Oleh mak Adhelina

Keberadaanku selama dua tahun di Malaysia memang sudah berlalu,  di sebuah kota bernama Johor Bahru, Malaysia.

Begitu banyak orang yang mengetahui keberadaanku dulu di sana, bahkan teman yang sedari dulu tak pernah bertegur sapa pun.

Ketika banyak pertanyaan, kenapa balik? Kenapa nggak disana? Kontrak udah abis ya? Wah, bla bla bla…. Mereka tak tahu kesedihanku pulang kembali ke Jakarta.

Ketika itu kepergian papaku yang secara tiba-tiba di negara sana begitu mengagetkan aku dan ibuku, begitu menyedihkan. Ketika itu pula memang sudah jadwal kami kembali pulang ke tanah air dalam jangka waktu satu bulan lagi. Tetapi, papa lebih memilih pulang kembali ke Sang PenciptaNya.

Kenapa papa? Dua tahun belakangan aku selalu bersamamu papa, aku tahu suka dukamu dan semua ini jerih payahmu, keringatmu, tetapi engkau tak sempat menikmati semua ini. Kenapa engkau pergi?

Masih jelas teringat, hari Jumat pagi, ketika aku bersamanya kekantor, punggung papaku berjalan menjauhiku, pagi itu aku melihatnya, papa, maafkan anakmu ini.

Ahh…penyesalan ketika itu tak habis-habis, belum sempat aku meminta maaf akan semua salahku.
Aku yang nakal, aku yang membantah perintahnya, aku yang tak sempat membantu beliau, aku yang tak memperhatikan kesehatannya, maafkan aku.

Ketika  kembali ke negara ini hanya sekedar ingin melepas kepenatan, menikmati yang tersisa di negara ini, tapi ternyata, kenangan begitu banyak.

Ini cobaan…. Ini peringatan…. Semua peristiwa begitu cepat, begitu beruntun. Engkau beri kami
kebahagiaan, tapi seketika juga Engkau beri kami kesedihan.

Kini, sudah dua tahun lebih aku kembali ke jakarta. Masih banyak cobaan yang Kau berikan ya Rabb.

Satu tujuanku sekarang, bahagiakan orangtuaku yang hanya seorang, ibu.
Papa, engkau begitu mencintai istrimu. Aku akan menjaganya.
Papa, engkau begitu menyayangi cucumu, keponakanku, aku akan menjaganya.
Doa ini takkan terputus untukmu, pa.

Allah, tetaplah bersamaku, ingatkan aku akan semua ini Allah, agar aku tetap di jalanMu, tetap istiqomah. Amin.