SeminarPenulis: mak Magda Ovi

Panik, adalah hal pertama yang sering terjadi saat anak sakit. Sesuatu yang wajar, namun jika kepanikan gak segera dikendalikan, tentu bisa membuahkan tindakan yang berakibat buruk pada si kecil. Terlebih kalo anak kita masih di bawah 6 bulan.

Minggu, 3 Maret 2013 lalu, saya dan suami menghadiri seminar Menjaga Kesehatan Anak dengan Memahami RUM (Rational Use of Medicine) bersama dr Wiyarni Pambudi atau lebih dikenal dengan dr Oei, bertempat di gedung Bosowa Management Development Institute (BDMI) Makassar.

Salah satu hal yang sering terjadi pada bayi adalah demam. Merasa bayi suhu tubuhnya lebih hangat dari biasanya, orang tua langsung bingung dan panik. Padahal demam yang dialami si kecil bisa jadi jenis demam sebagai tahap alamiah untuk mendorong sistem imunnya. Kelak di usia 7 tahunan anak sudah mulai jarang sakit karena sistem imunnya sudah kuat.

Demam bukanlah penyakit, demam adalah alarm. Demam terjadi sebagai respon induksi terhadap invasi mikroba patogen (bakteri atau virus). Demam justru bermanfaat sebagai tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi, memperpendek lama sakit, mengurangi derajat keparahan penyakit seperti batuk dan pilek. So, tenang-tenanglah mak kalo bayi lagi demam. Gak perlu buru-buru dibawa ke dokter. Apalagi sampe bayi diberi antibiotik, tentu yang terjadi justru melemahkan sistem imun tubuhnya.

Sakit tidak selalu perlu obat. Obat hanya salah satu dari tatalaksana penyakit. Dan yang terpenting semua obat punya efek samping. Be wise immunize, mak…

Tenang, dan Lakukan Terapi

Jadi gimana dong kalo suhu tubuh bayi kita tinggi? Kalo gak buru-buru dibawa ke dokter dan segera dikasih obat lantas apa yang harus dilakukan?

Dr Oei bilang, yang disebut smart patient bukanlah anti obat, tapi menggunakan obat secara bijak. Bayi yang terindikasi demam perlu dibawa ke dokter bila:

  1. < 3 bulan dengan suhu > 37,9°C
  2. 3 – 6 bulan dengan suhu > 38,3°C
  3. > 6 bulan dengan suhu > 39,4°C
  4. Demam menetap 72 jam

Tips bila anak demam:

  1. Tahan panik, gunakan termometer untuk memastikan suhu tubuh, karena jika hanya memegang dahi atau tubuh bayi dengan tangan emak tidak akan akurat.
  2. Lakukan skin to skin (memeluk dan/ atau sambil menyusui bayi tanpa pakaian atas, boleh juga sambil berselimut emak dan bayinya, hawa hangat emak akan membantu menurunkan suhu demam bayi)
  3. Perbanyak frekuensi menyusui
  4. Obat penurun panas diberikan pada suhu di atas 38.5°C, itu pun yang paling aman hanya paracetamol dan ibuprofen dan diberikan berdasarkan usia dan berat badan bayi.

Jangan lupa mak kalo memang harus ke dokter dan diberikan resep, tanyakan satu per satu obat apa saja yang diberikan dan gimana penjelasan singkan cara kerja obatnya. Hal itu sudah menjadi hak pasien. Satu hal lagi yang perlu diingat: sehat tidak bisa didapat dengan cara instan. (***)

Diliput dari Seminar Menjaga Kesehatan Anak dengan Memahami RUM bersama dr Wiyarni Pambudi, SpA atau @drOei