Reportase: Hasanah Putri Melati

**

42% anak pernah di-bully secara online.

82% anak rentan untuk menjadi korban bullying di dunia maya.

1 dari lima anak yang pernah di-bully secara online, mendapat perlakuan bullying lebih dari satu kali.

Beberapa fakta yang saya baca dari selebaran SEJIWA ini membuat saya ngeri. Sementara di dunia orangtua masih sibuk mengatasi bullying di sekolah, bullying online sudah mengepung anak-anak kita. Seperti mimpi buruk. Dan sayangnya, itu bukan mimpi.

Langit agak mendung di awal gelaran Car Free Day Sudirman, Ahad kemarin. Lobi FX sudah mulai dipadati orang-orang berkaos putih  bertuliskan ‘Aku Netizen Unggul’. Dan KEB menjadi satu-satunya komunitas blogger yang mendukung acara bertajuk Smart School Online Kick-Off. Saya turut bersemangat dengan suasana di sekitar lobi FX yang diisi beberapa tenda stan putih. Namun, ketika saya mengeluarkan isi tas yang didapat setelah mendaftar ulang, saya gemetar. Persoalan dunia maya di Indonesia sudah sangat darurat, sehingga sudah waktunya pemerintah menggandeng beberapa kementrian seperti Kemkominfo dan Kemendikbud untuk melakukan kampanye Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi di seluruh sekolah di Indonesia. Didukung pula oleh KPAI, KOMPAK, ecpat Indonesia, SEJIWA, dan masih banyak lagi, selain membuat acara ini semakin beragam, tetapi juga menunjukkan bahwa hal ini sangat serius.

P_20170924_074841

Betapa tidak, menurut data UNICEF, di tahun 2014 saja sudah ada 30 juta anak-anak Indonesia sebagai pengguna internet. Bayangkan saja jumlah sekarang ini. Dan tidak semuanya dibekali ilmu berinternet dengan sehat. Jika tidak dilakukan langkah-langkah nyata, maka generasi milenial akan diisi oleh mereka yang menjadi pelaku konten negatif atau korban konten negatif.

Walau fakta-faktanya mengerikan, tapi dari kampanyenya senantiasa dikemas secara menyenangkan. Acara yang dimulai pukul 7 pagi ini dibuka dengan sambutan dari …. [saya lupa namanya siapa ya?]. Alih-alih berpidato ke hadapan anak-anak, ibu ini justru mengajak anak-anak perwakilan 4 sekolah senam ringan dengan diiringi lagu ‘Cek Dulu’. Dengan nuansa beat yang ringan dan lirik rap yang jelas dan tepat juga membuat saya senyum-senyum menyimak petuahnya. Kira-kira seperti yang tertera di latar belakang photobooth yang berada di samping panggung: THINK before you POST, lebih baik fitnes dari pada fitnah, jarimu harimaumu, banyakin pujian bukan hujatan, saring before sharing. Slogan yang menggelitik tapi juga jleb. Saya jadi teringat kata seorang psikolog, anak-anak akan lebih menyerap sebuah nasihat jika berada dalam kondisi yang menyenangkan.

Selain sambutan dari KPAI, Kemkominfo,  google.org, perwakilan dari Kemendikbud menarik perhatian saya sebagai orangtua terkait Parenting Class alias Kelas Orangtua yang bertujuan menjadikan orangtua kembali sebagai pendidik. Bagi saya ini bermakna dalam karena kenyataannya, banyak orangtua menyerahkan sepenuhnya fungsi pendidik pada pihak lain yang kemudian dibayar jasanya. Padahal kedekatan orangtua dan anak adalah salah satu cara agar anak-anak terhindar dari eksploitasi online. Hal ini sejalan dengan yang tertulis di banner Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, “Luangkan Waktu, Peluk Anak-anakmu, dan Dengarkan Ceritanya …”

P_20170924_064435

Ecpat Indonesia memiliki cara unik guna memberikan wawasan eksploitasi anak-anak, yaitu dengan cara main giant ular tangga. Sayang anak-anak sempat galau mau ikut saya, karena kalau anak-anak saya jadi ikut ke sini, permainan ini akan membuat mbak-mbaknya kelelahan karena harus menjelaskan banyak hal di setiap pijakan yang didapat. Selain itu juga ada kegiatan Grow Your Own Protection Tree, semacam puzzle 3D yang bertuliskan hal-hal yang diperlukan agar anak-anak terlindungi dari eksploitasi. Acara ini juga ada hadiahnya loh. Ada yang berasal dari lomba mewarnai dan ada juga dari doorprize yang hadiah utamanya adalah Samsung Gpro. Wuuih ….

Dengan disediakannya beberapa spot informasi memungkinkan anak-anak dan orangtua yang datang mendapat pengetahuan secara dua arah terkait Internet Sehat sehingga bersemangat menjadi agen-agen konten positif. Karena seperti yang dikatakan perwakilan Kemenkominfo, “konten positif itu ibarat pohon. Beri like dan share, akan membuat konten positif itu bertumbuh subur.”

Tak hanya itu, rupa-rupanya ada tamu kejutan. Yosi Project Pop datang karena tertarik dengan tema acara ini. Dan memang kelihatan menguasai materi. Dari pertanyaan Yosi pada anak-anak, saya jadi tahu bahwa banyak anak yang sering menonton YouTube tapi tidak memiliki channel YouTube. Sedangkan akun itu sebenarnya membantu orangtua melakukan pembatasan akses video dan dapat melakukan rekam jejak anak-anaknya. Ada tiga hal yang ditekankan Yosi bagi generasi ‘now’ yaitu, positif, kreatif, dan produktif.

P_20170924_080752

Nah, apakah saya bisa menjadikan anak-anak saya seperti itu? Saya membatin.  

Anak-anak saya adalah generasi yang telah mengenal internet sejak lahir, maka tidak mungkin bagi saya menutup akses sepenuhnya dari gawai elektronik. Hanya saja, saya terus bertanya-tanya apakah yang sudah saya lakukan dengan membatasi penggunaan itu sudah sepenuhnya tepat. Adakah hal lain yang harus saya lakukan? Menurut pendapat seorang pengajar IT di sebuah sekolah dasar swasta, bahkan anak di kelas 6 pun belum bisa dikatakan mampu dibiarkan menggunakan gawai eletronik tanpa didampingi. Maka oleh sebab itu, kampanye Smart School Online itu menjadi kucuran ilmu baru yang tidak hanya diperlukan oleh anak-anak tetapi juga orangtuanya.  Agar konten positif itu terus bertumbuh. Agar anak-anak kita tidak menjadi korban, melainkan orang-orang yang menelurkan karya-karya inspiratif dengan memanfaatkan dunia digital.

Nah, sudah posting konten positif kah kita hari ini?