Beberapa waktu yang lalu, putri sulung saya yang berusia 18 tahun, saat berkendaraan motor, di lampu merah Sewon, Bantul, ditabrak dari belakang oleh mobil Avanza, yang kemudian melarikan diri, tak bertanggungjawab. Ketika kami memeriksakannya ke rumah sakit, beruntung tidak mengalami cedera di dalam, kecuali bagian luar seperti kaki dan bokong yang memar. Dokter lalu memberikan warning ke kami, orang tuanya, untuk memperhatikan tulang belakang Taruli, yang ternyata mengalami Skoliosis, Tulang Belakang Melengkung.

Itu adalah peringatan kedua yang kami terima, karena sebelumnya saat SMP, pernah diperiksa ke dokter untuk sakit yang lain, dan dari hasil rontgen, ditemukan tulang belakang melengkung menyerupai huruf S.

Kala itu, teledor kami, karena anaknya tidak pernah mengeluh, terapi dua kali, lalu lupa untuk dilanjutkan. Akibatnya, sekarang ini Skoliosis, tulang melengkung Taruli sudah lumayan parah. Sekarang ini harus intensif terapi.

Apa Penyebab Skoliosis, Tulang Belakang Melengkung ?

Skoliosis atau kelainan rangka tubuh yang berupa lengkungan pada tulang belakang yang menyerupai huruf C atau S, adalah idiofatik yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya.  Ini sebanyak 75 sampai 85 %.

Sedangkan 15 – 25%, merupakan efek samping akibat mederita kelainan tertentu seperti distrofi otot, sindrom marfan, sindrom down, atau seperti Taruli, akibat cedera yang dialami.

Kalau Taruli mengalami skoliosis karena cedera (pernah jatuh dengan posisi punggung lebih dulu jatuh), teman saya seorang penulis mengalami skoliosis karena kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, yaitu sering duduk lama dengan menyilangkan kaki dan menulis sambil tiduran.

Ternyata, kebiasaan sehari-hari itu, bisa menjadi hal yang buruk memicu kelainan tulang belakang,

Kebiasaan Sehari-hari Pemicu Skoliosis

  1. Duduk menyilangkan kaki (terutama bagi perempuan) dalam waktu lama, membuat tulang panggul berputar dari posisi seharusnya.
  2. Menulis sambil tiduran dalam waktu lama bisa membuat tulang belakang tidak lurus dan berpotensi skoliosis.
  3. Kebiasaan sehari-hari lainnya, yaitu menduduki dompet  (di saku celana belakang) yang sering dilakukan laki-laki, bisa menggeser posisi tulang panggung.
  4. Membawa beban berat di punggung. Misalnya saat menggunakan ransel, jangan dibiasakan pada salah satu pundak, harus keduanya agar seimbang. Berat yang tidak seimbang dapat membuat tulang melengkung ke samping.
  5. Kebiasaan membaca sambil menelungkupkan badan, ternyata bisa menjadi pemicu skoliosis karena tulang belakang dan leher tidak berada di posisi yang seharusnya.

Skoliosis merupakan salah satu dari tiga jenis kelainan tulang belakang yang paling umum. Tulang belakang yang melengkungnya melebihi batas normal (terlihat bengkok) yang seharusnya berbentuk lurus.  Dua jenis kelainan tulang lainnya adalah: 

  • Lordosis, yaitu tulang belakang melengkung ke depan secara berlebihan. Lordosis bisa mempengaruhi punggung bawah dan leher.
  • Kifosis, lengkungan yang terjadi pada punggung, yang melebihi 50 derajat. Orang dengan kifosis, tubuhnya membungkuk. Yang paling sering mengalami kifosis adalah perenpuan lansia dengan gejala osteoporosis. 

Secara umum, skoliosis, tulang belakang melengkung sering ditemukan pada anak-anak dengan usia 10 sampai 15 tahun. Dan, diketahui ketika anak mengalami cedera. Sebagian besar penderita skoliosis ini adalah anak remaja putri (seperti Taruli). Kalau pun ada perempuan dewasa yang mengalami skoliosis, kemungkinan besar baru mengetahui di saat usia bertambah, karena dipicu kebiasaan sehari-hari yang buruk. 

Pada kasus Taruli, kemungkinan terjadi saat aktif di olahraga karate, di saat SD dan SMP. Bisa jadi, dalam setiap pertandingan karate yang diikuti, mengalami beberapa kali jatuh (dengan posisi jatuh terlentang), menjadi pemicu skoliosis, tulang belakang melengkung.

Jika menemukan atau melihat anak perempuan kita memiliki perbedaan mencolok terutama pada punggung dan bahu, sebaiknya segera dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih detail. Jangan berandai-andai, agar bisa cepat tertangani dan diperbaiki keadaan tulang belakangnya.

Beberapa orang terkenal yang menderita skoliosis adalah Putri Eugina dari Inggris. Terlahir dengan tulang punggug berbentuk S, Putri Eugina menjalani operasi di usia 12 tahun dan hidup dengan dua batang titanium di sepanjang tulang punggungnya.

Mantan personel Girl’s Generation dari Korea Selatan,Tiffany Young, juga penderita skoliosis sejak berusia 16 tahun.  Sedangkan aktris Indonesia, Jessica Mila, menderita skoliosis sejak SMP, saat berusia 12 tahun.

Umumnya, penderita skoliosis baru mengetahui mempunyai kelainan pada tulang belakang pada usia pubertas.

Mayoritas mengobati skoliosis tulang belakang melengkung dengan cara terapi seperti yang sekarang dilakukan Taruli (berupa fisioterapi).

Jika lengkungan lebih dari 15 derajat, sekitar 25 sampai 35 derajat, terapi yang dilakukan berupa terapi brace, berupa alat penyanggah tulang yang digunakan sepanjang tubuh bagian panggul hingga ketiak.

Ada juga yang menjalani operasi tulang belakang seperti yang dilakukan Putri Euginia. Operasi merupakan langkah terakhir, setelah pengobatan secara terapi tidak berhasil memperbaiki posisi tulang belakang. Operasi tersebut berupa menyisipkan lempengan atau skrup di tulang belakang untuk memperbaiki postur tubuh.

Operasi mengatasi skoliosis tulang belakang melengkung ini, sebagian besar dilakukan perempuan dewasa yang terlambat mengetahui dirinya penderita kelainan tulang belakang.

Nah, bagi perempuan harus waspada nih jika  bentuk tubuh terutama punggung agak berbeda dari orang lainnya.