Berbicara mengenai kids zaman now, tidak bisa dipisahkan dengan generasi sebelumnya. Bandingkan saja dengan  generasi 90an. Tidak butuh waktu lama bagi teknologi mengubah semua aspek kehidupan.

Kemajuan teknologi memang memudahkan kita. Salah satu kemajuan teknologi itu adalah smartphone atau handphone yang telah menjadi kebutuhan dan tidak lagi dikategorikan sebagai barang mahal. Dan anak-anak sekarang, sudah melek teknologi. Dari masih balita, kids zaman now sudah sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Bandingkan dengan masa kecil generasi sebelumnya, bisa bermain bebas dengan teman-temannya tanpa terinvasi gadget.

Baca juga: Realita Kids Zaman Now, Ada Apa?

Bukan hal yang aneh lagi jika anak-anak akrab dengan permainan ponsel, Youtube, Facebook, Instagram, Twitter, dan media sosial lainnya. Anak zaman sekarang, lebih memilih memelototi handphone masing-masing. Dan, di sinilah masalah timbul.

Kids zaman now kebanyakan tidak bisa memfilter apa yang mereka lihat melalui gadget mereka. Banyak hal buruk mereka serap, yang mereka pun tidak mengerti hal tersebut. Sebagai contoh: mengucapkan kata-kata kasar. Nj*ng, sh*tf*ck, adalah salah tiga dari makian yang sering terlontar.

Dari mana mereka mendapatkan kata-kata itu? Dari tontonan. Jika tontonan di televisi ada lembaga penyensor, lain halnya dengan Youtube sebagai salah satu platform yang sedang digandrungi. Mempunyai beberapa adik laki-laki, sedikit banyak aku mengetahui beberapa gamers di Youtube dengan gampangnya mengucapkan makian pada video-video yang mereka unggah. Sedangkan video semacam itu selalu laris hingga banyak pembuat konten sejenis.

Belum lagi di Instagram dan Facebook misalnya. Seringkali berseliweran di fitur search Instagram, contoh-contoh kelakuan kids zaman now. Pernah yang paling parah, tampil video instagram balita menonton video porno tepat di sebelah ibunya sendiri dan ibunya sama sekali tidak menyadari. Have you no shame?

Yang jadi pertanyaannya adalah: orang yang memvideokan hal tersebut kenapa tidak menegur dan malah mengabadikannya dalam bentuk video?

Kids Zaman Now

Sumber gambar: cdn.brilio.net

Sama saja dengan realita kids zaman now yang dikit-dikit upload, dikit-dikit vlog. Korban kecelakaan difoto, divideokan, lalu diunggah, alih-alih segera ditolong. Untuk hal ini, anggaplah bukan hanya kids zaman now yang bisa disalahkan. Kenapa tidak menolong korban-korban tersebut, ketimbang memvideokannya?

Jika yang diidolakan kids zaman now adalah selebgram dan pasangan-pasangan labil yang terlalu mengumbar kemesraan mereka, sebagai contoh berpelukan, berciuman tanpa peduli orang lain, mabuk-mabukan, merokok, liburan berdua, merayakan anniversary atau ulang tahun ke-17 di kamar hotel layaknya pasangan suami istri, maka apa yang bisa kita harapkan pada anak zaman sekarang? I mean, apakah itu couple goals yang diimpikan kids zaman now?

Belum lagi banyak remaja yang tanpa kita sadari sudah melewati batas. Dari luar bertampang polos, berkelakuan baik-baik saja, tapi ternyata malah sudah biasa berpacaran, berhubungan intim, dan bergonta-ganti pasangan.

“Eh, kita itu ga boleh diam aja, nanti kita ga bisa dapet calon. Emangnya mau jadi perawan tua?” kata salah satu anak kelas X beberapa bulan lalu.

Ada apa dengan moralitas bangsa kita? Ke mana adab ketimuran yang kita agung-agungkan itu?

Peran orang tua terhadap Kids Zaman Now

Dari bayi hingga remaja merupakan masa emas di mana anak-anak belajar, meniru dan menyerap berbagai hal. Anak-anak butuh ruang untuk bertumbuh, mendapatkan pendidikan moral yang ditanamkan secara kuat, dan berinteraksi langsung dengan teman-temannya. Mereka punya hak untuk bersentuhan dengan alam, bersosialisasi dan memiliki kesempatan bermain dengan bebas.

Tak bisa kita pungkiri lagi bahwa kecanggihan teknologi memang sudah mempengaruhi semua aspek kehidupan. Dalam bidang pendidikan misalnya, anak-anak sudah mengerti google. Dulu, untuk mencari solusi atas sebuah masalah, kita perlu mencarinya di berbagai buku atau bertanya langsung kepada ahlinya. Namun detik ini, kita hanya perlu membuka situs pencarian, dan voila, semua ada.

Mungkin tidaklah lagi tepat dikatakan buku adalah jendela dunia. Untuk zaman sekarang ini bisa dikatakan google-lah jendela dunia itu.

Bahkan Bill Gates, seorang pendiri Microsoft melarang anaknya untuk menggunakan ponsel sebelum menginjak usia 14 tahun. Seorang Bill Gates sebagai salah satu orang terkaya di dunia, juga mengatur pengguaan ponsel secara ketat pada anaknya yang memiliki ponsel. Steve Jobs sang pemilik brand Apple pun melarang anaknya menggunakan iPhone dan iPad, dua produk unggulan Apple. Alasan keduanya sama, takut anak-anaknya akan menerima dampak negatif dari gadget tersebut.

Sayangnya, anak-anak zaman sekarang lebih peduli dengan teknologi yang ada. Jika orang tuanya lebih mementingkan pekerjaan, maka mereka kehilangan waktu untuk bercengkrama dan kebersamaan dengan orang tua.

Kids Zaman Now

Sumber gambar: pixabay.com

Apakah tepat jika anak-anak diperkenalkan dengan gadget sedini mungkin? Apa saja dampak yang akan ditimbulkan? Apa solusinya?

Di sinilah peran orang tua dibutuhkan. Semakin canggih teknologi, semakin gampang akses yang tercipta, maka semakin berat pulalah tanggung jawab orang tua. Situasi sudah jauh berubah dalam waktu singkat. Diperlukan peran orang tua untuk bisa merangkul anak-anaknya, menanamkan pelajaran-pelajaran moral yang diperlukan. Kualitas komunikasi dalam keluarga perlu ditingkatkan, dan beri mereka pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai agama. Buatlah anak-anak bisa dengan senang hati bercerita dengan orang tua, dan beri telatan bagaimana cara bersikap. Semakin keras orang tua bersikap ke anak-anaknya, semakin menjauh pula mereka.

Untuk itu, orang tua perlu memiliki kesamaan visi misi. Ibu dan ayah menjadi kesatuan dalam mendidik anak mereka. Terutama seorang Ibu, karena ibulah yang berperan langsung mendidik anak-anaknya. Jika kids zaman now selalu melihat ibunya sibuk dengan gadgetnya sendiri, lantas bagaimana kita bisa meminimalisir dampak negatif penggunaan gadget, dan pergaulan kids zaman now yang sudah di luar batas?

***

 

Kids Zaman Now, Kemajuan atau Kemunduran Bangsa? merupakan post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Najwa Shihab.

Dituliskan oleh Anindita Ayu Prastiwi, seorang freelance blogger dan penikmat buku. Saat ini tinggal dan menetap di Bengkulu.

http://www.aninditaayu.com

 

IG: @aninditaayu.p

Twitter: @AyuAnindita