Penulis: mak Putri Zalika

Sebagai seseorang yang bekerja di bidang kesehatan dan sering melewatkan hari-hari menghadapi orang yang sedang sakit, pertanyaan di atas adalah hal yang paling sering saya temui di rumah sakit, tempat praktek pribadi bahkan melalui handpone (sms, telpon,whatsapp). As a woman, walaupun saya belum mempunyai anak, saya bisa ikut merasakan bagaimana paniknya seorang ibu jika anaknya sakit. Dan pertanyaan ini datang, jika sang anak sudah mengalami demam yang tidak kunjung sembuh setelah 2 hari.

Tepatnya minggu kemarin, seorang teman sma konsul ke saya mengenai anaknya yang demam melalui grup pribadi kami di aplikasi whatsapp. Akhirnya saya terinspirasi untuk berbagi pengetahuan kepada para ibu maupun calon ibu seperti
saya di KEB mengenai perbedaan gejala antara anak yang terkena demam berdarah dan demam typoid (typus). Yuk ah, check this out 😛

Pada dasarnya kedua penyakit ini merupakan penyakit infeksi, sehingga persamaan dari keduanya adalah memiliki gejalaawal demam. Namun demam sendiri dalam dunia kedokteran bukanlah sebuah diagnosis, melainkan sebuah symptom/gejala dimana terjadinya respon perubahan suhu tubuh yang diatur di otak melalui termostat tubuh yaitu hypotalamus, dimana dengan terjadinya infeksi/ masuknya kuman maka terjadi pelepasan zat pyrogen yang akan merangsang pelepasan prostaglandin 2 yang nantinya akan meningkatkan set point suhu tubuh di hypotalamus, so jadinya demam deh ^^ . Sehingga, akan sulit mendiagnosis ini demam karena apa, kuman apa, sakitnya apa, kalau demamnya sendiri baru terjadi satu hari. *artinya, jika si anak demam baru 1 hari, emak jangan panik dulu ya 😀

Lalu apa yang membedakan kedua penyakit ini? Yah, kedua penyakit ini adalah penyakit populer yang sering di diagnosis sendiri oleh emak-emak, kadang kalau saya lagi jaga di ugd, ada beberapa emak yang langsung bilang “anak saya ni demam gak turun-turun, kayaknya ini demam berdarah, apalagi ini musim DBD dok, sering hujan, dan sebagainya sebagainya” ( -__- “)

Mari kita bahas satu-satu mak, mereview ingatan emak-emak :D.  Secara definisi, Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Virus DEN (serotype 1-4) ditandai dengan demam tinggi     mendadak disertai manifestasi perdarahan (bintik-bintik merah di kulit/ gusi berdarah/ hidung mimisan/ berak darah dan lain-lain) bertendensi menimbulkan renjatan (shock) dan kematian. Jadi, kalau dari gejala demamnya, demam datangnya mendadak dan tinggi (> 38,5’’C) dan biasanya kalau kita sentuh keningnya anak, tangan kita terasa “pedas” (pengalaman pribadi megang kening pasien hehehe). Keluhan yang paling sering dirasakan adalah sakit kepala (sekitar bola mata) makanya kalau anak yang udah kenal dengan istilah pusing maka dia akan ngomong ke emak bahwa kepalanya pusing (sambil pegang-pegang kepala) hehehe, demam berlangsung 3-7 hari dan akan mengalami masa penyembuhan di hari ke 6-7. Pada hari ke 4-5, biasanya suhu tubuh akan turun mendadak, inilah yang disebut juga dengan fase kritis dimana emak-emak kadang suka “gak ngeh”, mikirnya si anak udah sembuh, padahal kondisi ini adalah kondisi yang paling membutuhkan perawatan serius. Selain demam, secara fisik, tersangka demam berdarah memiliki tanda-tanda perdarahan seperti yang saya sebutkan sebelumnya di atas, seperti gusi berdarah, bintik-bintik merah di kulit, atau jika di periksa di UGD, tes rumple leed (+) atau dari hasil laboratorium dimana trombosit < 100.000, dan menjadi positif demam berdarah jika pemeriksaan laboratorium NS-1 (+) (untuk masalah laboratorium, nanti dokter yang akan mengarahkan dan menjelaskan ke emak hehehe).

Lalu bagaimana dengan demam typoid ??? secara definisi demam typoid adalah penyakit infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhosa yang menyerang usus. Justru pada demam typoid, emak akan lebih mudah menerka  apakah si anak terkena demam typoid atau demam biasa. Pada demam typoid, demam tidak tinggi (suhu tubuh tidak se”pedas” demam berdarah), tidak datang secara tiba-tiba/ mendadak, jika belum diobati secara tepat, demam biasanya berlangsung awet lebih dari 7 hari. Karena infeksi ini menyerang saluran pencernaan, biasanya disertai dengan mual bahkan sampai muntah-muntah. Jika sudah masuk ke saluran pencernaan bagian bawah (usus), anak akan mengalami mencret-mencret atau malah konstipasi (sulit BAB). Dan karena penularan penyakit infeksi ini biasanya lewat  jajanan/ makanan yang “sembarangan” atau sudah terkontaminasi kuman ini,  maka akan sangat mudah kita lacak dari mana kuman ini berasal. Tanda yang juga paling khas adalah lidah menjadi putih/ kotor (typoid tongue), si anak juga akan memilik bau nafas yang tidak sedap, anak terlihat lemas tak bergairah. So, jika sudah ada tanda-tanda seperti ini, ayo segera bawa anak kita ke dokter/ RS terdekat mak, karena pada dasarnya penyakit ini lebih mudah diobati daripada Demam Berdarah. Selain obat-obatan biasanya anak akan disuruh Bedrest agar mempercepat proses penyembuhan (ini yang kadang sulit, apalagi kalau anak kita tipe yang aktif).

Akan lebih baik mencegah daripada mengobati, sebelum anak terlanjur sakit, emak juga perlu menyediakan obat-obatan sebagai persiapan di rumah. Obat yang menurut saya paling wajib disiapkan adalah parasetamol (analgetik/anti nyeri sekaligus antipiretik/anti demam), karena jika anak sudah demam tinggi yang paling ditakutkan adalah terjadi kejang, dan kejang sendiri berpengaruh terhadap perkembangan syaraf. Jangan sembarang beri antibiotik pada anak tanpa resep dokter, karena tidak setiap penyakit butuh antibiotik. Dengan adanya persiapan obat-obatan sebelum ke dokter setidaknya emak sudah menyiapkan “senjata” sendiri di rumah, sehingga ketika anak baru demam satu hari, emak tidak usah panik untuk buru-buru ke RS atau ke dokter ya mak ^^. Jika sudah masuk hari ke 3 dan tak kunjung sembuh, maka memeriksan diri ke dokter adalah pilihan yang tepat. Pada dasarnya anak-anak rentan sekali terkena infeksi kuman, namun jika imunitas anak kuat maka dia tidak akan gampang jatuh sakit Peran emak semua sebagai seorang ibu memang besar, apalagi pada masa-masa tumbuh kembangnya. Sangat bangga bisa menjadi perempuan dan bisa bergabung di kelompok ini ^^

Sekian dari saya, mudah-mudahan memberi manfaat, jika pun tidak, saya sangat bersyukur tulisan saya bisa ditampilkan di artikel KEB 😀

Sumber rujukan :

Buku pedoman pelayanan medis fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang