Di Lifetime Channel ada sebuah acara yang berjudul “My Life as A Lifetime Movie”. Sebuah tayangan tentang berbagai kisah nyata dari kehidupan seseorang. Tentunya bukan kisah yang biasa-biasa aja. Tapi, di akhir tayangan biasanya happy ending, mereka yang mendapatkan cobaan itu bisa dibilang move on. Karena berbagai kisah, setiap tayangan menceritakan kisah yang berbeda.

Ada 2 kisah yang mau saya ceritain disini. Tentang 2 orang gadis remaja yang pernah melakukan ‘kebodohan’ dan berakibat dituduh melakukan prostitusi ilegal dan penyebaran pornografi di bawah umur. Oiya, sebelum cerita lebih lanjut, sayapernah bikin postingan tentang beberapa anak SMP yang berfoto ‘kurang pantas’. Atau kasus anak SMP yang berhubungan intim di sekolah. Prihatin banget, tapi saya juga gak setuju kalau foto atau video mereka disebar secara terang-terangan. Untuk yang belum tau alasannya, silakan baca postingan “Mereka Berhak Punya Masa Depan”. Nah, postingan kali ini juga masih satu pemikiran. Nanti saya jelasin di bagian akhir, ya 🙂

Cerita Pertama

Tentang seorang anak SMA. Sayalupa namanya, sebut aja Bunga. Awalnya kehidupan Bunga normal aja. Anak SMA yang tergabung di klub cheerleader sekolahnya, mempunyai 1 orang sahabat, dan mempunyai pacar.

Suatu hari pacarnya mengajak Bunga berhubungan intim. Tapi, Bunga menolak dengan alasan belum siap. Pacarnya tidak memaksa dan menerima penolakan Bunga. Cuma, keesokan harinya Bunga merasa pacarnya berubah drastis sikapnya. Kalau ketemu Bunga langsung melengos. Pura-pura gak kenal. Di telpon atau di sms gak pernah bisa. Pokoknya selalu menghindar. Bahkan Bunga pernah mergoki pacarnya mendekati cewek lain.

Bunga yang memang sedang jatuh cinta merasa patah hati. Dia merasa semua itu karena salahnya sudah menolak permintaan pacar. Tapi, berkali-kali minta maaf di sms pun tetap saja gak ada balasan.

Suatu hari pacarnya sms yang isinya “Kalau kamu memang menyesal, kirim foto telanjangmu ke hape aku.” Bunga yang memang sedang cinta buta, langsung melonjak kegirangan. Dia lalu meminta sahabatnya untuk fotoin dia tanpa busana. Foto pun langsung dikirim ke nomor hape pacarnya.

Keesokan harinya Bunga berangkat ke sekolah dengan perasaan sangat bahagia karena merasa akan baikan lagi dengan pacarnya. Ketika sedang latihan cheers, Bunga merasa banyak orang menunjuk ke arahnya. Tapi, perasaan itu ditepis. Namanya juga anak cheers, pasti bakal banyak yang nonton kalau mereka lagi latihan, pikir Bunga.

Bunga baru tahu ketika salah seorang teman memberitahu kalau foto tanpa busananya tersebar diberbagai hape yang dimiliki siswa/i di sekolah itu. Pacarnya? Hmmm… Boro-boro mau balik sama dia. Tetep pura-pura gak kenal, tuh. Justru pacarnyalah yang dengan sengaja menyebar foto tanpa busananya itu ke berbagai nomor hape.

Seketika hidup bunga berubah. Di sekolah, banyak yang membullynya. Bahkan gak cuma Bunga, keluarganya pun ikut kena masalah. Setiap hari beberapa kali mereka menerima telpon caci maki hingga terror. Rumahnya pun berkali-kali dilempari oleh orang yang gak bertanggung jawab. Sampai pernah ada kejadian kaca rumah pecah karena dilempar batu.

Bunga dan keluarganya gak mungkin melaporkan semua kejadian itu ke polisi. Bisa-bisa malah Bunga yang dipenjara. Bunga bisa dipenjara karena dianggap melakukan penyebaran pornografi di bawah umur. Ya, walopun Bunga hanya melakukan itu untuk pacarnya, tapi tetap aja secara sadar dia yang mengirim itu. Tuduhan kedua adalah dia bisa dikenakan sebagai pelaku prostitusi ilegal. Kedua tuduhan itu masing-masing hukumannya sangat berat di US.

Bunga sempat terpuruk, gak mau sekolah. Dia sadar kesalahannya adalah mengirimkan foto tanpa busana. Tapi, dia gak terima kalau sampai dapat tuduhan sebagai pelaku penyebaran pornografi di bawah umur dna melakukan prostitusi ilegal karena dia melakukan itu hanya untuk pacarnya. Sahabatnya pun meninggalkannya. Sahabatnya takut kalau polisi sampai tau, dia juga akan kena ciduk dan dianggap kaki tangan Bunga karena udah bantu motoin Bunga tanpa busana.

Gak mau terus terpuruk, Bunga dan keluarganya mulai bangkit. Dia sadar, gadis remaja yang berpikiran polos seperti dia itu banyak. Dengan alasan cinta, mereka rela melakukan apapun termasuk perbuatan bodoh seperti berfoto tanpa busana untuk pacarnya. Bunga pun mulai menjadi pembicara di berbagai sekolah SMA di US. Dia ingin mengajak para gadis remaja untuk tidak menjadi bodoh karena cinta.

Ada satu kalimat dimana Bunga bilang kalau dia beruntung merasa bisa bangkit dan masih memiliki keluarga yang selalu mendukungnya saat terpuruk. Bayangkan di luar sana banyak yang justru semakin terpuruk bahkan bunuh diri karena tidak ada yang membantu mereka ketika terjatuh.

Bagaimana dengan pacarnya? Setelah lulus SMA, pacarnya menjadi tentara. Dan, di sana menjadi tentara itu dianggap pahlawan. Bahkan nama pacarnya tertulis didinding sekolah sebagai salah satu pahlawan. Menyedihkan memang. Tapi kata Bunga biarkan aja, yang penting gak boleh ada lagi perempuan remaja yang bodoh karena cinta.

Cerita Kedua

Tentang seorang gadis remaja, lupa juga namanya :p. Kali ini sebut aja namanya Mawar. Kehidupan Mawar juga awalnya biasa aja, keluarganya harmonis. Sampai kemudian kedua orang tuanya bercerai saat Mawar SMP. Karena perceraian itu, Mawar mulai melakukan pemberontakan. Dia mulai pacaran.

Orang tuanya walopun sudah bercerai tetap melarang Mawar pacaran sebelum usianya menginjak 16 tahun. Tapi, Mawar tetap pacaran dengan seorang anak SMA. Dan, orang tuanya gak kuasa mencegah.

Suatu hari, Mawar diajak main ke rumah pacarnya. Awalnya, Mawar menolak. Tapi, pacarnya bilang di rumahnya itu ada orang tuanya, jadi gak akan macem-macem. Mawar pun akhirnya mau. Sampai sana, ternyata rumahnya sepi. Pacarnya mengajak berhubungan intim. Dengan alasan cinta, mawar gak menolak.

Menurut salah satu narasumber di episode itu, Mawar tinggal di kota kecil. Hiburan di kota itu pun cuma ada 1 bioskop dan 1 minimarket. Karena gak banyak hiburan, remaja di kota itu tidak banyak kegiatan dan membuat mereka bosan. Alasan bosan itulah yang hubungan intim sebelum menikah dijadikan alasan sebagai salah satu cara mencari hiburan. Makanya di sana katanya gak aneh sama yang namanya berhubungan intim sebelum menikah.

Di kota kecil itu juga ada seorang jaksa wilayah yang sudah memegang jabatan selama 20 tahun tanpa tergantikan. Saking lamanya, penduduk di sana sudah menganggap jaksa wilayah tersebut sebagai pahlawan lokal. Menganggap sebagai sosok yang gak pernah melakukan kesalahan.

Suatu hari, jaksa wilayah tersebut berbicara di hadapan seluruh siswa-i di sekolah Mawar. Beliau mengatakan kalau saat ini banyak remaja yang melakukan ‘sexting’, yaitu berfoto minim atau tanpa busana trus dikirim melalui hape. Umumnya dilakukan oleh remaja putri dan dikirim ke pacar atau ke laki-laki yang mereka suka. Untuk cari perhatian mereka tentunya.

Banyak yang gak menyadari kalau sexting itu melanggar hukum. Dan di US hukumannya sangat berat, bisa kena 2 tuduhan seperti yang di cerita pertama. Masa depan mereka pun terancam suram setelah terkena masalah hukum. Setelah acara selesai, pihak sekolah merazia semua hape siswa-siswi di sekolah tersebut.

Saat ibu, ibu Mawar yang juga guru di sekolah tersebut sempat melihat ekspresi aneh di wajah anaknya. Ibunya sempet khawatir, jangan-jangan Mawar pernah melakukan sexting. Sampai rumah, Mawar ditanya-tanya tentang sexting. Tapi, dia bilang gak pernah melakukan hal seperti itu.

Sampai suatu hari, ibunya menerima surat dari Mawar yang cerita kalau dirinya hamil tapi gak berani bicara langsung. Ya, orang tua mana sih yang gak kaget? Mawar ditanya-tanya lagi apa salah satunya karena dia pernah sexting? Tapi, Mawar bilang gak pernah.

Ibunya sempat memintanya untuk menggugurkan kandungan. Mawar menolak. Belum selesai masalah kehamilan di luar nikah, Mawar dan ibunya mendapat surat panggilan dari jaksa wilayah dan menuduh Mawar telah melakukan sexting.

Mawar dan ibunya pun segera memenuhi panggilan tersebut untuk meminta bukti. Jaksa wilayah menunjukkan bukti tersebut, seketika ibu Mawar merasa lega. Menurutnya, anaknya tidak melakukan sexting. Foto yang dijadikan sebagai bukti itu adalah kejadian beberapa tahun lalu. Saat itu beberapa teman Mawar sedang menginap di rumahnya. Mereka pun berfoto-foto sebelum tidur. Dan, Mawar saat itu hanya mengenakan bra (bagian bawahnya gak kelihatan karena di foto setengah badan).

Ibunya merasa Mawar tidak melakukan sexting karena ibunya tau persis kejadian tersebut. Tapi, siapa yang menyebarkan foto itu dia gak tau. Sementara, jaksa wilayah tetap menganggap itu adalah foto sexting yang berhasil dia dapatkan setelah merazia hape di sekolah. Dan di salah satu hape itu ada foto Mawar berfoto hanya memakai bra.

Mereka yang dituduh sexting pun kemudian dikumpulkan di aula sekolah. Mereka di beri 2 opsi oleh jaksa wilayah. Opsi pertama, menandatangani surat pernyataan bersalah dan bersedia tetap melanjutkan sekolah dengan kurikulum yang sudah dibuat khusus oleh jaksa wilayah. Opsi kedua,  melanjutkan masalah ini dengan ancaman hukuman yang sangat berat dan kemungkinan masa depan menjadi suram.

Semua yang tertuduh memilih opsi pertama, kecuali Mawar dan ibunya. Mereka tetap bersikeras kalau Mawar tidak melakukan sexting. Mereka juga menganggap jaksa wilayah sudah semena-mena, menekan mereka yang dituduh melakukan sexting supaya terpaksa ikut kurikulum khusus buatan jaksa wilayah. Kurikulum yang menurut mereka aneh,

Dengan bantuan seorang pengacara, mereka melakukan perlawanan. Tapi, gak mudah apalagi gak ada satupun masyarakat yang mau menolong mereka. Justru gosip yang semakin liar dan cemoohan yang mereka terima. Ibu Mawar dianggap gak bisa mendidik anak, padahal dia seorang guru. Permohonan ibu Mawar selama bertahun-tahun ingin pindah mengajar dari guru SMA ke SD dan mulai ada titik terang, ditangguhkan karena dianggap mendidik anak sendiri aja gak bisa. Mereka juga dianggap menghina pahlawan lokal di kota tersebut.

Perjuangan selama hitungan tahun, bukan perjalanan yang mudah. Bahkan sampe menyedot perhatian berbagai media. Dan, lama kelamaan mulai ada masyarakat yang berpihak kepada Mawar dan ibunya. Tambah lama dukungan kepada mereka semakin banyak. Masyarakat mulai setuju kalau jaksa wilayah sudah melakukan tindakan semena-mena dengan alasan sexting demi kurikulum yang dia buat sendiri.

Akhirnya, jaksa wilayah yang sudah memimpin selama 20 tahun itu diturunkan dari jabatannya. Ketika Mawar dan ibunya dinyatakan menang di pengadilan, jaksa wilayah yang baru tidak ingin naik banding dan memilih menutup kasus itu.

Mawar katanya hidup bahagia dengan ibu dan anaknya. Dia putus dari pacarnya setelah anaknya lahir. Dan, setelah lulus SMA, Mawar ambil jurusan pendidikan. Pengen jadi guru seperti ibunya katanya.

Dari kedua cerita itu, menurut saya yang bisa diambil adalah:

  1. Kita semua pasti pernah ngalamin yang namanya jatuh cinta, kan? Bahkan cinta buta atau cinta monyet. Ada saat dimana kita berpikir hanya dialah satu-satunya orang yang kita cintai di dunia ini. Bahkan ada juga saatnya ngegalau. Bersyukurlah walaupun pernah ngalamin cinta buta gak bikin kita jadi ‘bodoh’. Bisa jadi penyebabnya adalah karena pacar kita dulu gak sejahat itu atau kita yang bisa bersikap. Tapi, gadis remaja seperti Bunga menurut saya banyak. Gak cuma di US, di Indonesia atau di negara manapun juga ada. Itulah kenapa saya sependapat dengan Bunga, jangan di bully. Mereka melakukan itu bisa jadi karena ‘kepolosan’ mereka dalam berpikir. Bully gak akan menjadikan masalah lebih baik. Kalau belum kejadian, kita harus sering berkomunikasi dengan para remaja itu. Yang perempuan jangan bodoh, yang laki-laki juga harus bisa menghargai perempuan. Gak perlu juga jadi pembicara sana-sini seperti Bunga. Tapi, kita bisa berkomunikasi dengan anak-anak sendiri supaya mereka tetep bisa menjaga diri.
  2. Untuk cerita kedua, diceritakan kalau disana sudah lazim yang namanya berhubungan intim sebelum menikah antar remaja karena mereka bosan. Ya, internet mungkin jadi salah satu pemicu anak-anak zaman sekarang melakukan sex bebas. Tapi, gak cuma itu pemicunya. Bahkan, rasa bosan dan tidak punya kegiatan positif pun bisa membuat remaja melakukan hal negatif. Sex bebas, tawuran, narkoba, dan lain-lain. Ya, mungkin karena mereka masih berdarah muda, semangatnya masih menggebu-gebu sementara gak ada sesuatu yang bisa mereka lakukan. Akhirnya pelampiasannya aneh-aneh.

 

Anak-anak saya memang belum remaja, tapi suatu saat mereka akan menjadi remaja dan akan merasakan yang namanya jatih cinta. Saya pun pernah jadi anak remaja dengan segala rasanya walaupun gak sampe seheboh cerita di atas (jatuh cinta, semangat menggebu-gebu, dan lain-lain). Rasanya 2 cerita di atas harus saya jadiin renungan dan ambil garis merah kira-kira apa yang membuat mereka seperti itu. Semoga aja bisa bikin saya berkaca dan melakukan yang terbaik lagi supaya anak-anak selalu selamat hidupnya. Aamiin.