Oleh mak Ida Nur Laila

“Bu anak saya sudah kelas 3 SD, tapi nggak punya malu, kalau keluar dari kamar mandi kadang tidak berhanduk, padahal ada temannya atau bahkan guru lesnya…”

“Anak saya kelas satu SD sudah nggak mau pakai celana pendek, katanya malu…”

“Anak saya suka pipis sembarangan, di pinggir jalan juga oke saja…”

“Anak saya sebaliknya, sejak kecil tidak bisa pipis kalau tidak di kamar mandi, rasa malunya sangat tinggi…’

Wow…mengapa ada beragam kondisi pada anak-anak kita?

Tentu bukan sejak lahir tiba-tiba mereka punya malu atau nggak punya malu. Ini adalah hasil pembiasaan dan penanaman sejak ia lahir. Maaf, di Indonesia Timur, dimana nilai masyarakat menganggap wajar laki-laki dan perempuan berpakaian minim, tentu berbeda dengan wilayah yang lebih barat yang berpakaian dengan tertutup.

Kultur kecil, seperti keluarga, berpengaruh. Kultur besar, seperti lingkungan dan norma di masyarakat juga berpengaruh. Ayah bunda sebagai pembentuk lingkungan kecil, punya peran yang signifikan untuk membentuk karakter ini.

Usia 7-10 tahun.

Usia ini adalah usia untuk mulai mengajarkan syariat kepada anak. Anak diajari bersuci, sholat, puasa dan menutup aurat. Anak sudah tidak lagi diijinkan tidur bersama orang tuanya. Berdasarkan diterapkan aturan meminta ijin saat memasuki kamar ortu. Semestinya anak sudah mandiri untuk proses istinjak dan mensucikan diri tak perlu lagi bantuan orang lain sekalipun mahramnya.

Selain itu juga dipisahkan tidur antara anak laki-laki dan perempuan. Diterangkan tentang pengantar menuju baligh, tanda-tanda baligh dan cara bersuci saat berhadats besar. Pendekatan sain juga sangat tepat pada masa ini karena anak telah dapat menelaah dan sesuai juga dengan materi pelajaran di sekolah.

Penting dimulai pemahaman tentang adab pergaulan dengan pasangan jenis misalnya tidak lagi berteman akrab antara anak laki-laki dan perempuan, apalagi hingga melakukan khalwat. Dikhawatirkan pada masa ini keingintahuan anak tanpa disertai pemahaman boleh dan tidak boleh membuat anak melakukan ‘eksperimen’ diluar sepengetahuan orang tuanya.

Pada usia 10-14 tahun.

Diupayakan telah tuntas pemahaman anak tentang ibadah, aurat, mahram, adab pergaulan, adab meminta ijin. Pada tahap ini anak boleh dipukul dengan catatan adab dan proses memukul dipenuhi, pada saat anak melakukan pelanggaran syar’i seperti tidak mau sholat.

Tentang aturan hukuman pada anak akan saya bahas di postingan selanjutnya. Agar hukuman dapat sebisa mungkin dihindarkan dan tidak terkena delik KDRT atau melukai jiwa anak.

Kepada anak juga diterangkan hukum syar’i persiapan sebagai orang yang baligh. Baligh artinya ia telah memikul tanggung jawab atas semua perbuatannya di hadapan Allah dan oranglain. Ia memahami konsep boleh-tidak boleh, Halal-haram, dosa dan pahala. Anak telah betul-betul menerapkan adab pergaulan pada masa ini yang oleh beberapa kalangan disebut masa remaja awal.

Semua aturan pada masa sebelumnya tetap berlaku, seperti adab meminta ijin memasuki kamar orang tua, pemisahan tidur dengan saudaranya. Idealnya tiap anak memiliki alas/ kasur/ tempat tidurnya sendiri. Kamar anak perempuan harus tersendiri dan bisa dikunci.

Jika ada beberapa anak perempuan dalam satu kamar, maka usahakan tempat tidur atau alas tidur terpisah. Jika terpaksa dalam satu tempat tidur, maka harus memiliki selimut yang berbeda. Mereka juga diberi pemahaman tentang batasan aurat walaupun kepada muhrimnya.

Demikian pula berlaku terhadap kamar anak laki-laki.

Prinsip pada masa ini: anak dijauhkan dari segala bentuk rangsangan. Baik pornografi maupun pornoaksi apakah itu ucapan, perbuatan dan tontonan. Memisahkan tidur, menganjurkan anak posisi tidur yang sesuai tuntunan Rasul, tidak tidur tengkurap, menundukkan pandangan, menerapkan adab pergaulan, adalah bagian dari menjauhkan rangsangan. Mengarahkan dan mengawasi pergaulan anak sangat intens pada masa ini.

Orang tua banyak membuka ruang dialog dengan anak. Misal anda sedang menyaksikan berita tentang korban perkosaan di televisi bersama anak anda yang berumur 7 tahun. Kalau dia diam saja, biarkan saja. Tetapi seringkali anak bertanya.

“Ma, apa itu diperkosa?”

Apakah anda telah bersiap untuk menjawabnya?

Tak perlu grogi, tanyakan balik ke anak untuk mengukur modal pemahamannya.

“Menurutmu apa artinya?”

“Sepertinya dijahati sama laki-laki tadi, tapi diapakan?”

Ini contoh jawaban. Anda juga dapat menyusun jawaban anda sendiri.

“Mama pernah pesan kan, ada bagian tubuh kita yang tidak boleh disentuh sembarang orang. Itu bisa berarti pelecehan, misal dipegang, dimainkan atau disakiti…kakak jangan mau ya disentuh atau diajak laki-laki selain keluarga kita, apalagi jika kakak tidak kenal….”

Adapun jika anak anda berusia 10 tahun ke atas, dan mendengar berita itu diam saja, tidak bertanya kepada anda, maka anda sebaiknya menanyakan.

“Kakak tahu tidak, artinya berita tadi apa?”

Anda jangan sungkan bertanya, karena ini momen yang tepat.

“Tahu bunda…”

“Maksudnya? Jadi diapain itu sampai pelakunya harus dipenjara…?”

“Ya digituin…”

“Oh kakak tahu dari mana?”

Naah anda dapat mengejar sejauh mana, dari mana anak kita memperoleh informasi gambaran perkosaan.

Kalau ia menjawab tidak tahu, maka contoh percakapan sebelumnya dapat disampaikan. Sekedar gambaran umum bahwa ada area tubuh kita yang tak boleh dilihat, diperlihatkan, disentuh, dimainkan atau disakiti oleh orang lain. Apakah orang lain itu laki-laki atau perempuan.

Target akhir masa ini adalah:

  1. Anak memahami hakikat baligh
  2. Anak memahami dan melaksanakan kewajiban syar’i seperti bersuci, sholat, zakat, puasa, menundukkan pandangan dan menutup aurat.
  3. Anak memahami dan mempraktekkan adab-adab Islami dalam pergaulan.

Semoga kita dimudahkan membersamai anak selama masa remaja di dunia modern ini. Sesekali mintalah ijin untuk meneliti isi hp, BB, laptop atau tablet milik anak kita. Sebagai bagian dari tanggung jawab orang tua.