Suka sebal nggak sih dengan sampah yang ada di sekitar kita yang rasanya tiap hari makin bertambah banyak saja, padahal sudah berusaha dikurangi? Sesebal apa pun yang namanya sampah, tidak mungkin hilang sama sekali, tinggal bagaimana memanfaatkannya, mendaur dan mengubahnya menjadi barang bernilai ekonomi. Memang bisa? Bisalah, yang penting itu kita menerapkan konsep ekonomi sirkular di keseharian demi kelestarian Lingkungan. Ekonomi sirkular itu apa? Apa hubungannya dengan sampah. Simak post ini ya.

Adalah Siam Cement Group (SCG, salah satu grup konglomrasi di ASEAN dengan tiga bisnis utama: Cement-Building Materials, Chemiclas & Packaging) yang menerapkan ekonomi sirkular dalam praktik sektor bisnis dan mengajak semua yang berkepentingan untuk berbuat nyata mewujudkan kehidupan berkelanjutan, dengan menyelenggarakan SCG Suistanable Development (SD) Symposium Indonesia 2020 yang bertema Circular Economu: Collaboration for Action.

Menerapkan Ekonomi Sirkular untuk Mencintai Bumi

Dalam SCG SD Symposium Indonesia 2020 yang menghadirkan banyak narasumber yang berkompeten, seperti sessi SCG Welcoming Circular :

  • Pathama Sirikul – Presiden Direktur PT SCG Indonesia
  • Dewi Kusmianti – Founder Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling) | Pelatih Project Niracle
  • Asyah Cholil Asy’ri – Niracle Team – penerima beasiswa SCG Sharing the Dream
  • Delicia Aprianne – Environmental Consultant PT SCG Indonesia

 

Yuk Cintai Bumi dengan Konsep Ekonomi Sirkular

Narasumber Panel Discussion (yang dimoderatori Desi Anwar);

  • Safri Burhanuddin – Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Manusia, Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Budaya Maritim, Kemenko Bidang Kemaritiman & Investasi RI
  • Pathama Sirikul – President Director of PT SCG Indonesia
  • Vichan Tangkengsirisin – President Director of Dow Indonesia
  • Akbar Ghifari – Mahasiswa ITB – Peraih SCG Sharing The Dream Scholarship 2018

Juga 4 narasumber global di Inspiration Talk, seperti:

  • Dr. Tine Rorvik – Global Director Circular Economy SCG
  • Antoine Grange – CEO Recycling and Recovery, SUEZ Asia
  • Rutger De Witt Wijnen – General Counsel of The Ocean Clean-Up
  • Lincoln Rajali Sihotang – Expansion Manager, Project STOP and The Bali Partnership

 

Jika kita ingin hidup berkelanjutan, jalani hidup berbasis konsep ekonomi sirkular dengan tip berikut ini:

  1. Mengurangi sampah
    •  Membeli bahan makanan sesuai kebutuhan
    • Memasak secukupnya
    • Menghabiskan makanan jangan sisakan
    • Mengganti bahan sekali buang dengan yang bisa dipakai ulang
    • Membeli produk dalam kemasan isi ulang
  1. Memilah dan Mengolah Sampah
    •  Pilah sampah ke dalam tiga kategori:
      1. Organik : Sampah yang berasal dari sisa mahkluk hidup yang mudah terurai secara alami tanpa proses campur tangan manusia untuk dapat terurai, misalnya: sisa makanan, kulit ikan, dedaunanan. Sampah ini bisa diolah jadi kompos.
      2. Anorganik: Bahan-bahan non hayati baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi pengelolahan bahan tambang atau sumber daya alam dan tidak dapat diuraikan oleh alam, contohnya: botol plastik, kertas, kaleng. Pisahkan jika ada yang bisa didaur ulang atau digunakan kembali, bisa juga disetorkan ke bank sampah yang ada atau diberikan ke pemulung.
      3. Bahan Berbahaya: Pisahkan sampah bahan berbahaya (baterai, barang elektronik rusak, dan bahan kimia lainnya) untuk dibuang sesuai dengan instruksinya agar tidak merusak lingkungan
  1. Budayakan Gaya Hidup Berkonsep Ekonomi Sirkular
    • Refuse: menolak penggunaan plastik secara berlebihan dan produk yang tidak ramah lingkungan
    • Reduce: beli sesuai kebutuhan bukan yang keinginan
    • Reuse: gunakan lagi barang untuk keperluan lain
    • Recycle: daur ulang sampah sehingga bermanfaat lagi atau serahkan ke bank sampah atau pemulung
    • Replace: mengganti penggunaan produk yang lebih ramah lingkungan

 

Yuk Cintai Bumi

 

Mudah kan konsep berbasis ekonomi sirkular ini? Pasti bisalah kita terapkan dalam keseharian.

Hal ini sudah dibuktikan lho oleh Dewi Kusmianti, founder Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling) sehari-hari bergelut dengan sampah lalu mendaur ulangnya menjadi barang bermanfaat. Begitu pun dengan Nike Prima dan Miranti (Founder Living Loving) yang memanfaatkan bahan limbah pinggiran kaos, benang wol, gantungan kunci dan manik-manik menjadi tassel.

Menarik ya.

SCG SD Symposium yang telah dilaksanakan selama 10 tahun berturut-turut di Thailand, bertujuan untuk memperkuat komitmen sekaligus menghadirkan pengalaman pembelajaran kolaboratif, di mana para pembuat keputusan dapat memperoleh pengetahuan baru dan jaringan kolaborasi sambil membagikan pengalamannya seputar praktek ekonomi sirkular. yang dimulai dari sekarang, oleh kita dan akan lebih baik lagi berkolaborasi dengan semua pihak yang berkepentingan.