Penulis: Mak Inna Riana

Halo Emak-emak KEB yang keren! Apa kabar? Semoga Emak-emak dan keluarga dalam keadaan sehat. Kenalkan, saya Riana Wulandari. Saya biasa dipanggil ‘Inna’ sejak kecil. Sekarang, nama panggilan saya mengikuti nama suami. Sering juga saya dipanggil ‘Mama’ lalu diikuti nama salah satu anak saya. Pasti Emak-emak juga begitu, bukan?

Sejak bergabung di KEB, saya mengamati emak-emak blogger sebagai anggotanya ini adalah emak-emak canggih yang mengerti komputer. Bahkan banyak emak yang sudah menghasilkan uang dari bidang ini. Wow, hebat! Kalau saya sih, ngetik di Microsoft Word saja masih banyak mikir, hehe. Saya gaptek parah nih, Mak.

Saya berdecak kagum melihat blog Emak-emak semua. Wah, bagus-bagus! Tulisan di blog juga saya lihat sudah banyak. Dilihat lagi, ooh rupanya sebagian besar emak sudah lama kenal dunia blog. Artinya, sudah lama juga Emak-emak mengenal dunia maya. Sedangkan saya, sudah gaptek, ketinggalan jaman pula, haha!

Saya baru akrab dengan jaringan internet pada tahun 2010, yaitu pada saat kami pindah ke kota Palangkarya. Kami menempati rumah dinas berupa kantor yang kebetulan memiliki koneksi internet. Pada malam hari, saat kantor sepi, kami yang tinggal di kamar belakang, masuk ke kantor dan memakai komputer. Ternyata, berselancar di dunia maya itu mengasyikan! Hihihi, norak ya. Karena gaptek, suami membuatkan saya akun Facebook. Wah, makin seru! Lewat jejaring sosial Facebook, saya yang selama ini seolah menghilang, tiba2 bisa saling menyapa dengan teman-teman lama.

Sebulan kemudian, kantor pindah ke lokasi yang lebih luas. Rumah merangkap kantor berubah menjadi rumah tempat kami tinggal. Komputer kantor dibawa. Tidak bisa internetan lagi dong? Tentu bisa. Alhamdulillah, suami dapat rejeki bisa mencicil untuk membeli laptop. Jadi, anak-anak bisa bermain internet di rumah. Ibu dan Bapanya bisa facebookan lagi, hihi

Setahun berlalu, saya sudah melahirkan anak ketiga dan kami sekeluarga pindah ke Makassar. Suatu hari, saya membaca postingan seorang teman di grup Facebook tentang step by step cara membuat blog. Tertarik, saya mencoba membuat blog. Pusing juga sih bikinnya. Namanya juga belajar sendiri. Bingung, mau tanya pada siapa. Buntutnya ya bertanya pada mbah Google deh. Perjuangan saya membuat blog juga terkendala waktu. Bikinnya lama! Maklum, riweuh tidak punya asisten dan 3 anak laki-laki yang masih kecil. Setiap hari saya sibuk mengurus bayi dan balita (si sulung berangkat sekolah), belanja sayur dan memasak. Sedangkan tugas menyapu, mengepel, mencuci baju dan menyetrika  (ih curang, kok banyak?) adalah tugas suami. Saya baru bisa melanjutkan membuat blog saat anak-anak tidur. Akhirnya, blog pertama saya lahir. Saya beri nama sesuai kondisi saya saat itu: www.emakriweuh.blogspot.com.

Awalnya, saya membuat blog hanya untuk ketiga anak saya, Aa, Kk dan Dd. Jika nanti saya sudah tidak ada, masih ada warisan dari saya berupa tulisan di blog untuk mereka baca. Dengan mambaca blog, mereka akan tahu betapa berwarnanya hidup kami sekeluarga, betapa serunya petualangan kami saat tinggal di rantau, betapa lucunya mereka saat tumbuh besar, dan yang pasti betapa besarnya cinta saya terhadap mereka (duh, nulisnya sambil berkaca-kaca).

Di blog, selain menulis tentang anak-anak dan keluarga, saya juga menulis liputan hasil jalan-jalan dan wisata kuliner setempat. Ada juga postingan berupa tips mengepak barang untuk pindah rumah, dan tips sederhana lainnya. Tidak ketinggalan, postingan curhat juga ada, hehe

Saya mulai menemukan keasyikan baru: menulis blog. Ada perasaan bahagia setelah menyelesaikan satu tulisan kemudian menerbitkannya ke blog. Gimana enggak seneng, menulisnya saja harus berjuang ‘mencuri’ waktu. Jujur, saya masih sangat lambat dalam menulis. Satu postingan bisa memakan waktu seminggu lebih. Jika sempat, saya mengetik sedikit demi sedikit di draft. Menurut saya, lebih baik mencicil tulisan, sebelum ide benar-benar menguap dari kepala jika kelamaan ditunda. Betul enggak, Mak?

Ngeblog itu menyenangkan. Senang karena tulisan kita sudah jadi dan bisa dibaca oleh orang lain. Siapa tahu tulisan kita bisa berguna bagi orang lain. Bahkan senang saat membaca hasil tulisan sendiri. Iya enggak, Emak-emak? Hayo ngaku! Sampai sekarang, saya suka senyum-senyum sendiri saat membaca tulisan saya tentang anak-anak. Ngeblog juga bisa menentramkan jiwa, lho. Tidak percaya? Simak cerita berikut ….

Saya punya pengalaman tidak mengenakan waktu tinggal di Makassar. Saat itu saya nyaris jadi korban penipuan di sebuah mall. Syukur alhamdulillah, saya masih dilindungi oleh Tuhan, dan berhasil lolos dari tindak kejahatan tersebut. Masih syok, saya menelpon suami di kantor dan ibu mertua di kampung. Saya menelpon, menceritakan kejadian yang saya alami sambil menangis. Namun itu tidak cukup. Masih belum plong. Ketegangan dikerubuti para penipu masih terbayang. Saat anak-anak tidur siang, saya mencurahkan isi hati saya dengan menulis. Apa yang terjadi? Beban saya hilang! Lega. Amarah saya tumpah lewat tulisan. Tulisan itu memang tidak pernah saya publikasikan dan sudah hilang bersama data laptop yang rusak.

Sejak kejadian itu, saya sadar, bahwa menuangkan isi pikiran dalam bentuk tulisan punya banyak manfaat. Hati yang gundah menjadi tenang setelah menulis. Hati yang gembira bisa diluapkan, dan membaca lagi tulisan tentang kegembiraan akan menularkan rasa kebahagiaan itu. Menulis pengalaman dan informasi berharga bisa memberikan manfaat untuk pembaca. Wah manfaat menulis masih banyak, nih! Sebagai emak biasa, dan seorang emak blogger (bangga dong, disebut emak blogger), media menulis saya hanya lewat blog. Saya belum sampai level lebih tinggi: penulis buku (mudah-mudahan, suatu saat nanti, aamiin). Emak-emak semua pasti sudah merasakan manfaat menulis, iya kan? Kekuatan menulis memang hebat! Ngeblog itu luar biasa! Yuk, Mak, mari kita teruskan semangat menulis blog!