Artikel mak Arifah Abdul Majid

Sebagai seorang wanita, sungguh saya kerap merasa ngilu saat mendengar kisah-kisah kekerasan yang terjadi pada wanita. Yang membuat lebih ngilu lagi adalah, saat saya tahu bahwa pelaku tindak kekerasan tersebut bukan orang lain, namun suami, teman, saudara, atau bahkan ayah kandung mereka sendiri.

Banyaknya tindak kekerasan yang terjadi pada wanita, tak benar-benar dijadikan pembelajaran. Karena faktanya, hal-hal seperti itu berulang lagi, berulang lagi.. Bisa jadi pula peristiwa-peristiwa tersebut semakin meningkat, karena toh banyak kasus-kasus yang tak terungkap.

Sebagian besar korban kekerasan tak berani bicara, mereka bungkam. Ada pula yang bicara, namun hanya sekedar curhat, tanpa berusaha mencari keadilan pada aparat hukum. Ataukah aparat hukum yang memang kerap kurang tanggap akan permasalahan ini, entahlah.., yang pasti ada banyak sebab mengapa para korban memilih bungkam.

Benarkah pilihan bungkam adalah yang terbaik?? Bisa jadi tidak! Karena satu suara dari satu kasus kekerasan, bisa jadi penyelamat untuk satu orang calon korban kekerasan di luar sana. Setidaknya suaramu bisa menjadi peringatan untuk orang lain, agar mereka lebih waspada. Semakin banyak orang mendengar suaramu, semakin banyak pula orang yang mendapat peringatan.

Banyak dari korban kekerasan memilih bungkam, karena mereka tak mau membuka aib. Tapi, kita tak bisa hanya fokus pada masalah buka aib. Cobalah lihat manfaat dan mudharat yang ditimbulkan dari kebungkaman itu. Bungkam bisa berarti melindungi pelaku dari kejahatannya. Bungkam bisa berarti menyembunyikan kejahatan. Bungkam bisa pula berarti pasrah terhadap tindak kekerasan.

Kembali kepada pilihan, semua ada ditanganmu. Namun jika kamu merasa ingin bicara, bicaralah.. suarakan keadilan..suarakan kebenaran, bukan hanya untuk dirimu tapi juga untuk orang lain. Percayalah, ada banyak orang, terutama para wanita yang pasti siap membantumu. Karena kamu tak sendiri, maka beranikan dirimu untuk bicara.

Jangan biarkan pelaku kekerasan menari-nari di atas deritamu. Jangan biarkan pula mereka mengulangi kejahatannya. So, speak up ladies! Stop violence against women.