ditulis oleh Diah Alfa Saadah – www.diahalsa.com

**

Apa hal yang ditakutkan oleh perempuan? Putus cinta? Ditinggal pacar? Diselingkuhin pasangan? Hmm, kayaknya hal-hal itu sudah biasa yah? Iyah, biasa banget buat yang sudah punya pasangan. Itu hal yang sudah lumrah, lah kan setiap pertemuan pasti ada perpisahan kan? Itu sudah kodrat alam #eehh

Kalo ada jawaban lain untuk pertanyaan itu, mungkin salah satu ketakutan perempuan adalah timbangan! Loh, kenapa? Iyah, karena jarum timbangan yang bergeser ke kanan selalu berhasil membuat perempuan menjerit histeris. Terdengar lebay yah? Tapi seperti itulah yang banyak terjadi, apalagi bila si perempuan sudah menjalani diet, olahraga teratur, atur pola makan, dsbnya, dkknya, dllnya tapi jarum timbangannya terus saja melesat ke kanan. Pusing pala Barbie deh, heheheh 😂

Tak cukup sampai di situ, permasalahan timbangan ini pun akan berlanjut bila seorang perempuan berubah status dari single menjadi seorang Ibu. Masalah baru akan muncul, dimulai saat hamil hingga melahirkan. Berat badan yang bertambah selama masa kehamilan biasanya masih akan tersisa pada tubuh seorang perempuan pasca melahirkan.

Walau ada beberapa “perempuan beruntung” yang berat badannya akan segera susut sesaat setelah melahirkan, tapi tak sedikit perempuan yang susah mengembalikan berat badan idealnya seperti sebelum hamil dan melahirkan. Jadilah ada perempuan yang berusaha melakukan diet untuk mengembalikan angka idealnya jika bertemu sang timbangan.

Hmm, dasar perempuan yaa. Adaa saja yang menjadi beban pikiran, hihihi. Masalah timbangan ini seolah tak pernah ada habisnya deh. Seorang Ibu akan merasa baper jika berat badan anaknya tak juga bertambah dari masa ke masa. Umur anak sudah sekian bulan, tapi ketika ditimbang berat badan si buah hati yang tertera di timbangan tidak sesuai harapan. Maka jadilah si ibu itu akan kepikiran, terlebih bila banyak nada-nada sumbang di luar sana yang membandingkan berat badan si buah hati tercinta dengan anak-anak lainnya, semakin baper dan uring-uringan-lah si ibu. Hiks, deramah perempuan seolah tak ada habisnya -____-

Jujur saja, kalau saya pribadi sih tidak terlalu mempermasalahkan berat badan, dari dulu juga berat badan saya berkisar di angka 40 – 50kg dengan tinggi badan kurang dari 155cm, heheheh. Saat hamil saja berat badan meningkat menjadi 60-an kg, tapi saya santai-santai saja tuh. Yang bikin saya baper justru masalah berat badan anak saya nih. Walaupun saya sudah berusaha membujuknya agar mau makan, tapi nih bocah masih juga malas makan. Mau diberi vitamin juga dia ogah banget menyentuhnya. Ya jadilah yang dulu saat bayi 6 bulan ke bawah dia pernah chubby, sekarang imut banget, huuft. Tapi sekarang saya tak mempermasalahkan itu lagi, bagi saya, walau pipinya tak lagi chubby seperti saat bayi, asalkan ia sehat saya sudah bersyukur banget. Sehat terus yaa Nak 😚

Nah, Emaks adakah juga yang punya masalah sensitif dengan satu benda yang bernama timbangan itu? Emaks termasuk kategori yang santai saja saat angka timbangan terus melesat ke kanan, atau malah sebaliknya akan jadi uring-uringan ketika gagal mendapatkan berat ideal? Share yuk 😉