Pendidikan dan Cuti Tahunan

By admin on August 30, 2016

ditulis oleh Inne Ria – www.inne.web.id

**

Apa yang terlintas di benak Emaks ketika mendengar kata “pendidikan”?

Apakah buku, pulpen, atau teringat guru di masa kecil?

 

Tentunya,  pendidikan selalu dipandang positif dan diharapkan membawa perubahan serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Teorinya sih seperti itu… Kemudian bagaimanakah dengan kenyataan dunia pendidikan kita?

Bukannya pesimis,  tapi berita yang berseliweran di beragam media akhir-akhir ini memang miris. Mulai dari berita kecurangan ujian, tawuran sampai yang terakhir adalah kekerasan kepada guru yang notabene dianggap sebagai sumber ilmu.

Berkaca pada beberapa negara maju seperti Jepang dan Finlandia, mereka terlebih dahulu menerapkan penanaman karakter kemudian materi akademis.

Adab dahulu, ilmu kemudian.

Konsep ini juga sejalan dengan pemikiran Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, yang memprakarsai Taman Siswa. Beliau mencetuskan ide bahwa sekolah haruslah menyenangkan, layaknya sedang bermain di taman.

Negara-negara maju tersebut sukses memanfaatkan pendidikan sebagai fondasi utama kekuatan bangsa.

Lalu kita kapan?

Sebagai orang tua, kita bermimpi jika anak-anak dapat menjalani hidupnya dalam versi terbaiknya. Bukan versi terbaik menurut orang lain. Untuk mencapai visi tersebut, kami mempunyai sebuah daftar impian tentang pendidikan Indonesia:

  • Pemerataan pendidikan

Mulai dari sarana, prasarana hingga staf pengajar. Dengan standar dan kualitas yang sama, maka semua sekolah adalah sekolah favorit. Kita bisa melambaikan tangan kepada “rebutan kuota” dan “waiting list”.

  • Di sekolah, anak bisa memilih mata pelajaran yang disukainya.

Dengan mempunyai hak untuk memilih subyek yang menarik baginya, anak akan merasa bahwa pendidikan adalah hak, bukanlah sebuah kewajiban. Dengan bebas memilih mata pelajaran, akan meningkatkan dan memperuncing bidang kemampuan anak. Sehingga, tidak ada lagi siswa yang “melongo” ketika ditanya mau jadi apa nanti kalau sudah lulus dari SMA/SMK? karena mereka sudah tahu batu loncatan berikutnya.

  • Anak mempunyai cuti tahunan

Kegiatan anak terkadang dibatasi oleh ketentuan dari sekolah itu sendiri. Banyak event tahunan yang dapat menjadi sarana belajar anak namun tidak diselenggarakan pada saat musim liburan. Atau mungkin sang orang tua hanya bisa mendapatkan cuti bekerja di luar musim liburan. Nah, dengan adanya “cuti tahunan” ini, anak dan orang tua bisa menyesuaikan jadual plesiran dengan bebas!

Oke, yang terakhir ini cukup ekstrim. Tapi, sah-sah saja, kan? Namanya juga mimpi. 🙂

Jadi, apa mimpi Emaks berikutnya?

 

Comments (13)

August 31, 2016
Eyang uti

Semoga mimpinya emak jadi kenyataan, mimpi yang kereeen bangeeet, bagaimana kalau semua emak punya mimpi seperti emak yang satu ini, lebih lebih yang bekerja di pendidik. Ditunggu mimpi berikutnya ya emaaaak


August 31, 2016

artikel menarik binggo. suatu hari nanti kalau ud punya anak, pengen nyekolahin yg bkin dia hepi tnpa preasure. ilmunya dpt, main2nya juga dpt.


August 31, 2016

Kalau saya punya anak. setuju banget dengan cuti tahunan. XD


August 31, 2016
Budiyati

Budiyati
setuju dengan cuti tahunan supaya antara anak dan orang tua bisa lebih dekat dan akrab


August 31, 2016
fitri yulianti

Setuju banget dengan adanya cuti tahunan biar bisa pulang kampung bersama keluarga biar lebih lama, itu mimpi saya


August 31, 2016
Leily

Setuju bgt sama 3 impian emak diatas.. semoga cepat/lambat semua impian bisa terwujud semuanya.. Aamiin..

Klo mimpi sy sebagai emak yaitu :
● Pembelajaran yg menyenangkan (bukan menegangkan) antara Guru dan Murid
karena menurut saya hal ini sangat membantu agar semua materi yg diberikan guru mudah diserap oleh anak-anak.

● Partisipasi Orang Tua
Menurut saya hal ini juga sangatlah penting dalam meningkatkan keberhasilan anak, jika anak mempunyai waktu lbh banyak dgn keluarga, maka perhatian dan kepedulian orang tua akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar anak di sekolah maupun di rumah.


August 31, 2016
Vera

Saya berharap agar pendidik dan siswa bisa saling bekerja sama, terutama sebagai pendidik agar bisa mengajak siswanya berkomunikasi dengan baik sehingga hubungan yang terjalin bukan hanya hubungan antara guru dengan murid yang biasa tetapi bisa menjadi hubungan seperti ibu dan anak atau antar teman


August 31, 2016
I Gusti Ayu Asti Nirmala

Saya pernah nonton film Educating Peter di HBO, tentang anak down syndrome yg bersekolah di sekolah umum di Amerika. Dan saya kagum bagaimana ada momen guru kelas nya duduk bareng sama anak2 sekelas Peter dan berdiskusi. Kira2 bagaimana rule do’s and don’ts utk mereka menghadapi Peter yg spesial. Scene ketika berdiskusi itu, si ibu guru benar2 mendengarkan semua suara anak murid dengan perhatian. Keren deh….mereka anak kelas 3 SD kalau ngga salah.
Saya mimpi…metode pembelajaran di Indonesia mengedepankan akhlak, manner anak2 dahulu. Agar mereka dari kecil tumbuh jadi anak2 yg peduli sekitar, punya empati, hati terbuka, punya manner yg baik dimanapun dan kapanpun. Saya akhirnya mendidik anak saya dg cara2 itu. Saya nggak butuh anak jenius, saya ingin anak saya bisa jadi lelaki yg sopan dan santun, bertanggungjawab, berani bersikap, bisa jadi pemimpin….hohohih Amiiin


August 31, 2016
ida

Setuju sekali. Apalagi point no 1 sehingga tidak ada lagi perbedaan yang mencolok antara sekolah negeri dan swasta.


August 31, 2016
Rorosyin

Mimpi saya mudah-mudahan bisa diapreasiasikan di sekolah umum dan swasta memberikan quota untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus ataupun anak-anak yang sensori-nya tidak berjalan sebagaimana anak normal lainnya.

Saat ini hanya ada beberapa sekolah swasta saja yang menyediakan quota tidak lebih dari 3 untuk anak-anak berkebutuhan khusus ataupun yg sensori-nya terganggu.

Dan semoga sistem belajar yg diterapkan disekolah entah itu negeri ataupun swasta memberikan pelajaran tentang budi pekerti, menerapkan diskusi agar anak-anak/murid/pelajar bisa merasa terlibat. pengalaman saya selama saya menjadi murid kita harus menerima saja pelajaran tersebut, sehingga pelajaran yang kita terima menjadi seperti beban dan jauh dari kesan fun.

Semoga kita bisa membuka diskusi ini bersama sehingga ada perubahan untuk sistem pendidikan di negeri ini. Karena pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab guru, sekolah, murid ataupun orang tua saja. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama.


September 11, 2016

Aihh jadi diingatkan…. Mau ditulis aja di blig nanti tanggaoannya ..hihi…


September 11, 2016

pendidikan tetap jadi salah satu modalku mak 🙂


Trackback

    Leave your comment :

  • Name:
  • Email:
  • URL:
  • Comment: