Tak jarang ketika menghadapi anak, seorang ibu harus kewalahan. Entah karena Si Kecil selalu menangis saat keinginannya tak terpenuhi, atau terus mencari perhatian sang ibu dengan berbagai cara. Termasuk cara-cara ekstrim yang mereka bisa. Tapi jangan sebut mereka anak yang nakal ya, maks.

Memang, mengurus anak itu harus dijalani dengan penuh cinta, sepenuh hati dan bahagia. Berkali-kali menanamkan itu di dalam hatinya, namun seorang ibu tetaplah juga manusia. Yang memiliki kesabaran tak terbatas tapi juga memiliki emosi yang kadang tak terbendung.

Apalagi jika keseharian si anak sering kali bersikap terlalu aktif, tak dapat duduk dengan tenang, sering memukul temannya, melempar barang-barang di sekitar dan lain-lain. Yang pada akhirnya dikomentari oleh saudara atau tetangga “Anakmu nggak bisa diam banget, sih.” Atau parahnya anak kita akan dicap nakal, bandel, susah diatur.

Campur aduklah perasaan orang tua ketika mendapatkan laporan dari sekolah atau tetangga dekat bahwa ada anak lain yang menjadi korban pukulan, dorongan atau gigitan dari anaknya. Setengah hati mengakui memang si anak bersikap berlebihan, setengahnya lagi bertanya-tanya harus bagaimana menghadapi dan menangani anak ini?

Penilaian negatif dari orang lain terhadap seorang anak secara tidak langsung akan membuat orang tua (terutama ibu) ingin mendidik anaknya menjadi anak yang harus mendapat penilaian positif. Anak tidak boleh lagi nakal dan bandel, harus bisa diatur.

Lalu ibu pun mulai mendisiplinkan anaknya, bahkan juga memarahi dan menghukum jika anak melakukan kesalahan. Tapi bukannya berubah jadi anak baik-baik, yang terjadi malah tambah brutal. Tenaganya untuk memukul dan membanting justru semakin kuat. Ada apa dengan anak ini? Apa sih maunya?

Jangan dulu memberikan label ‘nakal’ kepada anak dengan ciri-ciri seperti di atas, apalagi kepada anak sendiri ya, maks. Jangan-jangan anak tersebut mengalami gangguan sensori integrasi sehingga kerap kali bersikap mengganggu. Perlukah anak tersebut diperiksa oleh seorang psikolog?

Sensori Integrasi

Anak yang Nakal

 

Ada kalanya seorang anak mengalami keterlambatan bicara, sehingga ada hambatan ketika berkomunikasi dengan orang tua, saudara atau temannya. Ketidakmengertian orang lain terhadap apa yang disampaikan anak ini dapat membuat dirinya menjadi frustasi, pada akhirnya si anak menjadi marah dan tantrum.

Selain karena gangguan pendengaran dan kelainan organ bicara, speech delay juga dapat terjadi jika seorang anak mengalami gangguan sensori integrasi. Yaitu, tidak optimalnya sistem syaraf seseorang dalam menerima seluruh informasi di sekitarnya melalui sensori atau 7 indera (5 panca indera, ditambah sistem otot/sendi dan sistem keseimbangan), sehingga informasi tersebut tidak dapat diartikan dengan baik dan menyebabkan perilaku yang tidak adaptif.

Beberapa contoh gejala pada anak yang mengalami gangguan sensori integrasi, sebagai berikut :

  • Sulit konsentrasi, tidak merespon saat dipanggil namanya, menghindari kontak mata, sangat merasa terganggu oleh suara kencang atau suara yang tiba-tiba.
  • Menyentuh orang lain atau benda-benda dengan cara yang mengganggu, contohnya terlalu kencang
  • Tidak suka menyentuh benda dengan tekstur tertentu, atau tidak suka dipeluk bahkan oleh orang tuanya sendiri
  • Sulit duduk tenang, sangat aktif, sering melakukan gerakan yang tidak bermakna
  • Dan lain-lain

Gangguan sensori integrasi yang tidak ditangani sejak dini ternyata dapat mengganggu perkembangan seorang anak dalam banyak hal dan berdampak jangka panjang. Berikut beberapa contoh yang diakibatkan oleh gangguan sensori integrasi.

Terlambat bicara

Karena sikapnya yang tidak fokus, anak akan kesulitan menirukan kata-kata orang tuanya ketika diajarkan mengucapkan sesuatu. Tak hanya itu, ia bahkan tidak dapat menerima dengan baik instruksi yang diberikan saat stimulasi.

Setidaknya seorang anak sudah harus pandai berbicara saat ia akan masuk sekolah taman kanak-kanak. Bagaimana ia dapat berinteraksi dengan guru dan teman-temannya kalau cara berkomunikasinya saja masih belum optimal. Ini baru sekolah TK yang sebagian kegiatannya adalah bermain. Ketika masuk SD, seharusnya kemampuan komunikasinya sudah lebih  lagi baik.

Perilaku tidak adaptif

Kata “tidak bisa diam” adalah predikat yang sering diberikan pada anak dengan sensory problem. Karena memang syarafnya yang belum berkembang dengan baik sehingga otot dan sendi selalu menuntutnya untuk terus bergerak. Tubuhnya justru tidak dapat seimbang ketika harus duduk diam. Makanya anak jadi terlihat aktif dan tidak pilih-pilih tempat, sehingga kerap diduga anak yang nakal. Mau di rumah, di mall, di restoran, di angkutan umum dan lain-lain. Orang tua pun jadi ikutan tidak tenang, contohnya setiap mau makan di restoran ayah dan ibu harus bergantian menjaga si kecil yang tidak bisa diajak makan bareng.

Pemilih makanan

Karena merasa tidak nyaman dengan tekstur tertentu (berkaitan dengan sistem perabaan atau tactile) anak jadi jijikan, tidak nyaman menyentuh ini dan itu. Hal ini bisa berlanjut pada pilih-pilih makanan, ia hanya bisa atau mau memakan makanan tertentu yang ia rasa nyaman di lidahnya (sistem pengecapan). Baik dari tekstur maupun aromanya. Bagaimana kita bisa memberikan nutrisi dan gizi seimbang kalau makannya saja pilih-pilih?

Tidak dapat tidur dengan tenang

Karena terlalu sensitif terhadap suara-suara, menjadikannya sering terbangun akibat mendengar sesuatu. Padahal anak kecil membutuhkan tidur lebih lama dibandingkan orang dewasa. Pertumbuhannya pun akan terganggu. Dan kebiasaan ini tidak dapat dengan mudah berangsur membaik jika tidak distimulasi dengan benar.

Dihindari oleh teman

Menyentuh sesuatu dengan tekanan yang tidak biasa dan mengganggu, misalnya terlalu kencang. Ketika menulis akan sangat ditekan sampai ujung pensil bisa patah. Jika menutup pintu selalu dibanting. Begitupun saat menyentuh temannya, padahal niatnya ingin memegang tetapi malah jadi terkesan memukul atau mendorong. Akhirnya anak tidak disukai oleh teman-temannya. Berkurang lagi kesempatan bagi anak untuk bersosialisasi dan berkembang.

Konsultasi dengan Psikolog Anak

Tulisan ini hanya memberi referensi dalam hal pilihan untuk berkonsultasi ke psikolog atau tidak. Semua keputusan ada pada masing-masing orang tua. Tetapi dengan memeriksakan si kecil ke psikolog akan ada manfaat tersendiri yang dampaknya baik bagi keluarga.

Sensory problem hanyalah satu contoh yang saya ambil berdasarkan pengalaman pribadi. Dan masih banyak lagi kondisi psikologi anak yang membutuhkan tenaga ahli untuk penanganannya.

Mungkin kita telah melahap banyak buku parenting, bagaimana pola asuh yang baik, seperti apa stimulasi atau sensory play yang harus dijalani anak-anak sehingga dapat mencapai perkembangan yang optimal, dan sejumlah kegiatan lain demi mendukung pertumbuhan si kecil. Tapi ada saatnya apa yang telah kita perbuat ternyata tidak cukup.

Seorang psikolog tentunya dapat melihat permasalah dari sudut pandang yang lebih luas. Orang tua akan diinterview tentang pola asuh dan perilaku anak selama ini. Bisa saja yang menurut kita anak aktif itu artinya sehat, ternyata menurut psikolog si anak justru bermasalah.

Dengan berkonsultasi maka orang tua bisa mendapatkan gambaran permasalahan tersebut dan bagaimana cara menanganinya, yang biasanya dengan menjalani terapi. “Ah, itu mah bisa-bisanya psikolog aja biar kliniknya dapat income.” No, please not to judge that way. Masalah psikologi anak bukanlah hal main-main. Keberhasilan psikolog dan terapis dalam memberikan terapi bagi anak, adalah keberhasilan orang tua juga.

Memang sih, tidak semua orang mampu secara finansial untuk menjalani terapi di klinik psikologi. Tetapi jika sudah mendapatkan gambaran, tentu para orang tua jadi memiliki dasar untuk melakukan langkah selanjutnya. Bisa juga menjalani terapi di rumah berdasarkan pengetahun yang bisa kita cari dimana-mana.

Seorang anak yang berkembang dengan baik tentunya akan memberikan kebahagiaan tersendiri di dalam keluarga. Dan tentunya kebaikan bagi anak itu sendiri, karena orang tuanya telah memberikan kesempatan untuk tumbuh lebih baik, sebagai bekal akademis dikemudian hari.

Kapan Harus ke Psikolog Anak?

  • Orang tua bisa mengajak si kecil ke psikolog anak ketika dirasa perilakunya amat berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Misalnya saja anak-anak berkebutuhan khusus.
  • Untuk kasus speech delay & sensori integrasi bisa dilihat mulai anak usia 2 atau 3 tahun.
  • Sebisa mungkin anak didampingi oleh orang tua lengkap—ayah dan ibu, agar keduanya mendapatkan pemahaman yang sama terhadap suatu masalah.
  • Pilihlah rumah sakit atau klinik psikologi yang paling baik berdasarkan referensi, rekomendasi dan testimoni.
  • Orang tua biasanya akan diminta membuat janji dengan psikolog. Jadi sebaiknya pertama kali menghubungi klinik lewat telepon saja agar tidak bolak-balik.
  • Klinik psikologi biasanya juga dapat membantu anak dalam tes IQ dan tes kesiapan masuk sekolah. Jika berminat maka fasilitas ini bisa dimanfaatkan. Jadi klinik psikologi anak bukan selalu untuk anak-anak yang bermasalah.

Memeriksakan Si Kecil ke psikolog anak atau tidak, tergantung pada kesanggupan orang tua. Baik itu kesanggupan secara finansial, maupun kesanggupan untuk lebih ekstra mendukung tumbuh kembang anak lebih dari anak-anak lain pada umumnya. Jangan ada lagi cerita anak kita dicap “nakal” oleh orang lain, hanya karena orang tuanya tidak mengerti permasalahan yang sebenarnya.

***

Post trigger ini berjudul asli “Perilaku Anak Tidak Adaptif? Jangan Sebut Ia Anak yang Nakal” merupakan trigger keempat #KEBloggingCollab untuk kelompok Siti Nurbaya.

Ditulis oleh Dzulkhulaifah Rahmat,  seorang ibu beranak satu yang gemar menulis dan menjahit, di tengah aktivitas mengurus rumah dan keluarga.