Merasa si kecil nggak punya bakat seni, Mak? Ah, masa! Bukannya anak-anak sudah menyukai semua hal yang berbentuk seni sejak lahir ya?

Coba ingat-ingat, mereka dulu sewaktu bayi kan pasti suka sekali memperhatikan benda yang bergerak-gerak, apalagi yang berwarna. Saat sudah berusia 1 tahun, dia mulai suka spidol, pensil warna, krayon. Corat coret di mana saja, termasuk di dinding rumah, di sofa, di seprai. Hadeuh!

Kemudian dia lanjut ke merobek-robek kertas, terus disusun ulang. Bikin patchwork, mungkin begitu pikirnya. Terus, sudah pernah juga coba memberinya stiker kan? Pasti dia juga dengan riang gembira meminta kita mengelupasnya, lalu menempelkannya di mana-mana. Dicabut, lalu tempel lagi di tempat lain, sampai nggak bisa nempel lagi.

Dia juga pasti suka musik. Coba saja perdengarkan musik lalu ajak dia bertepuk tangan. Oh, pasti dia akan melakukannya dengan tertawa-tawa. Lihat pula betapa cepatnya dia menggoyang-goyangkan tubuhnya begitu mendengar suara musik dari mana pun. Apalagi ada kita yang menyemangatinya berjoget.

 

Hmmm … masih merasa anak kita nggak punya bakat seni?

Sesungguhnya, Mak, seni bukan masalah bakat dan nggak berbakat. Menurut para pakar tumbuh kembang anak, seni sebenarnya sudah menjadi bagian proses tumbuh dan kembang si kecil. Well, memang sih pada beberapa anak ada yang dianugerahi dengan kelebihan bakat seni, tapi bukan berarti yang lain nggak ada bakat sama sekali. Bahkan baik berbakat atau tidak, semua juga harus dikembangkan kan? Yang berbakat juga nggak akan merasakan manfaatnya jika nggak dikembangkan kan?

Anak yang berbakat melukis, misalnya, jika nggak dikembangkan atau diarahkan, maka gambarnya hanya akan begitu-begitu saja. Dia nggak akan kreatif menciptakan gambar yang baru. Sedangkan anak yang katanya nggak berbakat, kalau dilatih secara rutin dan baik, mungkin sih nggak akan sespektakuler Salvador Dali atau Van Gogh juga sih. Tapi setidaknya dia akan terlatih untuk kreatif menciptakan bentuk baru.

Namun, meski bakat seni seharusnya sudah melekat setiap orang sejak lahir, banyak faktor yang akhirnya membuat seseorang putus ikatan dengan seni. Misalnya, ada banyak orang yang mengaku nggak bisa gambar, bahkan bentuk sederhana sekalipun. Hmmm … bisa jadi karena dulu faktor lingkungan dan orang tua yang membuatnya begitu. Ah, curhat deh. Hihihi.

Soalnya kan memang, Mak, orang tua zaman dulu sepertinya banyak yang terlalu meremehkan kemampuan dan bakat seni. Mayoritas pasti lebih mementingkan melatih kemampuan matematis dan sains pada anak. Orang tua kerap melarang begitu anak-anak mulai mencorat-coret dinding. Apalagi porsi pelajaran seni di sekolah juga cuma sebagai pelengkap.

Padahal banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan si kecil seandainya kemampuan dan bakat seni anak dilatih. Apa saja?

 

5 Hal tentang Pentingnya Mengembangkan Bakat Seni pada Anak

Kenali Beberapa Gangguan Bicara pada Anak Agar Tak Terlambat Mengatasinya

1. Membuat anak menjadi lebih kreatif

Kreatif di sini berarti si kecil akan selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah. Contohnya, ketika bertengkar dengan temannya, maka dia akan selalu punya cara untuk menyelesaikan konflik dengan baik.

Bahkan, tahu nggak sih, Mak, anak kreatif biasanya malah mampu menyelesaikan soal matematika tanpa menggunakan rumus yang baku. Dia dapat menemukan jalan sendiri, dengan hasil yang sama!

2. Menjadikan anak lebih percaya diri

Jika anak mempunyai bakat seni yang berkembang, saat ia membuat karya seni, seperti melukis, crafting, menari, menyanyi, maka hal tersebut akan bisa memupuk rasa bangga terhadap diri sendiri.

Coba bayangkan, Mak. Saat dia melukis, misalnya. Dia akan menghabiskan waktunya selama berjam-jam, melibatkan seluruh panca indra, hati dan jiwanya. Dia akan melatih perasaannya, agar bisa menghasilkan lukisan yang mahaindah. Ketika selesai, dia akan merasa puas dan bangga karena telah berhasil menciptakan sesuatu. Apalagi kalau ditambah dengan apresiasi dari orang tuanya dan orang lain.

Seiring semakin besar cuping hidungnya berkembang, semakin besar pula kepercayaan dirinya. Hahaha.

Aktivitas Anak Saat Puasa

3. Lebih cepat mengembangkan kemampuan motorik

Di awal kita melatih bakat seni yang ia miliki, si kecil akan menggerakkan seluruh lengannya untuk membuat coretan saja. Nggak beraturan? Ya, biarkan saja. Lama-lama dia akan mampu mengendalikannya dengan lebih baik, hingga kemudian hanya lengannya saja yang bergerak menggoreskan pensil dan krayonnya.

Hal tersebut menandakan bahwa kemampuan motoriknya semakin matang, Mak. Coretannya semakin rapi, dan bermakna.

Anak yang terbiasa berlatih, kemampuan motoriknya akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan yang jarang atau tak pernah dilatih.

4. Belajar fokus

Seni sejak dulu menjadi media penolong bagi anak-anak berkebutuhan khusus, Mak. Pada anak dengan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) yang sulit fokus, proses membuat karya seni bisa membuat mereka lebih tenang dan fokus saat melakukan sesuatu.

Aktivitas, seperti menggambar, akan membuat anak tetap fokus dan konsentrasi pada hal yang dia lakukan, meski banyak aktivitas lain yang terjadi di sekelilingnya.

Kemampuan untuk fokus ini kelak akan berguna jika ia harus menyelesaikan soal matematika atau pelajaran lain yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

5. Menjadi sarana komunikasi nonverbal

Tak seperti orang dewasa yang dapat menyampaikan emosi, anak-anak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk berkomunikasi, begitu kata banyak pakar tumbuh kembang. Anak yang marah, sedih, lapar, takut, paling-paling ya hanya menangis.

Dan kita, orangtuanya, kadang nggak mengerti apa yang sebenarnya sedang dirasakan oleh anak-anak. Kalau anak dikembangkan bakat seninya, maka dia akan lebih mampu mengekspresikan emosinya. Kita juga jadi lebih mudah pula ikut merasakannya, baik itu berupa coretan, tarian, atau nyanyian.

 

Nah, siap untuk membantu si kecil mengembangkan bakat seni yang dimilikinya? Kalau sekarang, bakat seni apa yang sudah terlihat pada si kecil, Mak? Boleh share di kolom komen ya!

Semangat ya, Mak!