Ketika mulai menyusui anak dua tahun lalu, saya nggak punya target atau harapan berlebih akan aktivitas yang satu ini. Saya cukup senang kalau nantinya bisa menyusui eksklusif selama 6 bulan, dan syukur-syukur, sembari menurunkan berat badan kembali ke ukuran sebelum hamil, hehehe.

Saat anak berumur satu tahun, saya segera mengenalkannya dengan susu pasteurisasi dan UHT. Harapan saya, untuk siang hari di rumah atau di jalan, ia sudah bisa beralih ke susu sapi, tidak lagi meminta susu ibunya. Untunglah anak saya bisa menerima susu kotak dengan baik, walaupun perutnya ternyata butuh waktu untuk menyesuaikan. Ia kerap buang air besar usai minum susu, terutama di pagi hari. Proses penyesuaian terus berlanjut dan berhasil. Di usia 18 bulan, ia sudah full minum susu dari merk favorit ketika jalan-jalan, dan hanya menyusu menjelang tidur malam.

Wah 6 bulan lagi bisa nih disapih, pikir saya.

Enam bulan berlalu, perkembangan proses penyapihan agaknya jalan di tempat. Ia sulit tidur di malam hari dan akan gelisah kalau tidak menyusu dulu. Tiap hari nggak bosen-bosen kami mengingatkan si bocah bahwa umurnya sudah lewat dua tahun, sudah bukan bayi kecil, dan bisa minum susu dari gelas. Tetapi si anak selalu mengibaskan tangan sambil protes, menolak dibilang sudah besar.

Saya sendiri sudah sangat ikhlas mengakhiri aktivitas menyusui. Cuma memang, saya ingin si anak bisa berhenti secara sukarela, dengan kemauannya, karena ia sudah merasa cukup. Sampai sekarang, saya nggak ingin memaksanya berhenti dengan membalurkan rempah-rempah pahit, misalnya. Saya juga nggak ingin kegiatan menyusu digantikan dengan ngedot susu di botol (yang merupakan suatu kemunduran), atau mengisap jari jempol (yang akan jadi kebiasaan sampai dewasa dan sulit dihentikan). Rupanya, cara ini malah membawa saya menjalani extended breastfeeding, sesuatu yang nggak saya rencanakan.

Satu hal yang saya khawatirkan tentang extended breastfeeding adalah, anak akan menjadi manja dan sulit lepas dari ibunya. Faktanya justru kebalikannya. Menurut buku The Nursing Mother’s Companion, memaksa anak untuk berhenti menyusui sebelum ia benar-benar siap nggak membuatnya lebih percaya diri. Bahkan kata dokter ngetop William Sears, there’s nothing wrong with extended breastfeeding. Kebaikan ASI tetap berlanjut setelah anak berusia 12 bulan dan seterusnya. ASI tetaplah sumber antibodi yang alami, tetap berfungsi menurunkan risiko penyakit bagi sang ibu dan si bayi, serta membuat anak bersikap baik dan percaya diri.

Dari segi agama, sepanjang informasi yang saya dapatkan, extended breastfeeding juga dibolehkan, selama sang ibu dan bayi masih nyaman, nggak dipaksakan, dan kesehatan nggak terganggu.

Mayim Bialik, aktris di serial TV The Big Bang Theory, adalah mungkin contoh selebritis pelaku extended breastfeeding yang paling vokal. Anak pertamanya menyusu sampai usia 26 bulan, sementara anak kedua sudah tiga tahun. Ia secara sadar memilih melakukannya tanpa dorongan untuk berhenti. Ia menyerahkan keputusan menyusu kepada anak-anaknya. Pola makan anak-anaknya memang sedikit ekstrim ya, ia mengklaim anaknya baru makan di umur 12 bulan, dan seterusnya menjadikan ASI suplemen utama, tanpa susu sapi atau cairan tambahan lain selain air mineral. Fotonya menyusui anak tiga tahun di dalam kereta bawah tanah sempat menuai kontroversi. Wah, sejak anak 24 bulan saya nggak pernah lagi menyusui di tempat umum, dengan nursing cover atau di nursery room, apalagi di atas kereta.

Kalau saya ikhlas untuk berhenti menyusui, berarti saya bisa ikhlas juga untuk tetap menyusui on demand. Saya yakin dalam waktu dekat anak saya akan bisa tidur sendiri, perlahan-lahan. Kalau saya nggak ada di malam hari, ia sudah bisa tidur sendiri dengan ayahnya, atau bahkan nenek-kakeknya. Ia bisa tidur setelah kecapekan bermain, di atas carseat, atau sambil nonton kartun. Toh ia hanya minta menyusu saat ia tahu ibunya ada, terjaga, dan sehat.

Saya nggak bisa membayangkan menyusui anak sampai ia umur 3 atau 4 tahun. Aneh rasanya melihat anak sebesar itu masih menyusu. Jadi walau kami menikmati proses menyusui, saya terus menyimpan keyakinan di kepala kalau ini harus berhenti. Saya tetap berusaha menawarkan susu gelas sebelum tidur, mengelus-elus punggungnya, atau menyetel irama pengantar tidur. Terkadang cara-cara tersebut berhasil, kadang nggak. Satu hal yang pasti, saya bersyukur dapat kesempatan memperpanjang waktu menyusui.