Hai, Maks. Ketemu lagi kita 😀 Mau bahas apa nih, enaknya? Mmmm …

Oh.  Ini aja. Emaks termasuk orang yang suka share sesuatu di media sosial Emaks? Entah itu di Facebook, Twitter, Path dan sebagainya? Tentunya, ada alasan ya, mengapa Emaks share informasi tersebut dan kemudian bisa dibaca oleh teman-teman Emaks? Biasanya apa, Maks, alasannya? Infonya penting? Infonya update? Supaya orang lain ter-warning?

Banyak ya, Maks, alasan mengapa orang, dalam hal ini Emaks, men-share informasi atau artikel atau berita tersebut.

Nah, tahu nggak sih, Maks, dari menelusuri alasan Emaks sendiri saat men-share suatu informasi itu, kita bisa lho meraba, apa sih yang juga menjadi alasan orang lain untuk men-share artikel atau informasi. Lalu, kalau kita sudah tahu alasannya, kita juga jadi bisa meracik artikel dan menyajikan informasi sesuai dengan yang mereka butuhkan.

Terus, impact-nya apa? Tentu saja, artikel kita menjadi artikel yang dibutuhkan orang, sehingga orang dengan senang hati membagikannya pada orang lain, lalu orang lain membagikannya lagi pada teman yang lain lagi, dan seterusnya. So, it will goes viral.

Dan nggak usah dibahas-lah ya, mengapa kita mau artikel kita goes viral kan? 🙂

Jadi, ayo, coba kita lihat alasan apa saja yang membuat Emaks men-share artikel atau informasi tertentu yuk.

1. Karena kontennya related dengan Emaks

Artikel tersebut memaparkan hal-hal yang sedang Emaks alami. Kemudian Emaks dengan sukarela membaginya, mungkin dengan tambahan komentar sebelum diposting di beranda Facebook Emaks. Apalagi kalau kemudian konten yang ada tersebut punya potensi untuk bisa mengubah opini teman-teman. Wah, pasti semangat 45 ya, share-nya? 😀

2. Karena kontennya mendefinisikan diri Emaks

Jadi, siapa hayo yang suka share kuis-kuisan di Facebook?

Sering banget ya, kita lihat teman share kuis-kuis di beranda Facebook. Saya juga pernah nih, latah ikutan kuis. Waktu itu tentang lebih dominan mana, otak kanan apa otak kiri. Hahaha. Lucu aja gitu ya, Maks, kalau kita baca tentang diri kita sendiri melalui kuis-kuisan ini. Kok bener ya? Kok cocok ya? Mungkin itu yang terlintas di pikiran kita.

Nggak cuma kuis-kuisan, kita juga sering share artikel semacam tipe-tipe karakter, tipe-tipe orang, dan lain sebagainya. Apalagi kalau kita menemukan karakter kita jelas banget terpapar di dalamnya. Wuih, jiwa narsisnya langsung terpanggil deh. Hahaha. Bener nggak, hayo?

Kalau sudah begini, maka Emaks pun dengan senang hati membagikannya di beranda Facebook Emaks. Sembari ngebatin, “Ini lho, gue!” Hihihi.

3. Karena kontennya membuat kita menjadi (merasa) lebih baik

Ini nih, kayak yang tadi saya sebutkan di poin pertama di atas. Misalnya nih, Emaks mengalami kondisi tertentu yang tidak biasa, lalu merasa dan bertanya-tanya, ini bener nggak sih yang saya lakukan nih? Bener nggak sih, yang saya rasakan nih? Orang lain merasa sama seperti yang saya rasakan nggak ya?

Dan saat hati sedang bertanya-tanya *tsah* tiba-tiba saja ada artikel yang menulis dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Emaks. Wah, pasti semangat ya, share ke media sosial Emaks? 😀

Saat diri merasa lebih baik, pasti kita merasa lega dan akhirnya “berterima kasih” pada artikel atau konten yang dibuat itu, dengan jalan share.

4. Karena kita ingin mengedukasi dan teredukasi

Wih, istilahnya gitu amat, kayak narasumber apaan gitu yak 😆

Well, nggak harus menjadi seorang narasumber untuk bisa mengedukasi teman-teman kita, Maks. Contohnya kalau yang sering saya lihat adalah banyak teman-teman yang share resep masakan dengan pengantar “Simpen dulu, praktik nanti.” (entah bakalan dipraktikkan beneran atau enggak, itu mah urusan masing-masing ya, Maks. #eh). Atau cara untuk melakukan ini, atau cara agar begitu.

Biasanya jenis-jenis konten yang dishare untuk mengedukasi (baik orang lain maupun diri sendiri) ini memang jenis artikel how-to, Maks, ataupun jenis informasi-informasi yang lain juga bisa. Misalnya mengenai fakta ini, seluk beluk produk tertentu, dan lain sebagainya. Selain mungkin Emaks keinget teman Emaks yang butuh, Emaks juga butuh untuk diri Emaks sendiri. Supaya gampang sewaktu-waktu dibaca atau dicari lagi, maka Emaks share deh di media sosial.

5. Karena ingin menyampaikan satu pesan

Sering sekali saya menemukan teman-teman men-share artikel yang berhubungan dengan gerakan kepedulian. Misalnya, stop sirkus lumba-lumba, atau stop topeng monyet, gerakan Earth Hour, dan lain- lain. Ini merupakan salah satu wujud dari keinginan Emaks untuk peduli, dan pengin mengajak teman-teman Emaks untuk ikut peduli dan mendukung gerakan tersebut. Bahkan kalau mungkin, kemudian bisa menjadi gerakan nyata membawa kondisi yang lebih baik.

Ah, indahnya. Kan pada dasarnya kita ini memang makhluk sosial kan?

 

Nah, kalau sudah sampai di sini, kita bisa nih, Maks, mengambil kesimpulan. Tipe konten apa saja sih yang disukai orang hingga mereka ‘harus’ share di media sosial masing-masing. Yaitu relatable, defining, makes you better, educating, dan ada pesan yang tersampaikan.

Cuma 5 saja ya, alasan mengapa orang share konten atau artikel ke media sosial, berdasarkan pengamatan saya di atas. Tapi Emaks kalau mau menambahkan lagi boleh lho, silakan langsung di kolom komen ya.

Nah, selanjutnya Emaks bisa nih, kalau suatu kali pengin share satu artikel, coba perhatikan apa alasan Emaks ingin share artikel tersebut. Saat sudah ketemu alasannya, maka Emaks juga bisa menggunakan alasan yang sama untuk membuat artikel Emaks sendiri yang share-able.

Lalu, selanjutnya apa yang harus kita lakukan supaya artikel kita bisa setidaknya memenuhi syarat-syarat berdasarkan pengamatan saya di atas?

  1. Berikan nilai tambah pada pembaca blog

Nilai tambah tentu menjadi hal yang dicari oleh para pembaca informasi. Betul nggak? Entah itu bahan perenungan baru tentang hidup *ciyeh*, tips ini itu, pengetahuan baru dan lain sebagainya.

Jadi, agar tulisan Emaks share-able, maka tulislah hal-hal yang bermanfaat buat mereka. Menulis curhatan sih boleh, tapi usahakan untuk kemudian disertai dengan insight, atau tips kalau-kalau ada orang lain yang juga merasakan atau mengalami hal dan kondisi yang sama dengan Emaks.

Berikan sesuatu pada pembaca blog sebagai ‘oleh-oleh’ saat mereka meninggalkan blog Emaks.

  1. Help to define

Dalam artikel blog saya mengenai kesalahan umum yang bisa dilakukan saat kita membuat laman About Me, kira-kira saya membantu pembaca artikel tersebut bahwa mereka akhirnya yang mereka lakukan di blog itu sudah benar atau belum.

Ya, itulah yang dimaksud dengan “help to define”.  Membantu pembaca blog untuk bisa mengerti diri mereka sendiri, dan ini nggak cuma seperti yang ada dalam kuis-kuis di Facebook itu. Yang saya lakukan itu juga salah satu bentuk kalau saya ingin “help to define”.

  1. Share your good feeling

Saat Emaks happy akan kondisi tertentu, maka hal tersebut tentulah layak untuk dishare. Apalagi kalau kemudian Emaks juga menulis tips atau berbagi cara untuk bisa happy. Biarpun kondisi yang Emaks alami ini nggak akan sama persis, tapi kalau ada yang memang related dan kemudian Emaks mampu memberikan point of view yang berbeda hingga bisa mengubah opini, maka artikel Emaks pun menjadi share-able.

  1. Pastikan pesan tersampaikan

Salah satu misi penulis biasanya adalah ‘menyampaikan pesan’, termasuk saat kita menulis di blog. Saat mulai menulis artikel blog, kita pasti sudah punya pesan untuk kita sampaikan.

Nah, pastikan bahwa pesan ini bisa ditangkap oleh pembaca, Maks. Indikasinya apa? Emaks coba lihat di bagian komen. Jika pada komen, ada yang terpanggil untuk bertindak lebih lanjut maka pesan Emaks tersampaikan. Misalnya, saya menulis mengenai desain layout yang baik. Kemudian banyak yang memberikan komen, bahwa mereka jadi ‘terpanggil’ untuk membenahi blog masing-masing. Inilah yang kita sebut sebagai ‘call to action’. Indikasinya akan semakin bagus, saat suatu hari kemudian, ada yang nyolek saya sambil nanya, “Saya barusan benerin layout nih. Bagus nggak?” Di situ saya merasa bahagia, Maks. Karena berhasil ‘meracuni’ orang lain dengan pesan yang saya berikan. Hihihi.

 

Demikian, Maks, cara yang biasanya saya gunakan saat meramu artikel yang (saya harapkan) akan disukai oleh pembaca, yaitu dengan menggunakan diri kita sendiri sebagai referensinya. Kalau kita suka, tentu orang lain akan suka dengan cara yang sama.

Semoga bermanfaat ya, Maks :).

 

Ditulis oleh Carolina Ratri (blogger www.CarolinaRatri.com) untuk Kumpulan Emak Blogger (www.emak2blogger.com).