ditulis oleh Zilqiah Angraini –Β http://www.qiahladkiya.com/

Hari Raya Idul Adha atau biasa disebut juga dengan Lebaran Haji, adalah hari raya yang buat saya, membuat ‘baper’ (bawa perasaan). Bukan karena halalbihalal, tapi soal berhaji dan Arisan Qurbannya.

Naik haji bagi yang mampu adalah Rukun Islam yang kelima. Mampu, bukan hanya soal mampu dalam hal biaya, tapi juga kesehatan jasmani dan rohani untuk melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Begitu pun, tidak semua orang yang mampu bisa menunaikan ibadah haji, karena pertimbangan yang berbeda-beda. Ada alasan karena pekerjaan, keluarga, dana, usia, dan lain sebagainya. Ada yang dimudahkan, dilancarkan, dan ada pula yang mendapat halangan dan diuji kesabarannya oleh Allah SWT. Naik haji memang nggak mudah, tapi kalau kita sudah niatkan, Insya Allah dicatat sebagai amal kebaikan.

Nah bagi yang belum bisa melaksanakan ibadah haji ke tanah suci, musti tetap harus berbahagia bukan? Hehe..

Sejak menikah, saya merayakan Idul Adha di rumah Ummi. Karena Hari Raya Idul Fitri sudah di rumah mertua. Dan, yang paling saya suka dari merayakan Lebaran Haji di keluarga saya adalah Arisan Qurban. Dari jauh hari, keluarga besar sudah merancang dan mengumpulkan anggota untuk arisan qurban sapi. Karena kami keluarga besar, jadi anggotanya banyak.

Datok saya, bersaudara enam orang dan merupakan anak lelaki tertua. Sepulang dari sholat Idul Adha, keluarga besar kami berkumpul di rumah Datok, yang akan melaksanakan kegiatan pemotongan hewan kurban. Semua anak cucu dari enam bersaudara Datok berkumpul untuk berkurban.

Ada tiga ekor sapi yang siap dikurbankan, sesuai dengan nama dan group keluarga masing-masing.

Arisan Qurban

 

Arisan Qurban di keluarga kami, ada panita yang mengatur segala sesuatunya. Panitianya ya dari keluarga juga. Seperti tante yang menjadi MC, om yang bertugas memanggil tukang potong, ummi dan timnya yang menimbang dan membagikan daging ke tetangga juga fakir miskin, yang sudah tercatat datanya.

Datok bertugas untuk mencari imam untuk menyembelih hewan kurban, Papa yang melaksanakan takbir, dan saya tentu saja bagian mendokumentasikan seluruh kegiatan pelaksanaan kurban di Idul Adha itu.

Merayakan Berkurban

arisan-qurban3

Prosesi pertama dalam melakukan penyembelihan hewan sapi menjadi bagian yang paling mendebarkan, meski tata caranya sudah dirembukkan terlebih dahulu antara panitia. Siapa yang memegang kaki sapi, tali, bambu. Merebahkan sapi agar tidak berontak dan stress juga ada bagiannya.

Ketika sapi sudah siap disembelih, MC memanggil nama-nama anggota yang mengikuti arisan qurban. Setiap nama disesuaikan dengan sapi yang dikurbankan. Satu keluarga. Mereka kemudian berjejer di dekat sapi dan imam yang akan menyembelih.

Takbir pun dikumandangkan. Hati kami berdesir. Haru, dan entah kenapa airmata menetes begitu saja. Maha Kuasa Allah yang memberikan rejeki kepada keluarga kami untuk bisa berkurban.

Saat Papa mengulang takbir kedua, para perebah sapi maju dan mendekat ke hewan sapi yang akan disembelih. Anggota keluarga yang tadi berada di dekat sapi, mundur ke belakang. Perebah sapi memegang kaki sapi dan Imam mulai menyembelih.

Sambil menunggu nyawa sapi benar-benar hilang, MC memberikan sedikit ceramah tentang rasa syukur dan makna berkurban. Tak lupa memberikan pengarahan bagaimana membagi daging kurba, menyimpan dan lain sebagainya.

Setelah sapi disembelih, tim pemotong maju dan menggeser sapi ke dekat meja tim pembagi yang sudah siap dengan timbangan, baskom, pisau dan kreseknya. Tak lupa, daftar nama utama yang wajib dibagikan daging kurban.

Setelah proses pembagian daging kurban selesai, jika ada sisa daging kurban dibagikan kepada keluarga untuk dimasak bersama.

Momen yang tak kalah serunya. Saya dan para sepupu mulai memanaskan air, menyiapkan rempah untuk sajian konro. Sambil menunggu matang sop konro daging sapi yang butuh proses memasak selama dua jam itu, jika juga daging yang siap dibakar ala barbeque. Seru, karena setelah dibakar, daging langsung di makan di tempat bersama-sama.

Akhirnya, daging konro pun siap disajikan. Kami memanggil para keluarga untuk kembali berkumpul di rumah Datok, untuk makan bersama-sama.

Nggak hanya makan di rumah Datok, jika rumah sebelah makanannya sudah jadi, kami pun berkunjung ke sana untuk makan daging. Begitu seterusnya, makan bergilir sampai kenyang, hehehe.

Begitulah suasana Lebaran Haji atau berkurban di keluarga saya. Kalau emak-emak bagaimana cerita Idul Adhanya? Pasti tak kalah seru ya. Ditungu ceritanya lho.

***

Serunya Arisan Qurban merupakan tulisan pertama Collaborative Blogging #KEBloggingCollab kelompok Maudy Ayunda.

Zilqiah Mardiansyah atau Qiah Angraini adalah blogger yang tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Ibu dua orang anak yang suka fashion dan fotografi.