Nama Eleanor Catton dan novel The Luminaries-nya mungkin belum dikenal di Indonesia. Tidak banyak yang tahu kalau gadis seumuran saya ini didaulat menjadi pemenang 2013 Man Booker Prize, dan menjadi novelis termuda yang memenangi penghargaan bergengsi ini. Novel keduanya ini juga adalah novel paling tebal yang pernah menang, dengan jumlah halaman sebanyak, tidak tanggung-tanggung: 832!

Karena usia kami kira-kira sebaya, saya membayangkan kalau Ms. Catton adalah teman saya. Pasti dia bakal dianggap aneh karena berambisi menyelesaikan novel 800 halaman yang –entah-siapa-yang-mau-membaca-apalagi-menerbitkan. Dia akan dianggap nggak asik, nggak gaul, karena menolak diajak nongkrong dengan alasan ngendon di perpustakaan, mencari literatur kuno Selandia Baru. Ia mungkin akan dicap “kurang pintar” karena kuliah Creative Writing sementara teman-temannya mengambil kedokteran, teknik, ekonomi, atau hukum. Ketika ia menang Man Booker Prize, kami akan komentar “wah hebat, enak sekali dapat uang banyak”, lalu mikir “kok gue nggak pernah menang apa-apa ya”, sambil tetep doing business as usual, nongkrong sampai pagi, menyambangi restoran paling hits dan update ke sosial media.

Orang-orang yang paling aneh, paling berambisi, paling tidak disukai, adalah orang yang berani menjadi diri sendiri dan biasanya yang paling berhasil. Kadang, lingkungan sosial di sekitar harus dikorbankan demi mencapai sesuatu yang lebih besar.

Saya mengenal teman yang selalu sangat bersemangat di kelas. Ia senang bertanya pada guru/dosen, dan selalu antusias mengumpulkan teman-temannya dalam tugas kelompok. Ia pede menyampaikan ide-idenya yang kadang membuat kami mengernyitkan dahi. Beberapa dari kami pun mulai merasa terganggu dengan perilakunya yang terlalu berambisi. Sekarang, ia menjadi CEO sebuah perusahaan konsultan pemasaran dan sibuk berkeliling Indonesia memberikan pelatihan. Ia bukan bagian dari anak-anak paling gaul di sekolah, tapi ia salah satu yang tersukses.

Saya mengenal seorang fashion blogger yang cukup diakui. Dari luar kelihatannya enak sekali suka dapat barang-barang gratis, diundang ke acara-acara fashion, dan lain-lain. Padahal, dia harus menghadapi cibiran tiap kali datang ke kampus dengan pakaian nyentrik. Dianggap sok gaya, sok keren. Belum lagi menjaga rasa percaya diri tiap berfoto di luar rumah, pura-pura nggak tahu lirikan orang sekitar, karena ia bergaya bak model beneran: pakaian warna-warni, make-up, plus pose-pose centil. Dia punya fans sampai luar negeri, tapi temen-temennya sendiri mencibir.

Saya mengenal seorang aktivis muda yang nggak punya teman di sekolah karena dianggap terlalu sibuk untuk bergaul dengan mereka.

Saya mengenal seorang penulis kritis yang dijauhi teman-temannya, karena suka berdebat di sosial media, dan dianggap sok tahu, sok pintar kalau menulis. Padahal, tulisannya bagus dan rajin menang lomba.

Usaha kita, pekerjaan kita, bisa jadi bukan hal yang populer, bukan hal yang banyak dikerjakan teman-teman kita. Mungkin bukan hal yang terlihat keren di mata mereka. Kita terlihat nggak mengikuti arus, nggak gaul, terlalu berbeda, dan nggak cocok dengan yang lain. Karena menjadi normal sudah terlalu mainstream. Tidak ada yang salah dengan mempunyai standar kesuksesan sendiri, standar kenyamanan dan kebahagiaan sendiri. Apalagi ketika kita sudah tahu jalan mana yang mau diambil, tujuan apa yang mau diraih, dan energi yang harus dikeluarkan. Kalau belum tahu dan masih mencari, nikmatilah prosesnya dan orang-orang yang ditemui sepanjang proses itu.

Tetapi, manusia adalah makhluk sosial. Bahkan wanita yang paling ambisius pun butuh rileks dan istirahat. Kapan terakhir kali buat janji bersama teman yang direalisasikan? Kapan terakhir reuni sekolah? Kapan terakhir kali mengobrol santai dengan mereka? Sesekali menginjak rem untuk memberi perhatian pada teman lama bisa memberikan kita energi baru, sekaligus memperluas relasi. Jangan jadi sombong karena merasa (lebih) sukses, lalu menjauh dari teman-teman. Beri mereka kesempatan untuk mengenal apa yang kita kerjakan, siapa tahu mereka akan gantian buka kesempatan baru untuk kita.

“Two roads diverged in a wood, and I —
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.” (Robert Frost)