Indonesia, salah satu negara di Asia yang terdiri dari beragam jenis suku. Pun, dengan adat dan kebudayaannya. Namun, Indonesia tetap satu. Satu hati dan satu kesatuan. Walau zaman sudah berubah masih banyak adat dan kebudayaan daerah yang tetap dipertahankan. Salah satunya, cara masyarakat mensyukuri hasil panen seperti Seren Taun.

***

Untuk menysukuri hasil panen di setiap daerah pasti ada. Tentu saja cara melakukannya berbeda pula. Seperti di Halmahera Barat ada Orom Sasadu. Di Kalimantan Timur ada Lom Plai. Di Sulawesi Selatan ada Mappadendang. Masyarakat Dayak ada Naik Dango. Dan, masih banyak lainnya. Di Kuningan sendiri disebut dengan Seren Taun.

Pesta adat Seren Taun rutin dilakukan setiap tahun di tanggal 22 Rayagung kalender Sunda. Diselenggarakan oleh masyarakat Sunda Wiwitan yang berdomisili di Cigugur. Maksud dari upacara adat ini adalah sebagai rasa syukur baik suka maupun duka atas hasil panen selama satu tahun kebelakang dan tahun berikutnya. Karena mayoritas masyarakat Kuningan memang bertani dan bercocok tanam. Pesta adat Seren Taun terbagi menjadi dua acara yaitu acara sakral sebagai hubungan antara manusia dan Tuhan, serta kesenian sebagai penghubung antara sesame masyarakat maupun alam.

Upacaranya sendiri dilaksanakan dari tanggal 18 Rayagung berupa penjemputan padi dan berakhir pada tanggal 22 Rayagung dengan penumbukan Padi. Adapun ritual inti dalam upacara Seren Taun, adalah :

  1. Damar Sewu

Arti dalam bahasa sunda, ‘damar’ adalah lampu (penerangan) dan ‘sewu’ artinya ribu.

Damar Sewu sebagai pembuka acara Seren Taun yaitu dengan menyalakan obor besar di di halaman gedung Paseban. Dilanjut dengan menyalakan obor kecil yang sudah disediakan disepanjang jalan desa Cigugur.

  1. Tari Buyung

Tarian adat Sunda ini sarat akan makna dan tentunya perlu latihan khusus. Karena para penari harus menari sambil membawa buyung di kepalanya. Maknanya sendiri yaitu tercermin dari setiap gerakan. Seperti, membawa buyung di kepala agar tidak jatuh tentunya membutuhkan keseimbangan, bukan? Sama halnya dengan hidup perlu adanya keseimbangan yang selaras. Keseimbangan antara Sang Hyang Widi, manusia dan alam.

Seren Taun

Sumber foto: panoramio.com

  1. Pesta Dadung

Acara sakral satu ini diadakan di Mayasih. Sebuah kawasan gunung batu yang tidak jauh dari gedung Paseban. Pesta ini merupakan sebuah upaya meruwat dan menjaga keseimbangan anatara yang baik dan buruk di alam. Seperti agar hama tidak berpengaruh buruk dalam kehiudpan masyarakat.

Seren Taun

Sumber foto: fotograficirebon

Sebagai penutup acara dengan penumbukan padi. Akan ada acara Seribu Kentongan. Rangkaian acaranya di Bukit Situ Hyang yang diikuti oleh 1000 orang terdiri dari masyarakat dan anak-anak serta para peserta yang mengikuti rangkaian adat tersebut menuju Gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Diawali dengan pukulan induk oleh ketua adat, lalu disusul oleh para peserta. Dan ditutup dengan 10 orang rampak kendang.

Rangkaian acara Seren Taun digelar selama lima hari beruntut. Pada penasaran mggak si kenapa harus bulan Rayagung? Dalam kalender sunda, Rayagung merupakan bulan terakhir sama halnya dengan Desember di kalender Masehi. Karena memang tujuan upacara adat ini sebagai rasa syukur hasil panen selama satu tahun berlalu dan yang akan datang.

Kenapa harus ditanggal 18 sebagai pembuka dan 22 sebagai penutup? 18 dibaca dalapan welas. Di sana terdapat konotasi welas yang bermaksud kasih sayang atau kebesaran Tuhan terhadap hambanya yang telah menganugerahkan kehidupan.

22, jika dipisah gambungan antara 20 dan 2. Padi yang telah ditumbuk 20 kwintal akan dibagikan ke masyarakat. Sisa 2 kwintalnya sebagai benih baru. Jadi, pesta adat ini memang untuk masyarakat. Serta, tahukah Mak? 20 juga merupakan gabungan dari bagian jasmani manusia itu sendiri. 1. Darah, 2. Daging, 3. Bulu, 4. Kuku, 5. Rambut, 6. Kulit, 7. Urat, 8. Otak, 9. Paru-Paru, 10. Hati, 11. Limpa, 12. Maras, 13. Empedu, 14. Tulang, 15. Sumsum, 16. Lemak, 17. Lambung, 18. Usus, 19. Ginjal, 20. Ginjal.

Keduapuluh, bagian tersebut yang beraneka jenis dan fungsinya saling menyatu menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang disebut dengan Raga. Dari sanalah terbentuk jiwa dan nurani. Lalu, 2 menggambarkan siang dan malam. Dengan arti lain adalah baik dan buruk.

Inti dari upacara Seren Taun tidak hanya gelaran pesta adat sebagai rasa syukur saja. Memang ada beberapa makna yang disampaikan. Bahwa kita harus tetap menjaga keseimbangan. Selalu bersyukur. Dan terpenting adalah saling bersatu dalam perbedaan.

Untuk tahun 2018, yang pengin mengikuti rangkaian acaranya datang saja di akhir bulan agustus sekitar tanggal 30. Ekhm, akhir bulan Mak. Masih anget nih uang gaji. Bisa sekalian rekreasi di objek wisata terdekat. Ada terapi ikan Cigugur yang sebelahan dengan Gedung Paseban. Ke atas arah palutungan bisa mampir ke Tenjo Laut, Curug Landung, Curug Putri atau langsung muncak ke Gunung Ciremai.

***

Seren Taun : Pesta Adat Hasil Panen di Kuningan merupakan post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Dian Sastro yang ditulis oleh Erin Friyana.

Erin, pengelola blog www.tomojikan.com

Sumber tulisan : www.Kuningankab.go.id