Masih hangat di kepala kita kasus pencabulan yang menimpa bocah 5 tahun di sebuah sekolah bertaraf International di Jakarta. Sekolah yang seharusnya menjadi rumah kedua bagi anak-anak, ternyata menyimpan predator-predator yang siap ‘memangsa’ anak-anak selamanya. Kasus terungkap, lalu tiba-tiba media satu negeri mencuatkan kasus-kasus serupa. Di Banyumas misalnya, Juni lalu polisi berhasil mengungkap kejahatan predator yang telah ‘memangsa’ 5 anak usia belasan. Sambil menyelam minum air, pelaku adalah penjual cilok keliling yang biasa mangkal di sekolah-sekolah dasar maupun menengah, sambil berdagang sambil cari mangsa.

Kini, media sedang asik berkoar soal pilpres dan buntut-buntutnya. Kasus-kasus pencabulan tiba-tiba sepi dari media massa. Jarang ada pemberitaan seolah-olah tidak ada lagi kasus terungkap atau pelaku tertangkap. Sudah bersihkah negeri ini dari para predator itu? Saya yakin seyakin-yakinnya, tidak diberitakan bukan berarti kasusnya sudah tidak ada. Tidak digemborkan di media massa bukan sama dengan predator sudah sama lenyap. Kondisi malah lebih mengkhawatirkan, mereka tidak lagi menjadi sorotan media. Kembali aman bergrilya ‘memangsa’ korban-korbannya.

Dada saya selalu sesak setiap membaca berita soal kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak. Ditambah para pelaku berhasil membuat anak-anak ketagihan untuk mau ‘itu’ lagi saking polosnya. Saking pelaku sukses menyulap dirinya menjadi paman atau bibi baik hati bak cerita dongeng, yang selalu memberi hadiah impian saat orang tua sibuk beraktifitas. Saya gemas, ingin rasanya memukul, mencaci atau apapun untuk membalasnya. Biar tau rasa! Biar tau bagaimana pedihnya hati para orang tua ketika mengetahui anaknya telah dinodai dan dilukai. Biar tau sakitnya memiliki anak yang akan menyimpan trauma sampai dewasa.

Tapi kemudian saya sadar, bahwa kesalahan tidaklah sepenuhnya ada pada pelaku. Seperti kasus Robot Gedek dan Babe yang pernah ditulis mak Jihan Davincka di sini, bahwa kita dihadapkan pada lingkaran setan. Para pelaku mungkin saja sebenarnya adalah korban. Korban predator sebelumnya yang meninggalkan trauma mendalam dan dendam. Bisakah seenaknya kita menyalahkan mereka? tidak. Saya juga merenungi, bahwa jangan-jangan yang mengantar anak-anak mengetuk pintu rumah para predator adalah orang tuanya sendiri. Orang tua yang sibuk beraktifitas dan menitipkan anak-anaknya pada orang lain. Orang tua yang hanya peduli pada akademis, atau ‘yang penting anak saya gak nakal’ tanpa memikirkan ‘bekal’ lain saat anak-anak tak bersama mereka. Ini cuma jangan-jangan lho…. Saya juga tidak mau menyalahkan orang tua. Sama sekali tidak.

Sampai akhirnya saya pada kesimpulan bahwa bisa jadi ternyata saya sendiri lah pelakunya. Bahwa predator-predator itu sebenarnya diciptakan oleh masyarakat sendiri. Masyarakat yang kurang memiliki pengetahuan cukup tentang pendidikan seks untuk anak-anak. Padahal dengan sedikit pengetahuan, anak-anak bisa dicegah dari jebakan predator. Padahal sedikit kepedulian untuk berbagi pengetahuan, bisa menjaga sangat banyak anak-anak dari pelecehan dan kekerasan seksual. Daripada sibuk memberantas predatornya, bukankah lebih mudah untuk membuat baju anti kekerasan seksual untuk anak-anak? Benteng pertahanan agar anak-anak tak perlu menjadi korban. Dan baju sekaligus benteng itu, adalah pengetahuan.

Hari ini, Kumpulan Emak Blogger, beserta 1600 lebih anggotanya, akan bersama-sama bergandengan tangan. Kami akan berdiri di garda depan, bergerak, maju untuk membagikan benteng pertahanan kepada para orang tua yang masih mencintai anaknya dengan sungguh-sungguh. Kami bukan ahlinya, memang. Tapi kami punya sedikit ilmu dari beberapa ibu-ibu yang memang ahli dan berpengalaman di bidang pendidikan seks untuk anak-anak. Sama sekali bukan untuk menggurui, gerakan kami ini hanya sedikit aksi nyata dari sebuah kalimat yang selalu kami bawa kemana-mana “Kami Ada Untuk Berbagi”. Ya, kami akan berbagi pengetahuan. Menyebar, menebar. Sambil merapal doa semoga apa yang kami sebar dapat bermanfaat untuk menjaga anak-anak kami dan ribuan bahkan jutaan anak-anak lain dari predator-predator seks.

KEB Agent Of Change

Tekhnisnya sederhana. Kami akan menyediakan Ebook berisi materi “Pentingnya Ilmu Pengetahuan Dalam Melawan Terjadinya Kekerasan Seksual Terhadap Anak”. Isinya lebih kepada bagaimana menerapkan pendidikan seks untuk anak-anak. Ebook ini kami sediakan gratis untuk para anggota KEB. Dengan misi bahwa setiap anggota yang sudah mengunduh dan membaca, WAJIB menyebarkan isinya kepada minimal dua orang lain. Sulit? Tidak. Kami merancangnya sesederhana mungkin. Para Emak boleh menyebarkan isinya secara keseluruhan atau mencomot sedikit poin-poin penting yang menarik. Sesedikit apapun yang disebar, kami persilakan asal tidak mengubah maksud dan makna isi tulisan tersebut. Para Emak juga boleh menambah materi dari sumber lain atau bahkan dari pengalaman pribadi.

Lewat mana saja. Lewat obrolan ringan saat arisan tetangga, obrolan saat makan siang dengan teman kantor, ditulis dengan bahasa sendiri di blog, lewat broadcast message di aplikasi chat, lewat kulitwit, atau segampang menulis status di facebook. Mudah kan? Hal kecil, sederhana, tapi saya yakin setiap ilmu yang dibagi tidak pernah sia-sia. Maksud baik pasti akan mendapat jalan dan hasil baik.

Kami juga menyediakan beberapa poster dan banner yang bisa dicomot gratis di grup. Para Emak boleh memakai atau menggunakannya dimana saja. Membuat poster sendiri? Boleh! Kami tau KEB menyimpan ratusan emak-emak kreatif yang punya caranya masing-masing untuk bersuara.

Siapapun yang melihat banner, poster, atau hastag #KEBAgentOfChange. Mari.. ikut bergerak. Kita sebarkan pengetahuan tentang pendidikan seks untuk anak-anak. Kita bersama-sama berada di garda depan untuk menutup arena pertarungan. Sebelum anak-anak kita yang harus melawan, mari kita tuntaskan perang!

Salam,

Pungky Prayitno