Yes, sebentar lagi Penilaian Akhir Semester, alias ujian akhir semester, anak sekolah tiba! Bahkan beberapa sekolah sudah mulai mengadakannya di akhir bulan November ini.

Biarpun sudah rajin belajar dan rajin mengerjakan PR, anak-anak kadang tetap saja merasa cemas saat harus menghadapi Penilaian Akhir Semester ini ya, Mak. Apalagi kalau sudah menjelang Ulangan Kenaikan Kelas nanti. Bisa-bisa si kecil makin stres ya.

“Tiba-tiba blank aja gitu, begitu sampai di kelas dan disodorin soal.”

Mungkin begitu jawabannya, ketika ditanya.

Konon katanya, itu adalah yang namanya test anxiety, kecemasan yang kadang dialami oleh anak-anak ketika mengikuti ujian. Biasanya kecemasan ini muncul akibat tekanan, agar jangan sampai gagal dan bisa dapat nilai bagus.

Hayo, dari manakah anak mendapatkan tekanan tersebut? Jangan bilang kalau ia mendapatkan tuntutan itu dari Emak ya.

Ini sebenarnya sih normal ya, tapi pada beberapa anak, kecemasan ini akan dirasakan semakin intens dan mengganggu. Bahkan tubuh fisiknya pun jadi terpengaruh, Mak, dan kemudian muncullah gejala-gejala seperti jantung berdegup kencang, napas memburu, keringat dingin menetes, tangan gemetar, dan perut mulas, sesaat sebelum ujian dilaksanakan.

Duh, bayangin, Mak, gimana rasanya? Sudah harus dapat nilai bagus, masih harus merasakan yang kayak gitu. Kasihan banget kan, si kecil? Hiks.

So, dari beberapa sumber, ini dia tips untuk mendampingi si kecil menghadapi ujian akhir semester atau Penilaian Akhir Semester di sekolah tanpa harus menuntut yang berlebih padanya hingga berakibat timbul kecemasan.

 

4 Tip Mendampingi Anak Mempersiapkan Diri untuk Penilaian Akhir Semester

Penilaian Akhir Semester Tiba! Yuk, Dampingi Anak Belajar!

1. Mulailah dari catatan dan rangkuman yang baik

Mencatat adalah salah satu cara untuk mengingat apa pun yang sudah diajarkan atau dibaca oleh si kecil.

Merangkum akan membuat materi pelajaran yang harus ia pelajari jadi lebih ringkas. Catatan yang rapi dan sistematis akan membuat acara belajar lebih ringan.

Sesuaikan dengan gaya belajar anak ya, Mak. Kalau si kecil adalah tipe visual dan kinestetis, maka mungkin dengan bantuan highlighter (ia meng-highlight bagian yang penting) akan mempermudahnya belajar. Jika si kecil bergaya belajar auditori, maka mungkin Emak bisa membantunya dengan membuat rekaman-rekaman materi di smartphone.

 

2. Jangan belajar dadakan

Belajar dengan lebih rutin akan lebih baik hasilnya dibandingkan sistem belajar SKS, atau sistem kebut semalam. Aih, itu mah kita pas mahasiswa dulu ya. Hahaha.

Dengan belajar rutin, maka anak akan menguasai materi pelajaran dengan lebih baik sehingga percaya dirinya saat ujian Penilaian Akhir Semester tiba nanti juga akan lebih besar.

 

Sekolah Favorit

Susana Belajar di Sekolah Negeri

3. Tidak memasang target terlalu tinggi

Setiap anak berbeda tingkat penyerapan materinya. Ini harus disadari lebih dulu oleh Emak jika ingin si kecil tak terbebani oleh tuntutan nilai harus selalu bagus. Pun demikian juga, setiap anak juga berbeda-beda minatnya.

Prinsipnya, jangan mengajarkan ikan untuk memanjat pohon. Pertimbangkan, mungkin akan lebih baik jika Emak menggenjot mata pelajaran yang paling kuat dikuasai oleh si kecil, ketimbang stres belajar pelajaran yang berpotensi mendapat nilai jelek karena nggak diminatinya. Soalnya percuma juga sih, Mak. Hehehe. Sama-sama stres, mendingan pertajam kekuatannya saja.

Mungkin ada Emak yang berbeda pandangan sih. And that is completely fine! Bukankah metode parenting masing-masing orang juga berbeda?

Yang penting, hargai saja setiap usaha si kecil. Bagaimanapun hasilnya, ia sudah berusaha maksimal lo.

 

4. Pelajari beberapa cara untuk menenangkan diri

Ada beberapa cara untuk menenangkan diri saat kecemasan melanda yang bisa dipelajari oleh si kecil saat hendak menghadapi Penilaian Akhir Semester. Misalkan, Emak ajak si kecil untuk menciptakan mantra-mantra yang harus dilafalkannya saat akan menghadapi ulangan.

Misalnya, “Aku sudah belajar. Aku pasti bisa.”

Kemudian ajarkan si kecil untuk menarik napas dan mengembuskannya beberapa kali dalam-dalam. Dengan begini, detak jantungnya tak berdegup cepat lagi sehingga ia pun akan lebih tenang.

 

Nah, bagaimana jika kecemasan ini berlanjut, bahkan hingga terjadi kapan saja?

Sebaiknya segera ajak si kecil untuk berkonsultasi dengan psikolog atau Emak juga bisa mendiskusikannya dengan guru pembimbing si kecil di sekolah.

Semoga bermanfaat ya.