Oleh: Mak Mugniar | http://www.mugniar.com

Si kecil Azka tiba-tiba nyeletuk, “Ma, aku boleh merokok?”

Pertanyaan telak untuk suamiku yang sudah setahun ini kembali merokok, setelah sempat berhenti lebih dari 5 tahun.

“Tanya Abi, sana,” kata saya. Azka menghampiri Abinya yang tengah duduk di teras rumah, merokok.

“Abi, aku boleh merokok?”

“Nggak boleh.”

“Kalau sudah besar, boleh?” Azka memaksar. Saya tersenyum mendengarnya.

“Perempuan nggak boleh merokok.” Jawaban yang benar-benar kurang tepat tetapi ini bukan saat yang tepat saya mendebatnya.

“Sedikit saja, Bi.”

“Tetap, nggak boleh.”

“Azka sama Mama saja, ya. Jangan dekat-dekat Abi kalau Abi lagi merokok.”

Tak lama Azka sudah kembali ke samping saya.

“Aku nggak boleh merokok?”

“Ya nggak bolehlah. Merokok itu mengganggu kesehatan. Bisa jadi sakit batuk.”

“Kalau Abi kok nggak batuk?”

“Abi juga batuk. Harusnya Abi juga nggak boleh merokok.”

Penggalan percakapan antara anak perempuan – ibu – ayah itu terdapat pada halaman 106 – 107 buku Mommylicious yang ditulis oleh duo Mak Arin (Murtiyarini) dan Mak Rina Susanti. Tak hanya sampai di situ, si cerdas Azka benar-benar mengejar jawaban guna memuaskan rasa ingin tahunya.

Mommylicious Mama

Menjadi mama memang delicious. Pertanyaan Azka berbuntut panjang pada sebuah peristiwa lain, ketika dilihatnya seorang perempuan merokok. Hebatnya, Mama dan Abi Azka menjadikannya bahan renungan agar dapat bekerja sama sebagai sebuah tim yang selalu up to date tentang persoalan tumbuh kembang anak (halaman 108).

Berbagai pengalaman dalam berkeluarga dituliskan oleh Mak Arin dan Mak Rina di dalam buku ini. Ada pengalaman memberikan ASI, persoalan dalam mengekspresikan rasa sayang, perbedaan dengan suami dalam memperlakukan anak, usaha maksimal dalam mementingkan keluarga, dukungan suami dan lingkungan dalam bekerja, menghargai pencapaian anak, fleksibel dan disiplin dalam menerapkan aturan kepada anak, kebanggaan kepada anak mesti sewajarnya, dan lain-lain.

Beberapa pengalamannya terasa dekat dengan saya karena saya juga mengalaminya dalam bentuk lain. Membaca tulisan-tulisan mereka seperti membuat saya berkaca dan menuntun saya untuk menemukan solusi dan pencerahan tanpa merasa digurui. Juga merasa mendapatkan pembenaran dan dukungan apabila apa yang mereka lakukan sama dengan yang saya lakukan.

Menariknya, kedua emak ini jujur dalam bercerita. Misalnya tentang kebutuhan me time bagi seorang mama (halaman 69 dan 72), dilema ibu bekerja (halaman 79), dan terus terang menceritakan bahwa mereka bisa juga merasa kesal dalam menghadapi ulah anak tetapi mereka kemudian bisa menahan diri dan menemukan solusinya (halaman 111). Sungguh, membaca buku ini jauh dari kesan pencitraan yang menggambarkan mereka sempurna. Kedua penulis menggambarkan diri mereka sebagai dua orang mama pembelajar yang tak luput dari kekurangan tetapi selalu berusaha memperbaiki diri demi melakukan yang terbaik untuk keluarga.

Pendeknya, buku ini cocok dibaca untuk siapa saja. Emak-emak tentu perlu membacanya karena bisa menambah wawasan dalam menjalani peran sebagai ibu, bapak-bapak juga perlu membacanya supaya bisa lebih paham mengenai pola pikir dan perasaan kaum Hawa, dan mereka yang lajang perlu membacanya sebagai bekal sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Makassar, 20 Oktober 2014

2014-08-17 12.02.56 mommylicious mama

Keterangan buku:
Judul : Mommylicious| Catatan Dua Mama: Beda Cerita, Kaya Rasa
Penulis : Murtiyarini dan Rina Susanti
ISBN 10 : 602-249-680-2
ISBN 13 : 978-602-249-680-9
Penerbit : BIP (kelompok Gramedia)
Tahun terbit : 2014 (Agustus)
Tebal halaman: 173