Suami kerja enam hari satu minggu, pergi pagi pulang hampir tengah malam. Saat berangkat, si bayi sering belum terbangun, dan saat suami pulang si bayi seringnya pula sudah terlelap.

Senin-Sabtu, si bayi terbiasa dengan aturan ibu-nya. Ini begini supaya ini, itu begitu supaya itu. Makan ini dan itu, jam sekian harus begini dan jam sekian harus begitu.

Minggu datang, dan semua berantakan.

Si Bapak yang sudah semingguan memendam rindu pada anaknya,  lupa semua peraturan yang ada. Anak minta ini itu, dituruti.

“Kasian,” katanya.

Si Bayi, seperti tahu persis, minggu adalah hari dimana dia bisa mendapatkan semua keinginan dengan merengek. Terus saja merengek, dan bisa dipastikan si bapak tidak tahan, dan lekas memenuhi permintaan.

Salah siapa?

Sejatinya, hati sangat senang melihat kedekatan bapak dan anak. Sejak pagi tiba, hingga malam, si bayi terus saja “mencangklong” di paha dan bahu bapaknya. Enggan berpisah walau sekejap. Hati emak mana yang tak luluh.

Tetapi,
Pernahkah si Bapak bayangkan, hari berikutnya si Ibu musti memperbaiki “kerusakan” yang dibuat secara sadar pada hari sebelumnya?

*pasang ikat kepala