Malam-malam begini masih sibuk di kantor? Udah jangan terlalu capek bekerja. Mendingan capeknya dihabiskan di…..

Ketika seorang istri menulis SMS seperti itu kepada suaminya, mungkin akan terkesan romantis. Kata-kata akhir yang hanya berupa titik-titik bikin kita menebak-nebak maksudnya apa, nih? *mungkin sambil senyum-senyum juga nebaknya :)*

Tapi, bagaimana kalau SMS tersebut datang dari seorang perempuan ditujukan untuk laki-laki beristri? Dan, yang saat itu membaca adalah istrinya? Kira-kira apa yang terbayang di benak istrinya? Santai, marah, kecewa, curiga, atau malah jangan-jangan tertawa?

Ini bukan tentang pengalaman pribadi atau curhatan saya. Tapi, ini adalah kisah yang saya dengar di salah satu radio favorit saya. Sebetulnya antara suka dan gak suka saya mendengar program radio ini setiap malam. Saya sukanya karena selalu memutar lagu-lagu cinta yang slow setiap malam. Gak sukanya karena kalau malam programnya adalah curhatan tentang cinta. Dan, kebanyakan isinya tentang perselingkuhan. Dan, saya ini orangnya suka gampang terpengaruh. Suka kebawa emosi sendiri padahal bukan problem saya hihihi.

Semalam, ada seorang perempuan yang curhat tentang kisah cintanya. Dia cerita kalau gak suka suaminya 1 tim kerja dengan seorang perempuan yang kelihatan suka menggoda suaminya. Beberapa kali dia menemukan sms seperti itu dari perempuan tersebut untuk suaminya. SMS yang menurut si istri rada-rada menggoda.

Sebagai seorang istri, dia merasa sangat cemburu. *Dan saya pun ikutan emosi hihihi* Menurutnya, gak pantas seorang perempuan mengirim sms seperti itu ke laki-laki yang bukan pasangannya. Kecuali kalau di antara mereka memang ada apa-apanya. Si istri ingin suaminya ganti partner kerja aja. Tapi, suaminya berdalih kalau perempuan ini luas sekali networkingnya. Si suami memanfaatkan si perempuan tersebut supaya networkingnya semakin luas. Jadi, murni karena alasan kerja.

Si penyiar *yang juga seorang laki-laki* berpendapat bisa jadi yang dilakukan pasangan kerja itu cuma becanda. Karena menurutnya, seringkali kalau sebuah tim kerja sudah sangat erat dan kompak hubungannya, becandaan suka rada kelewatan. Kadang rada menjurus ke arah lain. Tapi, sebetulnya murni cuma becanda dalam ucapan. Gak ada tindakan yang lebih dari itu. Cuma sekedar untuk bikin santai suasana.

Mendengar penjelasan penyiar radio tersebut, saya langsung mikir, inikah yang disebut becanda? Saya coba diam sejenak, trus mikir lagi. Seandainya, saya berada di posisi sang istri, rasanya saya sulit juga menganggap kalau itu sebuah becandaan. Saya juga pasti akan menanggapi dengan serius. Iya, tentu saja akan sangat menyenangkan kalau punya tim kerja yang enak diajak kerja sama dan akrab. Tapi, apa saking akrabnya harus becanda seperti itu, ya? Saya rasa masih ada bentuk candaan lain tanpa harus menjurus atau memancing kita untuk berprasangka.

Menurut saya, becanda memang harus hati-hati. Apalagi kalau sampe menyakiti orang lain. Jangan sampe niat kita becanda dengan rekan kerja supaya suasana enak, tapi efeknya malah bikin rumah tangga runyam. Ribet, kan, urusannya kalau udah kayak gitu? Saya bahkan meminta suami untuk jangan pernah meladeni perempuan lain yang curhat kepadanya. Kalau pun pernah ada, serahkan ke saya untuk bantu menyelesaikan.

Dan, saya termasuk istri yang galak kalau untuk hal seperti ini *sungkem sama suami hehehe*.