7 Fakta Tentang Cinta yang Mesti Dipahami dan Tidak Boleh Diabaikan

By Ranny Afandi on November 03, 2021

Fakta tentang cinta itu seperti apa sih?

Beberapa pekan lalu di ruang chat, tiba-tiba sahabat saya bertanya, “Menurut kamu apa itu cinta?”

Ditanya seperti itu saya pun terdiam, berpikir. Hmm apa ya? Agak lama saya menjawab pertanyaannya.

Akhirnya saya pun menjawab, “Kalau kata Khalil Gibran, cinta sih hanya cukup untuk cinta.”

Jawaban yang tidak memuaskan memang, tapi bukan begitu ya? Hehe …

Cinta adalah perasaan yang sulit untuk ditebak. Kadang membuat kita seperti mendapatkan suntikan booster, bikin semangat melakukan apapun. Tapi di lain hari, perihnya cinta bikin semangat hidup merosot

Bisa dikatakan, cinta itu bisa membawa bahagia sekaligus luka, bener nggak? Fakta tentang cinta memang tidak seindah cerita di drama Korea.

Ketika kita mengira tahu banyak tentang cinta, ada saja fakta-fakta yang masih sering membuat kita tak percaya.

Inilah 7 fakta tentang cinta yang mesti dipahami dan tidak boleh diabaikan

  1. Tak ada kisah cinta yang sempurna

fakta tentang cinta

Ilustrasi fakta tentang cinta

Pendek kata, Emak mungkin nggak akan pernah bertemu sosok pasangan yang sempurna. Namun, justru ketidaksempurnaan inilah yang menjadikan sebuah kisah cinta sempurna.

Setiap individu datang dengan keunikannya masing-masing. Dalam interaksi, berbagai perbedaan ini rentan menimbulkan gesekan dan konflik.

Konflik inilah yang menjadi penanda bagi sebuah hubungan harmonis. Artinya, kedua belah pihak peduli terhadap segala perbedaan yang menyebabkan konflik dan mengupayakan jalan keluar. Apakah itu melalui komunikasi, saling menghargai dan membuat rules sebagai batasan juga dilakukan.

Masih ingin berlanjut? Kunci keberhasilan terletak pada seberapa kuat komitmen dan komunikasi.

  1. Cinta tanpa pengorbanan? Omong kosong!

Pengorbanan adalah ketika Emak mengalah untuk mendahulukan suami, anak atau hubungan itu sendiri dan dilakukan secara timbal balik.

Bentuk pengorbanan itu bisa jadi berupa uang, curahan perhatian ekstra atau berkurangnya frekuensi waktu Emak bersama teman karena suami tengah butuh perhatian.

Namun, selalu me-nomorsekian-kan diri sendiri tanpa memberi kesempatan diri untuk berkembang bukan bentuk pengorbanan yang baik. Karena, justru inilah yang membuat kesehatan mental terganggu dan akan berdampak ke banyak hal.

Pengorbanan yang benar justru memberikan ruang bagi pasangan untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

  1. Cinta butuh ‘petualangan’ yang menantang

fakta tentang cinta1

Kehadiran orang ketiga tak termasuk dalam bentuk petualangan menegangkan yang dicari untuk meningkatkan kualitas hubungan. Itu hanya sekedar alasan saja! Huh!

Namun, benar bahwa cinta bukan satu-satunya yang bisa mempertahankan sebuah hubungan. Emak dan suami perlu terlibat dalam petualangan menantang untuk bisa menghadirkan dopamin atau hormon bahagia yang akan membuat api cinta terus menyala.

Nggak perlu seekstrem bertualang sebagai turis backpacker di negara asing yang belum Emak datangi. Sebab, petualangan itu sebenarnya bisa ditemukan dalam keseharian, yaitu ketika Emak dan suami berusaha memenuhi tantangan-tantangan untuk mencapai tujuan hidup bersama.

  1. Salah menerjemahkan nafsu sebagai cinta

Bayangan kekasih mengambil porsi besar dalam jatah kehidupan Emak. Pendek kata, nggak ada waktu yang terlewat tanpa memikirkannya. Ketika sedang bersama, rasanya tak ingin lepas dari dekapan suami.

Sulit memang untuk membedakan apakah cinta dengan nafsu yang baranya bisa segera padam.

Ada nafsu atau seks dalam cinta. Tapi, fakta ini tidak berlaku sebaliknya. Sebab, nafsu hanya bersifat biologis, sementara cinta bersifat emosional.

Ada tes sederhana yang bisa dipakai untuk memastikan apakah gelora asmara yang Emak rasakan itu benar cinta atau nafsu.

Apabila Emak dan suami hanya memiliki sedikit kesamaan minat dan nggak ada lagi hal lain yang mengikat selain ketertarikan fisik, maka bisa jadi apa yang Mama rasakan hanya dalam tataran nafsu.

  1. Pria mencari perempuan yang seperti ibunya

Hal ini nggak luput dari kenangan masa kecil para pria terhadap ungkapan kasih sayang yang diberikan ibu mereka. Perlakuan sang ibu inilah yang kemudian dihayati dan direspons sebagai bentuk cinta oleh para pria.

“Lebih mudah bagi para pria ini untuk jatuh cinta dengan wanita yang dalam bertindak dan bersikap mendekati gambaran sang ibu,” ungkap psikolog Rosalinda Verauli.

Ini hanya merupakan kecenderungan yang tidak membawa efek negatif.

Berbeda dengan konsep ‘anak mama’, pria ‘anak mama’ di mana memiliki ketergantungan terhadap ibunya. Dalam hal pengambilan keputusan, misalnya, tidak ada satu keputusan pun yang dibuat tanpa meminta petunjuk atau pertimbangan dari ibunya.

  1. Jauh di mata, jauh di hati

fakta tentang cinta

Emak tentu pernah mendengar ungkapan, “Ketidahkadiran membuat hati lebih dekat.”

Sayangnya, ungkapan ini nggak cukup di dunia nyata. Cinta butuh diekspresikan dalam tindakan nyata dan cinta bisa bertahan karena dipelihara.

Caranya? Dengan meluangkan waktu bersama. Ada kebersamaan. Dan kebersamaan inilah yang membuat pasangan dekat satu sama lain.

Hal ini berlaku juga dong untuk Emak yang menjalani long distance marriage (LDM). Nggak masalah dalam hal itu, hanya saja komunikasi harus tetap dibangun.

Toh sekarang teknologi sudah canggih. Ada skype, video call via WhatsApp. Dan rencakanlah pertemuan di libur akhir pekan atau ambil cuti.

  1. Hanya karena suami nggak mencintai dengan cara yang Emak inginkan, nggak berarti suami tidak mencintai sepenuhnya

Penghayatan akan cinta itu subyektif.

Cara Emak menghayati cinta sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu termasuk pengalaman masa kecil bersama orang tua. Sehingga, ada pasangan yang mengekspresikan cintanya dengan bekerja mati-matian sebagai penafkah.

Tapi, bagi beberapa orang lain, cinta adalah ketika kita mengatakan I love you, saat saling berpelukan di kamar atau mendampingi suami yang tengah sakit.

Perbedaan penghayatan tentang cinta ini bukan sesuatu yang baku atau tidak bisa dikompromikan di hubungan suami istri.

Cara yang bisa dilakukan adalah dengan saling mengkomunikasikan apa yang menjadi harapan bagi masing-masing pasangan terhadap sebuah hubungan. Sebab, hanya dengan cara inilah Emak dan suami bisa saling berkompromi, bertemu di tengah.

Contohnya nih, Emak suka kencan di luar, sementara suami suka di rumah saja. Maka, Emak bisa mengaturnya dengan ide kencan hemat secara bergilir setiap minggu untuk memenuhi harapan masing-masing. Dengan demikian kedua belah pihak merasa terpenuhi kebutuhannya.

See, fakta tentang cinta memang tidaklah semanis gulali. Akan ada banyak proses yang mesti dilalui untuk bisa mempertahankan dan membuatnya terus menyala dalam hubungan.

Kata orang ketika masuk dunia pernikahan cinta itu akan luruh. Hmm bisa jadi sih. Ini kembali lagi ke Emak bagaimana menyikapinya karena terkadang kondisi yang dialami akan membuat kita masih percaya dengan cinta atau tidak.

Gimana Emak, apakah Emak setuju cinta harus terus dijaga atau tidak masalah cinta itu hilang?

    Leave your comment :

  • Name:
  • Email:
  • URL:
  • Comment: