Sudah siapkah menjadi remaja? Salah satu survey ibu Elly Risman terhadap anak-anak usia baligh.

Beberapa minggu lalu, saya menghadiri talkshow parenting dengan pembicara ibu Elly Risman. Tema yang dibawakan adalah Peranan Orangtua dalam Pendidikan Seksualitas pada Anak Usia Baligh dan Remaja. Menurut survey yang ibu Elly dan tim lakukan, 57% anak usia baligh mengatakan siap menjadi remaja. Tapi, banyak orang tua yang terdiam ketika ditanya apakah sudah menyiapkan anak-anaknya untuk siap menjadi remaja. Itu artinya si anak siap menjadi remaja karena faktor lingkungan. Bisa jadi, lingkungan tersebut ‘menggambarkan’ remaja itu yang salah.

Sudah siapkah menjadi remaja?

Sudah siapkah menjadi remaja?

Pernahkah kita ditanya oleh anak tentang pertanyaan mengenai seks ataupun seksualitas? Kalau anak bertanya, “Bagaimana adik bisa lahir?”, menurut ibu Elly itu pertanyaan ‘basi’. Mungkin maksud beliau, semua anak kecil umumnya akan bertanya seperti itu kepada orang tuanya. Jawab saja sesuai dengan umurnya. Tapi, coba kita beri anak selembar kertas. Minta anak untuk menulis berbagai pertanyaan tentang dirinya. Kasih waktu sekitar seminggu.

Kalau anak bertanya kenapa payudaraku tambah besar? Kenapa payudara kiriku kayaknya lebih besar dari yang kanan? Kenapa kakiku terlihat seperti panjang sebelah? Kenapa suaraku berubah? Dan lain sebagainya, maka orang tua gak perlu khawatir. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu masih termasuk pertanyaan wajar dari seorang anak.

Tapi kalau misalnya anak sudah bertanya seperti ini, “Bagaimana caranya penis bisa masuk ke vagina?” Apabila anak sudah mulai bertanya hal seperti itu, artinya anak sudah terpapar pornografi. Orang tua harus khawatir. Mulailah mencari penyebab dan solusinya.

Bu Elly bercerita ketika masih tinggal di US, suatu hari putrinya yang masih remaja pulang sekolah dengan wajah yang lesu. Ternyata putrinya sedih karena ada seorang temannya yang mengajaknya berhubungan intim. Ketika ditolak, putrinya ini ‘dituduh’ frigid. Sebagai orang tua, siapa sih yang gak sesak napas mendengar cerita seperti itu? Bu Elly bahkan menangis mendengarnya.

Bersyukur putri bu Elly mampu menolak ajakan tersebut. Tapi kesedihannya itu yang harus ‘diobati’. Berbicara hal-hal seperti ini kepada anak memang harus hati-hati. Jangan mendikte. Orang tua harus bisa menyentuh hatinya.

Menyeramkan memang efek kalau anak sudah terpapar pornografi. Tapi bu Elly beberapa kali mengatakan, percayalah kepada rahmat Allah SWT. Tidak ada yang namanya terlambat. Kalau kita tidak mampu mencegahnya, asalkan kita mau memperbaiki kesalahan, semua bisa jadi baik lagi.

Sudah menjadi resiko orang tua untuk selalu mendapatkan PR tentang anak-anaknya. Sekalipun anak sudah dewasa. Apalagi di zaman sekarang, orang tua dituntut jangan gaptek. Karena teknologi digital tidak hanya mendatangkan manfaat, tapi ancamannya juga dahsyat kalau kita tidak mampu menghalaunya. Jangan pernah berpikir kalau orang tua gaptek, anak juga pasti lebih gaptek. Di zaman digital ini, sangat mungkin anak lebih pintar daripada orang tua.

Yuk! Jangan gaptek. Dan mulai mempersiapkan anak kita supaya siap menjadi remaja dengan cara yang benar 🙂