Dalam mengasuh dan mendidik anak, seringkali kita melakukan kekeliruan dalam komunikasi. Seperti apa tuh?

Pernah mengalami kejadian ini belum?

Mama: “Dedek, jangan loncat-loncat di tempat tidur nanti jatuh.”

Dedek: *tetep loncat-loncat di tempat tidur*

Mama: *suara naik 3 oktaf* “Dedek, Mama bilang jangan loncat-loncat di tempat tidur! Nanti kamu jatuh!”

Dedek: *cengar cengir* *tetep loncat-loncat di tempat tidur*

Mama: *suara naik 10 oktaf* “Dedeeeeeeek! Dikasih tahu kok nggak mau denger sih? Awas ya nanti kalo jatuh Mama  nggak mau nolongin! Anak kok bandel amat!”

Dedek: *brruuukkk… jatuh* *nangis* “Huaaaaa! Sakit, Ma! Sakit!”

Mama: “Nah, kan? Mama bilang apa? Sudah dikasih tahu nggak boleh loncat-loncat. Salahnya sendiri nggak mau dengerin. Jatuh kan sekarang? Kualat kamu sama Mama!”

Dedek: *nangis makin kenceng* “Sakit, Ma!”

Mama: “Aaah, cuma gini aja kok. Nggak sakit ini. Sini, Mama kasih obat luka.”

Dedek: “Nggak mau obat luka, Ma. Pediiih. Sakit. Nggak mau!”

Mama: “Eh, sini Mama kasih. Ntar tambah parah lo, lukanya. Mau kamu? Sakit sedikit. Besok juga sembuh! Makanya kalau dikasih tahu orang tua itu didengerin. Kapok kan kamu sekarang?”

Ternyata keesokan harinya luka si Dedek belum sembuh. Dia bingung, karena kata mamanya, besok lukanya sudah sembuh, tapi kok belum? Terus, katanya nggak sakit. Lalu, yang sakit itu yang seperti apa? Udahlah dimarahin, diancam, dicap bandel, didoain jelek, dibohongin lagi.

Nah lo!

Pernah, Mak, mengalami kejadian seperti itu?

Barangkali hal itu sih nggak sengaja kita lakukan ya, Mak? Ya, karena kebiasaan sehari-hari begitu, karena cara orangtua kita dulu berkomunikasi dengan kita juga ya seperti itu.

Padahal kekeliruan itu bisa berakibat fatal terhadap perkembangan kepribadian anak. Antara lain bisa:

  • Melemahkan konsep diri
  • Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama
  • Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
  • Kemampuan berfikir menjadi rendah
  • Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
  • Iri terus

Kalau kita kembali ke percakapan di atas, sudah ada berapa banyak kesalahan komunikasi yang dibuat si mama ya?

Ada ancaman, memberi cap/label, meniadakan perasaan anak, berbohong, dan lain-lain. Padahal itu baru 1 kejadian saja lo.

Bayangkan, berapa banyak hal yang kita alami selama 1 hari?

Anak telat bangun tidur padahal harus sekolah, kita omelin. Anak pulang sekolah dengan muka kusut karena dibully temannya, capek, banyak PR bukannya disambut dengan senyuman, disuruh makan dulu, ditanya baik-baik, eh diomelin cuma karena nggak lepas sepatu dan ngotorin lantai rumah yang sudah kita pel sampai mengkilat.

Ulangan anak dapat nilai 80, kita marahin karena kita penginnya dia dapet 100. Lha, padahal dari 20 soal itu dia betul 16 lho, cuma salah 4. Kenapa nggak kita apresiasi dulu keberhasilannya menjawab 16 soal yang mungkin kita juga belum tentu bisa jawab itu? Baru pelan-pelan ditanya 4 soal yang salah. Bila hati senang, otak menyerap lebih banyak lo, Mak. Anak yang bahagia biasanya lebih baik prestasinya, lebih bagus konsep dirinya, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

Bukan mau nakutin nih, tapi kata Ibu Elly Risman, psikolog dari Yayasan Buah Hati, anak zaman sekarang itu udah kebanyakan beban yang bisa bikin mereka bored, lazy, angry/affraid, stress, tired (BLAST).

Keharusan mempelajari 16 mata pelajaran di sekolah yang mungkin belum tentu ia butuhkan untuk kelak bertahan hidup, hanya dinilai berdasarkan nilai yang berupa angka adalah sedikit dari penyebab BLAST itu. Belum lagi ketidakpedulian orang tua akan perasaan dan kebutuhan anak, yang penting nilai harus bagus, peer pressure, dan masih banyak lagi bisa menimbulkan banyak masalah yang tidak terpecahkan, antara lain: pacaran di usia dini, seks bebas, aborsi, putus sekolah, nikah muda, bercerai, narkoba, hingga HIV/AIDS.

Jadi kita mesti gimana dong? Semua itu berawal dari komunikasi saat kita sedang mendidik anak.

 

Yuk, kita perbaiki gaya komunikasi kita dalam mendidik anak dan pasangan dengan cara berikut.

1. Bicara jangan tergesa-gesa

Ajak anak untuk belajar membuat rencana, belajar berpikir, memilih, dan mengambil keputusan supaya dia bisa mandiri dan bertanggung jawab.

Misalnya, setiap minggu bikin daftar menu, Kakak mau sarapan pake apa, Adik apa. Lalu ajak mereka untuk berbelanja, suruh pilih sendiri bahan-bahan yang mereka perlukan untuk sarapannya selama 1 minggu itu.

Konsekuensinya kalau suatu hari dia nggak mau makan apa yang sudah dipilihnya ya biarkan saja, Mak.

 

2. Belajar untuk mengenali diri kita dan mengenali lawan bicara kita (anak, suami, ART, ortu, saudara, tetangga, teman kerja)

Coba kita lihat diri kita sendiri, apakah pola asuh orang tua kita dulu memberikan efek positif atau negatif. Seandainya kita diperlakukan seperti contoh di atas, bagaimanakah perasaan kita?

Maka, kalau kita tidak mau diperlakukan seperti itu, ya janganlah memperlakukan anak dengan hal yang sama.

 

3. Ingat: setiap individu itu unik

Iyalah, kita aja pasti nggak suka kan kalau pasangan banding-bandingin kita sama istri temannya?

Nah, anak juga begitu. Jangankan sama anak tetangga, yang keluar dari rahimnya bareng alias kembar aja beda, dan pasti nggak suka kalau dibanding-bandingkan.

 

4. Pahami bahwa kebutuhan dan kemauan itu adalah hal yang berbeda

Sering kali, dalam mendidik anak, kita memaksakan kemauan kita kepadanya, padahal apa yang dia butuhkan bukan itu.

Contoh sederhana nih, Mak.

Anak: “Haus, Ma!”
Mama: “Minum susu.”
Anak: “Nggak mau susu, Ma. Es teh aja, aku pengin yang seger-seger.”
Mama: “Eh, Mama bilang minum susu. Ntar kuntet kamu kalau nggak mau minum susu!”

 

5. Baca bahasa tubuh

Ketahui bahwa action speaks louder than words, dan bahasa tubuh nggak pernah bohong.

Misalnya, anak pulang sekolah mukanya cemberut, buka sepatu sambil dilempar. Kita tanya, “Kenapa, Kak?” Dia jawab, “Nggak papa!” Lantas dia masuk kamar sambil banting pintu.

Itu bukan berarti dia beneran nggak apa-apa lo, Mak. Pasti kenapa-kenapa, dan kita nggak boleh cuek.

 

6. Dengarkanlah perasaan

Tandai pesan yang terlihat, jangkau rasa, buka komunikasi, namai perasaan yang tampak pada pesan itu.

Misalnya dalam kasus no. 5 di atas, lihat anak pulang sekolah dengan wajah cemberut, kita bisa menegurnya seperti ini.

Mama:  “Wah, anak Mama udah pulang nih. Kenapa kok cemberut gitu (menandai pesan)? Kakak capek ya (menjangkau rasa)?”
Anak: “Enggak papa!” *lempar tas*
Mama: “Ooooh, kakak laper ya (buka komunikasi)?”
Anak: “Enggak kok. Nggak laper!”
Mama: “Oooo, anak Mama lagi kesel banget ya (menamakan perasaan)?”
Anak: “Enggak, Ma! Aku tuh lagi benciii!”
Mama: “Kakak lagi benci ya. Benci sama siapa?”
Anak: “Tadi ya, Ma, PRku kan ketinggalan. Terus, aku distrap di depan kelas.”
Mama: “Wah, malu banget dong, Kak!”
Anak: “Nggak cuma itu aja, Ma! Waktu aku disetrap, si Edi tuh masak julurin lidah ke aku?”
Mama: “Kesel dong, Kak, digituin?”
Anak: “Iya, Ma. Bla bla bla …”

Teruskan sampai anak tuntas bercerita. Jangan dipotong, disalahkan, bahkan dinasihati. Pancing aja terus dengan mengungkapkan perasaan-perasaan yang tersirat dalam setiap ucapannya.

 

7. Hindari 12 gaya populer dalam berkomunikasi

Apa itu? Yaitu memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir, dan menganalisis.

Dalam hal mendidik anak, model komunikasi ini akan mengakibatkan anak tidak percaya akan perasaannya sendiri, sehingga ia bisa merasa nggak percaya diri. Konsep dirinya hancur, nggak bisa menghargai dirinya sendiri.

Selain itu, kalau kita berbohong, jiwa anak akan goyang alias labil yang akhirnya bisa mengakibatkan mental breakdown.

 

8. Tentukan masalah siapa?

Ya, tentukan apakah masalah tersebut merupakan masalah anak atau orang tua? Dibantu atau dibiarkan?

Hidup adalah pilihan dan pilihan. Misalnya, seperti contoh di atas, anak ketinggalan PR -> masalah anak, dibantu atau dibiarkan -> dibiarkan.

Kenapa? Supaya anak bisa belajar konsekuensi ketinggalan PR itu apa.

 

9. Mendengarkan secara aktif

To listen atau mendengarkan berbeda dengan to hear atau mendengar.

To listen, atau mendengarkan secara aktif, berarti melibatkan perasaan. Jadilah cermin, pilih kata-kata yang menunjukkan kita mengerti apa yang dirasakan orang yang sedang bicara dengan kita. Seperti, “Oooo… gitu.” “Sedih bener dong, kamu.” “Kecewa ya?”

Sering kali orang curhat hanya karena dia ingin didengarkan, bukan untuk dinasihati apalagi disalahkan. Termasuk anak-anak kita.

 

10. Sampaikan PESAN SAYA.

Marah itu boleh banget, kalau enggak, nanti bisa stroke.

Tapi, gunakanlah “pesan saya”. Misalnya, lebih baik bilang, “Mama kesal kalau Kakak pulang sekolah copot sepatu di dalam rumah, karena lantai jadi kotor.” Alih-alih, “Ya ampun, Kakak, nggak bisa apa copot sepatu dulu? Liat deh, lantai jadi kotor! Kamu ini bandel banget, nggak tau apa, Mama capek ngepel lantai?”

Dueeeenng!

 

Eh iya, tambahan lagi soal mendidik anak nih.

Menurut ibu Elly, it takes a village to raise a child. Maksudnya, untuk menghasilkan anak Indonesia yang berkepribadian tangguh, memiliki konsep diri yang baik dan tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk dibutuhkan kerja sama dari seluruh keluarga di Indonesia.

Jadi, mari sama-sama belajar berkomunikasi yang baik dalam mendidik anak, bekerja sama dengan keluarga yang lain, demi anak Indonesia yang sehat fisik dan mentalnya.

 

Disarikan dari Seminar “Komunikasi Pengasuhan Anak” oleh Ibu Elly Risman, Psi dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang diselenggarakan oleh Supermoms Indonesia, sebuah komunitas mommies peduli pengasuhan anak.