Perlu Resign Nggak ya? Kerja kok Nggak Pernah Happy?

By Carolina Ratri on August 15, 2022

Kantor sudah terasa tak menyenangkan lagi, Mak? Bikin pikiran sering berkelana jauh ke mana-mana, jauh … jauh dari kantor tempat seharusnya kita berada. Lalu tebersit jawaban dari semua keresahan ini adlaah resign.

Tapi oh tapi … Benarkah resign jadi jawaban yang paling tepat? Benarkah dengan resign, segala kerumitan yang muncul akhir-akhir ini akan terurai? Atau, malah justru semakin rumit, karena setelah resign, kita jadi malah kehilangan penghasilan dan tak bisa segera mendapat gantinya?

Nah, makin galau deh.

So, buat bantu Emaks—karena saya juga pernah dalam posisi ini sebelumnya (eh, kayaknya setiap kali kerja di perusahaan, setidaknya satu kali saya akan ada di fase ini)—saya pun pengin bantu. Berikut ada beberapa pertanyaan yang bisa Emak coba jawab, untuk mempertimbangkan apakah resign memang diperlukan, ataukah Emak hanya sekadar lelah saja.

4 Cara Meningkatkan Engagement Blog

Kuis Perlu Resign Enggak ya?

1. Kalau ketemu atasan di kantor, Emak akan:

a. Pecut diri sendiri, dan bilang, “Kerja! Kerja! Harus terlihat sibuk!”

b. Loh, iya. Kayaknya beliau belum kasih keputusan soal proposal kemarin deh. Habis ini, perlu direminder lagi nih.

c. Pahit! Pahit! Pahit!

2. Coba cek meja kerja Emak, apa saja yang ada di atasnya selain laptop/PC?

a. Cermin, alat makeup, foto-foto Emak bareng teman-teman kerja, tisu, tumbler yang selalu diisi minuman favorit.

b. Cuma kertas, kertas, dan kertas kerjaan! Nggak ada yang lain. Kesel bats!

c. Kertas, dokumen, post-it, dan sebangsanya. Kayaknya kalau diberesin, bakalan asyik juga sih.

3. Coba pikirkan baik-baik, apa sih yang membuat Emak bertahan kerja sampai sekarang?

a. Kerjaan ini sebenarnya saya suka banget, cuma kadang saya butuh bernapas sedikit.

b. Teman-teman kantornya seru banget!

c. Uang. Uang. Uang!

4. Keluhan mana dari yang berikut ini yang paling mewakili perasaan Emak?

a. Kenapa sih kudu ke kantor? Kenapa sih kudu kerja? Kenapa kantornya jauh banget? Kenapa pakai macet? Kenapa?

b. Kenapa sih telat terus? Kenapa saya semalem merasa harus menyelesaikan drakor kesayangan itu?

c. Kenapa jam masuk harus jam 8? Kan, saya jadi enggak ada waktu buat makeup lebih lama? Rambut pun belum dicatok.

5. Kalau sekarang Emak jadi bahan perbincangan orang kantor, maka itu pasti soal …

a. Wajah yang semakin kusut. Kata mereka, saya butuh istirahat.

b. Saya yang terlalu banyak main media sosial? Mereka pasti sudah melihat berbagai update saya di TikTok, Instagram, dan status WhatsApp saya deh.

c. Enggak tahu. Saya sulit buat fit in dengan teman-teman kantor.

6. Kalau lagi ngedate dengan suami atau pasangan, apakah Emak juga ngomongin kerjaan?

a. Iya, karena cuma dia yang mengerti betapa kusutnya kerjaan di kantor

b. Enggak, bikin bad mood aja!

c. Enggak, kerjaan saya biar jadi urusan saya. Biar kerjaan dia juga jadi urusannya.

7. Kalau ada yang menawarkan pekerjaan baru, kira-kira gimana, Mak?

a. Wah, pasti akan langsung saya ambil! Mungkin ini jawaban dari doa-doa selama ini loh.

b. Nggak ah. Malas banget buat beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru lagi.

c. Kerjanya apa? Apa perusahaannya bagus? Gimana jenjang karier di sana? Apakah saya bisa mendapatkan benefit yang lebih banyak?

8. Bagaimana Emak memandang bos di kantor? Apakah Emak ingin menjadi seperti dia?

a. Oh yes. Suatu hari, saya akan mengalahkannya!

b. Jadi orang kayak gitu? Hih, no thanks!

c. Nggak ah! Pusing jadi bos tuh.

9. Kemarahan dan kekecewaan pekerjaan yang terbesar seperti apa sih yang sedang dirasakan saat ini?

a. Harusnya saya sudah naik gaji!

b. Well, semua orang punya kelemahan kan? Nggak ada orang yang sempurna. Begitu juga saya.

c. Saya benci dengan semua orang yang bekerja di kantor!

10. Jatah cuti masih berapa, Mak?

a. Wah, ternyata sudah habis! Karena kalau long weekend selalu diperpanjang.

b. Ini tahun kesekian jatah cuti hangus karena enggak terpakai.

c. Kurang dari 5 hari nih ☹

Perlu Resign Nggak ya? Kerja kok Nggak Pernah Happy?

Skor Kuis

Jumlahkah skor dari masing-masing jawaban, dan jumlahkan hasil semuanya.

  a b c
1 0 5 10
2 0 10 5
3 5 0 10
4 10 5 9
5 5 0 10
6 10 0 5
7 10 0 5
8 5 10 0
9 5 0 10
10 0 5 10

 

Hasil dari jawaban:

  • 0 – 40: Faktanya, sebenarnya bukan pekerjaan yang menjadi masalah utama, tetapi ada pada diri Emak. Bisa dikatakan Emak sekarang berada di zona terlalu nyaman sehingga membuat Emak terlalu cepat puas. Jangan lupa, Mak, bahwa pekerjaan dan tantangan ada agar kita bisa “naik kelas”—bisa berkembang sesuai dengan perkembangan yang terjadi di sekitar kita. Magernya kita ini terbaca oleh rekan-rekan sekerja loh, bahkan bisa jadi bos juga sudah tahu. Itulah mengapa suasana kantor jadi enggak terlalu menyenangkan dan kondusif buat Emak. Yuk, coba semangat dan perbaiki kinerja Emak di kantor. Tunjukkan bahwa Emak adalah seorang pekerja yang enthusiastic dan penuh inisiatif!
  • 41 – 80: Mak, Emak hanya butuh liburan. Apa yang Emak lakukan setiap hari—bangun, kerja, sampai di kantor ketemu masalah sedikit langsung bad mood—membuat Emak tertekan. Sebenarnya Emak enjoy dengan pekerjaan, akrab dan sayang dengan teman-teman. Tapi, kalau memang akhir-akhir ini suasana jadi tak menyenangkan, itu karena Emak butuh istirahat. Segera manfaatkan cuti yang tersisa, jangan sampai hangus. Jangan lupa matikan HP saat liburan ya!
  • 81 – 100: Setiap bangun pagi dan memikirkan harus berangkat ke kantor saja sudah menyedot energi sebegitu banyak layaknya dementor. Bahkan Emak sudah enggak peduli lagi dengan teman-teman sekantor. Emak sudah enggak percaya lagi pada mereka. Lebih parah lagi kalau Emak sudah tak peduli juga dengan kinerja diri sendiri dalam menyelesaikan tugas. Nggak peduli juga terlihat buruk di depan bos. So, ini waktunya untuk segera resign

Nah, Mak, semoga kuis singkat yang sederhana ini bisa bantu untuk memutuskan apakah memang perlu resign dari pekerjaan yang sekarang dilakukan, ataukah Emak hanya butuh istirahat sejenak karena jenuh.

Semoga setelah ini, keputusan bisa diambil dengan tepat ya. Jangan lupa untuk mengelola emosi saat sedang mempertimbangkan, agar keputusan tak didasarkan pada emosi sesaat saja.

Semoga ke depannya lebih baik ya, Mak!

    Leave your comment :

  • Name:
  • Email:
  • URL:
  • Comment: