yang mentransportasikan itu semua.

Berangkat dari pemahaman ini, sebenarnya kita (konsumen) bisa menjadi kunci untuk “membatasi” sektor pertanian, peternakan, industri. Bukankah sektor-sektor tersebut tidak akan memproduksi apa yang tidak diminta konsumen?

Nah, mari kita lakukan efisiensi. Beli hanya barang-barang yang yakin akan kita gunakan. Berikan pada orang lain barang-barang yang terlanjur terbeli namun tak jua terpakai. Klise memang, namun memang hanya itulah intinya efisiensi. Membeli barang yang berkualitas sehingga umur pakainya lama, juga merupakan satu trik efisiensi. Bagaimana bisa fashionable kalau begini caranya? Mungkin akan banyak yang bertanya demikian. Ah, enggak kurang akal dong! Pakai trik mix and match, kan dengan tidak terlalu banyak item bisa menciptakan berbagai gaya.

Dari perutpun kita bisa melakukan efisiensi dengan cara pemilihan makanan. Peternakan membutuhkan lebih banyak energi dan air daripada pertanian. Produksi daging sapi membutuhkan volume besar air sebanyak 100 kali yang diperlukan untuk menghasilkan sejumlah energi yang setara protein dari biji-bijian. Tak harus menjadi vegetarian,kok untuk berkontribusi mengefisiensi energi dan air dari sektor pangan. Prioritaskan saja pada produk nabati, konsumsi produk hewani sekadarnya saja. Utamakan pula makanan pada sesuatu yang paling mendekati bentuk aslinya, atau minim pengolahan. Syukuri nikmat Tuhan dengan mengkonsumsi makanan sedekat mungkin dengan wujud aslinya. Bonusnya? Percayalah, Anda akan lebih sehat!

Kembali ke Cara-cara lama

Jaman makin modern, semua bergerak cepat, kepraktisan menjadi tuntutan. Kalau dulu nenek dan ibu kita menggunakan saputangan dan serbet, kini keduanya tergeser tisu. Penggunaaan tisu memang praktis, namun selain memunculkan makin meningginya timbunan sampah, proses produksinya juga boros air dan energi. Bagaimana kalau kita kembali pada budaya saputangan dan serbet? Hanya sedikit saja lebih repot karena harus mencuci, namun banyak efisiensi yang diciptakan dari sini pun menggunakan sapu tangan atau serbet justru terasa lebih elegan. Serat tisu juga tak seluruhnya berasal dari ponon yang sengaja dibudidayakan untuk pulp, sebagian mengandung serat dari pohon yang berasal dari hutan tropis. Jadi mengurangi penggunaan tisu juga berarti turut andil dalam menjaga keberlanjutan hutan tropis.

Nah, semantara ini dulu yang saya tuliskan. Semoga beberapa hari ke depan akan saya tuntaskan pada bagian 2. Selamat menyongsong WWD 2014. Save Water Save Energy!

Bondowoso, 18 Maret 2014