Hola Maks, sudah tahu kalau Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikukuhkan sebagai Kota Budaya ASEAN periode 2018 hingga 2020 oleh ASEAN Ministers Responsible for Culture and Art Forum? Pengukuhan ini membuat Yogyakarta, sejajar dengan kota budaya lainnya di dunia. Nah, sejalan dengan pengukuhan tersebut, tanggal 3 – 4 Agustus lalu digelar Jogja Cross Culture di Titik 0 (Nol) Kilometer Yogyakarta, dengan perhelatan budaya Jogja semacam Pertunjukan Wayang Kota, Festival Jamu dan Kuliner Yogyakarta. Mau tahu bagaimana gelaran acara budaya tersebut? Ini reportase dari Sekretariat Jogja Cross Culture 2019.

Jogja Cross Culture Jadikan Yogyakarta Kota Budaya Dunia

Pada hari pertama event Jogja Cross Culture 2019 ini, diadakan Jam Fest atau Festival Jamu yang digelar di utara Monumen SO 1 Maret 1949. Jamfest diikuti oleh 12 stan yang berasal dari warga kecamatan-kecamatan Kota Yogyakarta. Jamu-jamu yang disediakan oleh stan-stan ini dinikmati secara cuma-cuma oleh masyarakat yang sedang berada di kawasan Kilometer 0 (Titik Nol).

Festival jamu ini bukanlah kompetisi berjualan, tetapi saling menyanding untuk memberikan informasi kepada pengunjung tentang jamu dan kuliner, khususnya jamu yang banyak terdapat di Yogyakarta.

Sebelum membuka secara resmi Jogja Cross Culture, Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, MA menyempatkan diri mengunjungi stan-stan Jam Fest yang ada sambil mencicipi jamu-jamu yang disuguhkan.

Pembukaan event budaya Yogyakarta ini dilakukan Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi dengan pertunjukan Wayang Kota, yang juga merupakan rangkaian dari Jogja Cross Culture.

“Apa yang kita tampilkan di Jogja Cross Culture adalah kultur-kultur yang ada di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Baik kultur dari Nusantara maupun dari negara lain.” kata Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, MA.

“Jogja Cross Culture menandai bagaimana Yogyakarta baik sebagai orang maupun sebagai seni budayanya ketika bersama-sama dengan kultur lain akan saling menghidupkan dan memberikan kekuatan. Sehingga lahirlah seni budaya-seni budaya baru hasil perkawinan seni budaya – seni budaya tersebut.” lanjut beliau lagi.

 

Jogja Cross Culture, Yogyakarta Kota Budaya Dunia

Dokumentasi Sekretariat JCC 2019

 

Secara simbolis Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, MA., menyerahkan 8 kayon dan satu karakter wayang Gatotkaca kepada lima orang dalang dan tiga orang panjak yang akan mempersembahkan pertunjukkan Wayang Kota ini, sebagai tanda secara resmi dimulainya kegiatan Jogja Cross Culture 2019.

Lima dalang milenial yang berkolaborasi membawakan lakon Kancingjaya ini adalah Bumi Gedhe Taruna, Ganes Sutono, Bayu Probo, Sunu Prasetya, dan  Bayu Gupito. Sementara yang menjadi panjak di pergelaran ini adalah Wahyu WIcaksono, Wahyu Prasetya Aji, dan Zudhistiro Bayu P.

Wayang Kota dengan lakon Kancingjaya ini adalah perpaduan budaya tradisi dengan kekinian dipersembahkan melalui sajian wayang. Menghadirkan kolaborasi Wayang Ukur yang dimiliki oleh Maestro Wayang asal Kota Yogyakarta, Sigit Sukasman, dengan lima dalang yang lahir dari generasi milenial. Pagelaran ini mencatatkan sebuah proses fase demi fase penyatuan para dalang.

Diawali dengan kegiatan workshop Wayang Ukur, para dalang usia muda yang awalnya hanya mendengar tentang keunikan Wayang Ukur, kini memiliki kesempatan untuk menyentuh bahkan memainkannya dalam sebuah pementasan.

Wayang Ukur memiliki konsep unik yang membuat penontonnya menyaksikan wayang dengan pengembangan konsep pakem wayang diperkuat dengan tata cahaya, tata suara, serta diimbuhi dengan wayang orang.

“Saat ini mulai banyak anak-anak muda yang terlibat di paguyuban dalang. Tetapi para penontonnya masih dari kalangan sepuh. Di Jogja Cross Culture ini, disajikan sebuah konsep wayang secara kekinian, sehingga penonton tidak seperti melihat wayang, tetapi menonton bioskop. Ini bisa menjawab tantangan masuknya wayang untuk anak muda,” jelas Bumi Gedhe Taruna, salah seorang dalang yang juga seniman penginisiasi Wayang Cinema, konsep wayang yang memang hendak menjangkau anak-anak muda, dengan memberikan pengalaman menonton wayang seperti melihat bioskop.

Sebelum pergelaran wayang dimulai, masyarakat yang memadati kawasan Kilometer 0 Yogyakarta terlebih dahulu dihibur oleh pertunjukkan tari berjudul Kayon yang dibawakan oleh Anter Asmorotedjo dan Olivia Tamara.

Pagelaran Wayang Kota ini dimulai dengan Bumi Gedhe Taruna berada di depan kelir sepanjang 10 meter dan setinggi 2,5 meter, membelakangi penonton seperti para dalang pada umumnya bersiap memainkan wayang yang telah disiapkan di kanan kirinya.

Jogja Cross Culture, Yogyakarta Kota Budaya Dunia

Sementara itu Gedhe Taruna, Ganes Sutono, Bayu Probo, Sunu Prasetya, dan  Bayu Gupito, dibantu oleh para panjak berada di balik kelir. Mereka menggerakkan wayang yang bayang-bayangnya akan tampak selain memperindah tampilan, juga menguatkan jalan cerita selama pertunjukkan yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam ini.

Pertunjukan yang menceritakan tentang sepak terjang Gatotkaca ini disutradarai oleh Ki Catur “Benyek” Kuncoro yang sekaligus menjadi penulis naskahnya. Sebagai penata musik adalah Danang Rajiv Setyadi dan arranger Reno Sandro Hana. Untuk menciptakan visual yang menarik, Eko Sulkan dan Arif Dharmawan hadir sebagai penata cahaya. Kemudian masih diperkaya lagi dengan tampilan video grafis oleh Bayu Sanjaya, Agung Nasrullah, dan Dimas Purwadharma.

“Kancingjaya adalah salah satu nama dari tokoh utama lakon ini yaitu Gatotkaca, yang tidak banyak dikenal orang. Kisah ini menjadi menarik karena keutuhan cerita, fase demi fase dibangun dari penyatuan kelima dalang,” pungkas Ki Catur “Benyek” Kuncoro.

 

Jogja Cross Culture, Yogyakarta Kota Budaya Dunia

Penyelenggaraan hari kedua Jogja Cross Culture, 4 Agustus 2019, kegiatan dimulai dengan historical trail Njeron Journey yang mengajak para peserta menjelajah dan mengenal keunikan dan keragaman budaya yang ada di dalam beteng.

Lalu dilanjutkan kegiatan Sketsa Bersama Maestro di kawasan Kilometer 0 Yogyakarta. Sesuai namanya, kegiatan sketsa bersama ini nanti akan ditemani oleh para maestro seperti Joko Pekik dan Kartika Affandi.

Siang harinya, Keroncong Paramuda menghibur masyarakat di kawasan tersebut. Anak-anak pun mendapat kesempatan menikmati dan bersenang-senang di Jogja Cross Culture dengan Dolananè Bocah nJobo Latar. Seluruh masyarakat diajak menari bersama ratusan penari di kegiatan nJogéd nJalar Jog Jag Nong.

Malam hariny, acara dilanjutkan dengan Historical Orchestra Selaras Juang dan peluncuran Gandhes Luwes, Road to Jogja Cross Culture 2020, juga  peluncuran Jenang Golong Gilig, yang diharapkan akan menjadi makanan khas Kota Yogyakarta. Menutup seluruh rangkaian Jogja Cross Culture 2019 ini digelar Cross Culture Performance réUnèn dengan salah satu bintang tamu di dalamnya adalah Nugie.