Buat apa ya membuat blog anak? Saya sudah hampir dua tahun mengelola blog anak yang berisi keseharian anak pertama saya. Sebenarnya, saya gak punya alasan yang penting-penting amat untukย membuat blog anak sejak dia bayi. Tapi, lama-lama saya sangat menikmati menulis di sana. Ternyata seru dan asik! Kok bisa?

blog anak

Berikut beberapa alasan super-subjektif saya.

Pertama, setelah dua tahun berjalan dan anak saya mulai besar, saya bener-bener bersyukur selalu mencatat perkembangannya di blog. Sekarang, saya bisa baca-baca lagi bagaimana perjalanan dia dari nol. Dari baru brojol dan bikin geger rumah sakit karena berat badan lahirnya yang gede buanget, hari-hari dia mulai merangkak lalu jalan, detik-detik dia bisa bicara pertama kali, saat-saat dia mulai bisa makan, sampai sekarang sudah gape ngacir kesana kemari gak kenal capek. Beuh, anak gueh banget tukang ngacir :))

Kedua, perkembangan anak saya yang terarsip rapi, sangat membantu saya sebagai emak pelupa berat. Jadi, kalau ada orang nanya kapan dia pertama begini begitu, atau gimana cara menangani saat dulu dia begitu begini, saya punya kebetan. Muahahahaha

Ketiga, bisa jadi ajang berbagi pengalaman untuk ibu-ibu lain. Anak saya pernah suleten, dan mencari informasi tentang penyakit ini di google agak susah waktu itu. Pengalaman anak saya kena suleten saya tulis dan bahas panjang lebar di blog. Sekarang, tulisan saya itu ada di page one google dengan kata kunci suluten. Lumayan kan jadi sedekah kalau tulisan itu dibaca dan bermanfaat untuk ibu-ibu atau keluarga lain.

Keempat, lumayan, bisa jadi galeri narsis si kecil (dan emaknya). Muehehehe

Tapi, ada juga beberapa hal yang menjadi rambu-rambu saya dalam mengelola blog anak. Supaya tetap aman dan nyaman di dunia maya.

Pertama, saya bercerita keseharian namun gak sekalipun pernah menjelaskan detil dimana saya dan keluarga tinggal. Gak juga pernah saya ceritakan jam berapa anak saya bersama pengasuhnya, atau kapan waktu-waktu saya dan suami keluar rumah meninggalkan anak. Jadi tetap ada remnya. Demi keselamatan si kecil tentunya.

Kedua, saya juga gak pernah menulis detil pengasuhnya. Dimana pengasuhnya tinggal, seperti apa keseharian, atau bahkan siapa nama aslinya. Keselamatan pengasuh anak saya adalah tanggung jawab saya juga, selama dia masih bekerja dengan kami.

Ketiga, untuk sekarang-sekarang ini, saya sedang berusaha mengurangi intensitas mengunggah foto wajah anak ke blog atau sosial media. Kalaupun iya, gak sesering dan sebanyak dulu. Untuk blog, sedang kami (saya dan suami) akali dengan foto dari belakang atau aktifitas tanpa harus menyertakan fotonya dengan wajah jelas. Kalau ini suami saya yang kekeuh. Alasannya, selain karena (lagi-lagi) keselamatan, juga karena khawatir foto wajah anak kami digunakan orang sembarangan untuk keperluan yang kurang sopan. Jadi, foto wajah saya aja deh yang nyampah dimana-mana. Muahahaha

Terakhir, jangan lupa selalu mengarsip tulisan tulisan di blog ke dokumen di komputer. Saya ada niat untuk membukukan blognya saat dia berusia 3 tahun. Dan akan rutin dibukukan beberapa tahun sekali. Gak untuk dijual, buku ini sebagai arsip pribadi saja. Jadi, kalau suatu waktu si blog anak kenapa-kenapa, perjalanan si kecil tetap aman dan bisa dibaca kapan-kapan. Saya jadi kebayang aja, suatu hari nanti, saat anak saya sudah bisa baca, dia bisa tau perjalanan hidupnya sejak bayi merah. Atau kalau dia sudah besar dan buku dari blognya masih utuh, dia akan tau hidupnya sangat berharga untuk kami, orang tuanya ๐Ÿ™‚

Semoga bermanfaat!

Mak Pungky Prayitno