Penulis: Hida NS

Supermarket penuh sesak orang belanja. Hari ini, hari ketiga puasa. Sekumpulan orang berdiri, membuka tutup pintu lemari pendingin tempat kolang-kaling, jelly, cincau, dawet dan aneka bahan es campur memamerkan kegenitan warna-warninya. Entah memang sedang tergiur pada kesegaran yang ditawarkan, atau cuma ingin merasakan hembusan dingin uap bunga salju lemari pendingin.

Beberapa sibuk memilih buah-buahan. Anggur merah dan hijau, Pepaya Hawai, Pear Xiang Lie, pear Ya Lie, Apple Washington, Jeruk Naville.

Buah-buahan impor memang menawan mata. Warnanya yang segar, harganya yang murah, berlabel kiriman dari luar negeri pula.
Sayangnya sedikitpun kami tidak tertarik untuk membelinya. Entah karena pengalaman traumatik, sisa parsel setahun lewat  yang tersisa dan terselip  di ujung lemari es tidak membusuk . Atau memang,  buah-buah itu tidak sesegar buah lokal kegemaran keluarga kami. Blewah, semangka, sirsak, jambu merah, nanas, manggis, srikaya dan pilihan-pilihan lainnya. Memang nampak tidak secantik buah-buah yang sudah naik pesawat belasan jam. Tapi dijamin lebih sehat.

Bingung memilih buah apa yang paling pas dengan suasana hati? Pilih Rujak.

Pesan yang super pedas bila hati sedang gundah gulana, resah berkepanjangan. Keringat yang keluar akan mengurangi beban hati berkepanjangan.

Minta tambah es batu atau es puter kelapa muda/kopyor, jika gerah yang melanda.

Chat via internet sedang tidak menarik minat, kirim mereka undangan kopi darat. Bukan untuk ngopi di cafe dingin kurang oksigen. Tapi gelar selembar tikar di taman kota, bawa rujak aneka buah dan nasi bakar sambal terasi. Insya Allah, damai di hati damai di bumi.

Rujak adalah kearifan lokal. Tempat kita belajar menghargai si Asam, si Manis, si Pedas, si Amis, si Gurih, si Asin , si Tawar dan lainnya. Seperti negara kita yang penuh warna…..