Beberapa hari jelang keberangkatan ke San Francisco, Amerika Serikat, saya didera pertanyaan tak berujung, ”Apakah yang aku lakukan ini benar? Tegakah aku, seorang emak, mengikuti passion dan bertandang ke event internasional semacam Google Local Guides, sementara keluargaku ada di rumah?”

Sembari melipat beberapa baju dan jaket, lagi-lagi batinku dirongrong pertanyaan, ”Apa efeknya buat Sidqi, anakku? Apakah dia bakal termotivasi untuk mengikuti jejak emaknya? Atau, justru, ia menuding emaknya bersikap egosentris?”

Senin, 9 Oktober 2017

“Jadi nanti, begitu aku pulang sekolah, Ibu udah nggak ada di rumah?”

Saya menganggukkan kepala, sembari menatap ia dengan pandangan sok tegar. ”Iya! Tapi nggak usah khawatir, di rumah kan ada Uti sama embak. InsyaAllah Senin pekan depan, Ibu sudah perjalanan balik ke Surabaya.”

“Padahal, tanggal 16 Oktober aku ulang tahun. Ibuk malah ke Amerika. Piye sih Ibuk ini? Ya sudah, aku berangkat sekolah dulu. Assalamualaikum….”

Sidqi mencium tanganku. Lalu ia menggowes sepedanya menuju sekolah. Haqqul yaqin, hati dia dan hati aku, tengah berdegup kencang. Hufttt… berangkat…. Enggak…. Berangkaat…. enggaaaa….. Makin galau di hari H!

Mendobrak Kemustahilan

Diantar dua orang sahabat, saya menuju Bandara Internasional Juanda. Sedari awal, saya berprinsip traveling minimalis aja. Hanya bawa satu koper (masuk bagasi), satu backpack (untuk baju cadangan di kabin) dan satu sling bag (untuk tempat dokumen penting seperti paspor, tiket, HP, kamera dll)

Google Local Guides

Di bandara, saya bertemu Fahmi Adimara dan Budiono. Ini duo travel-mate menuju ke lokasi acara Google Local Guides Summit. Bersyukur saya lumayan akrab dengan Budiono. Adapun Fahmi, ia tipikal traveller alam tulen, yang gampang membaur, dan walaupun usiaku dan Fahmi beda jauh (10 tahun!) kami bisa membahas hal-hal kekinian tanpa tersandera dengan gap usia.

Perasaan mellow yang sempat singgah beberapa saat lalu, kini plasss…. Lenyap seketika! Saya percaya, Allah Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati. Manakala didera rasa bimbang, berdoa dan banyak-banyakin istighfar! Saya juga amat bersyukur pergi ke benua yang begitu jauhnya, bareng 2 travel mate yang gokil nggak pakai takaran hahahaha.

Sekitar jam 11 malam waktu Amerika Serikat, kami mendarat di San Francisco International Airport. Gimana rasanya terbang lebih dari 20 jam? Errrrr….. capek… itu pasti. Namun rasa Lelah itu tergantikan dengan perasaan super-duper-excited! Gini ya, rasanya menginjakkan kaki di bumi Amerika… Bandaranya biasa aja kok.. mirip di Cengkareng  Dan Alhamdulillah, kedatangan kami disambut dengan sewajarnya oleh pihak imigrasi di Amrik. Yeah, maklum lah… eikeh kan baru kali pertama ini ke negerinya Pak Trump, jadi ya rada-rada parno gitu.

Kami dijemput driver berbadan besar, berwajah Arab.. dan ternyata doi adalah orang Palestina yang lama kerja di San Francisco! Waaaww….. kejutan yang menyenangkan! Kota ini memang laksana melting pot. Di kemudian hari, kami bakal sering ketemu wajah-wajah Asia, Arab… apalagi India dan China banyak banget yang kerja dan berkewarganegaraan di sini.

Akhirnyaaaaa… sampailah kami di Hotel Hyatt Fisherman’s Wharf. Konon rate hotel ini sekitar 3-6 juta rupiah per malam.. tapi hotelnya sederhana banget… mirip guest house atau hotel bintang 3 lah kalau di Indonesia. Karpet kamarnya juga kayak jarang dibersihkan. Eniwei… baru datang, saya langsung ngerasa Indonesia is THE BEST COUNTRY, euy!

Apalagi, begitu tahu kalau rate yang tinggi banget itu ternyata tidak termasuk sarapan! Ya ampyuuun…

Google Local Guides

“Selamat datang di San Francisco, di mana segalanya lebih mahal. Rate hotel, biaya yang harus kita keluarkan tatkala dine in di restoran, itu harganya udah mahal masih ditambah dengan tips sekitar 20% dari total F&B yang dipesan….” Gitu kata Bella, WNI asli Jakarta yang juga karyawan Google Singapore.

Gilaaaa  ~

Seuprit dollar dari money changer Indonesia, saya kekep sepenuh jiwa. Ini kalo extend, aku kudu keluarin biaya buat hostel….buat ongkos makan… buat ongkos transportasi ke Golden Gate dan beberapa tempat yang (maunya) bakal kami datangi. Wadaaaww!

Bersyukur ada Bella dan Ivan (pemuda Jakarta yang sudah 15 tahun bekerja di SF). Mereka berdua siap menjadi “money changer” berjalan. Mekanismenya, Bella mengambil beberapa dollar di mesin ATM… lalu saya hitung kurs rupiah, dan kirim WA ke suami di Indonesia, ”Pak, tolong kirim sekian juta ke rekening Bella ya. ”

Thanks to Digital World!

Selasa 10 Oktober pagi, kami mulai ketemu dengan sejumlah Local Guides yang berasal dari segenap penjuru bumi. O iya, Google Local Guides Summit ini diikuti 151 peserta dari 62 negara! Yap, bule-bule Canada, New Zealand, Australia… juga warga Brazil, Spanyol, Hongkong, Rusia, dan buanyaaaak lainnya. Berasa lagi ada di forum PBB deh. Seruuu banget! Dan yang lebih seru lagi, Google tuh meng-create acara ini secara FUN!

Banyak makanan, es krim, dan minuman 21++ yang bersebaran di seluruh venue welcome-party. (Sebagai muslim, saya bolak/balik tanya, mana yang mengandung babi/ minyak babi, alcohol atau partikel haram lainnya). Trus, properti warna-warni khas Google! Kita juga ditugasi untuk cari data nama dan negara asal para peserta, sambil dibekali stempel yang colourful, ahaaai, persis kayak mahasiswa lagi Ospek!

Semua keceriaan ini apalah artinya kalau Googlers (karyawan Google) memasang tampang muram ya kaaan? Bersyukur banget, kami datang disambut dengan antusiasme dan keramahan luar biasa! Googler dari Singapura, Jepang dan Amerika Serikat, semuanya dikerahkan untuk menyambut tamu-tamu special, para local guides yang selama ini aktif berkontribusi di Google Map, juga berkomunitas demi terciptanya energi persahabatan plus konten-konten yang menarik.

Kami bersuka cita. Saling bertukar cerita, senyum dan sapa. Bahasa Inggris saya masih grotal-gratul, kadang saya nggak mudeng kalo bule-bule itu ngomongnya dalam tempo yang “tidak normal”. (tidak normal menurut kuping emaknya Sidqi tentu saja haha)

“Heyyyy… Nuruulll…. I am Izzy… from Kentucky, United States… You come from Indonesia? Wowww… can hardly wait to come to your country….! I will go there, but I am sorry, I forget which city that I will visit…. But I heard that Indonesia is a very beautiful country, and the people there are awesome and nice!” 

OMIGOD! Jantungku berdegup kencang. Nasionalisme kian menyala-nyala dalam dada. ”Yeahhh, Izzy! You are right! We have so many beautiful destination and culture! You have to come to our country, just let me know so maybe I can be your local guides when you travel around Indonesia!”

Saya optimis, tahun ini apabila Google bikin Local Guides Summit lagi, maka member Kumpulan Emak Blogger bisa berangkat jadi salah satu delegasi. Untuk tahu apa dan bagaimana strategi yang saya terapkan sehingga terpilih sebagai peserta summit Google Local Guides, bisa Anda baca di https://bukanbocahbiasa.com/2017/10/31/tips-jadi-local-guides-dan-diundang-google-ke-amerika/

(*)

Ditulis oleh: Nurul Rahmawati, member Komunitas Emak Blogger yang juga delegasi Indonesia dalam Google Local Guides Summit 2017, di San Francisco Amerika Serikat. Silakan kunjungi blognya: www.bukanbocahbiasa.com dan www.nurulrahma.com