Akhir-akhir ini sepertinya lagi musim reuni ya, selain musim rambutan, durian, musim hujan dan lainnya. Mulai dari reuni  teman kampus, teman SMA, teman SMP, teman SD, untungnya gak sampai reuni teman TK sih. Saya mah gak pake TK dulu Mak, jadi ga ada reuni TK. Yaah ketahuan deh generasi tahun berapa.

Ngobrolin soal reuni, pasti kesannya beragam. Ada serunya karena ketemu sama teman-teman lama, termasuk mungkin bisa ketemu lagi (setelah sekian lama) dengan mantan gebetan atau malah mantan pacar #eh. Tapi ada juga sisi gelapnya. Iya karena sekian lama tak bersua maka kondisi terkini dari masing-masing kita tentu tidak sama lagi.

Meski dulu sama-sama pakai seragam abu-abu, sekarang ada yang berstatus Ibu bekerja di beragam profesi, ada juga yang jadi queen di rumah untuk anak dan suami. Ada yang sudah punya anak 5, ada yang baru satu, tapi mungkin ada juga yang masih sendiri atau memang tengah berjuang sendiri sebagai single mother.

Naah, salah satu yang mungkin bisa seru tapi juga tidak seru adalah saat bertemu kembali dengan sahabat lama kita, bisa sesama wanita atau yang pria. Iya, sebagai makhluk sosial, pasti kita pernah punya interaksi yang intensif dengan beberapa orang manusia yang kita sebut sebagai sahabat atau teman lama.

Sudah berapa lama nih tidak berkomunikasi dengan para sahabat sejak emak menikah? Atau malah ada yang tetap menjalin komunikasi layaknya dulu masih sama-sama single dengan para sahabat?

Yes, kita mau obrolin tentang persahabatan setelah menikah.

Kalau persahabatan dari dulu hingga kini dengan sahabat wanita, rasanya tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan ya Mak. Meski status kita sudah berubah dari gadis centil anggota genk  “snoopy girls” menjadi seorang Ibu dari beberapa orang anak, keseruan persahabatan satu genk rasanya tidak banyak berubah. Iya, paling bahan obrolan yang mengalami peningkatan menjadi agak lebih penting. Dari sekedar remeh temen urusan taksir menaksir cowok ke urusan sekolah anak atau arisan cooking ware.

Yang mungkin perlu kita jaga adalah privacy rumah tangga masing-masing sih. Ada di antara teman genk yang modelnya kayak baju pantai, semuanya dibuka-buka tanpa diminta. Ada juga yang modelnya lebih tertutup, tidak pernah berbagi hal yang sifatnya privacy kecuali dipancing-pancing, hahaha.

Tapi selama masih berhubungan dengan sesama wanita, masih bisa dibilang aman ya. Yang paling penting adalah saling menghargai privacy dan kenyamanan masing-masing. Bagaimanapun dekatnya kita dengan sahabat, pasti ada hal yang berbeda yang dialami dan dijalani oleh masing-masing dari kita.

Selain menjaga kenyamanan tentu kita harus saling support agar jalinan persahabatan tetap terjaga dengan baik.

Akan lebih seru kalau sahabat kita jadi sahabat keluarga kita juga. Demikian juga sahabat suami, jadi sahabat kita dan anak-anak juga. Well, setidaknya emak dan suami, sama-sama mengenali lingkungan dan lingkaran pertemanan atau persahabatan masing-masing. Bahkan menjadi bagian di dalamnya.

Bagaimana halnya dengan persahabatan dengan lawan jenis? Mungkinkan persahabatan setelah menikah?

Tidak harus dengan mereka yang pernah punya “story” sih dengan kita.

Pasti deh sebagian dari emak dulu pernah punya sahabat cowok kan? Saya salah satunya. Sahabat cowok saya lumayan banyak nih. Mungkin karena dulu saya lebih suka ngobrol dan main sama mereka kali ya. Trus gimana status persahabatan emak dengan para sabahat cowok ini?

Hmm pastinya sahabat tetap sahabat ya, hanya saja mungkin intensitas komunikasi dan keintimannya  yang harus disesuaikan. Kok harus disesuaikan? Iya lah, kan sekarang kita punya lingkaran inti yang harus kita perhatikan perasaannya saat kita terlalu intens dengan pihak lain. Suami, anak-anak, keluarga.

Ada beberapa hal yang mungkin harus kita jaga agar persahabatan dengan lawan jenis setelah pernikahan tidak merusak keharmonisan hubungan kita dengan pasangan dan keluarga tetapi justru menjadi support untuk kebahagiaan bersama. Kalau menurut saya ini berlaku vice versa, berlaku juga dalam hal suami kita memiliki sahabat wanita.  Jiyaa gaya banget nih bahasanya. Ini beberapa kesimpulan tentang persahabatan setelah menikah.

Persahabatan Setelah Menikah

  1. Jadikan sahabat kita sebagai sahabat suami dan sahabat keluarga.

Seperti sudah disampaikan pada bagian sebelumnya, ini tampaknya kondisi yang paling ideal agar kita bisa tetap menjaga persahabatan namun tidak mempengaruhi “secara negatif” terhadap keutuhan dan keharmonisan rumah tangga.

Adalah fakta yang tak bisa kita hindari,  saat kita bertemu dengan suami. Kita punya latar belakang, lingkungan, dan tentu saja lingkaran pertemanan. Demikian juga halnya suami. Tentu pernikahan kita bukan merupakan batas akhir pertemanan yang sudah kita miliki sebelumnya.

Rasanya bisa jadi solusi, jika sejak awal kita mulai dekat dengan sang calon suami untuk mengajaknya masuk ke dalam lingkaran pertemanan kita demikian juga sebaliknya. Mengenalnya di lingkaran pertemanan juga banyak manfaatnya lho. Kita bisa melihat dan tahu lebih banyak tentang siapa dia sebenarnya. Well, biasanya di antara teman-teman dekat, kita akan lebih menjadi apa adanya kan? Gak “jaim” gitu.

Naah setelah menikah tentu kita akan lebih mudah menjalaninya karena masing-masing sudah mengenal sahabat dari lingkarannya. Tambah teman, tambah keluarga, tambah seru kan ya?

  1. Sepakati Bersama Batasan-batasannya.

Sebagai dua pribadi yang berbeda dengan latar belakang yang kemungkian berbeda (meski perbedaannya tentu sangat relatif), tentu sangat penting untuk menyepakati batasan persahabatan antara kita dengan para sahabat (terutama sabahat lawan jenis).

Selain karena mungkin model persahabatan kita berbeda satu sama lain, karakter sahabat kita masing-masing juga tentu berbeda-beda.

Saya jamin emak pasti bete deh kalau jam 11 malam sahabat suami masih whatsapp apalagi menelpon dan minta waktu curhat. Begitu juga halnya dengan suami kita pastinya. Hmm pagi-pagi whatsapp sahabat lama kita sudah menganggu suasana pagi saat kita tengah repot mengurusi keperluan suami dan anak misalnya.

Jadi kita juga perlu sampaikan kepada sahabat kita bagaimana sebaiknya komunikasi yang nyaman untuk semua pihak. Karena bisa jadi ada jenis sahabat yang demanding, setiap saat dia butuh telinga untuk mendengar, setiap saat dia butuh curhat seketika itu kita dihubungi.

Sebaliknya bisa jadi ada sahabat laki-laki yang cenderung cuek misalnya, dia mengirim gambar atau photo yang menurut dia lucu padahal saru. Naah hal-hal semacam ini sebaiknya dikomunikasikan dengan para sahabat.

Sebaliknya kita dan suami juga harus punya kesepakatan menyikapi hal-hal seperti ini. Jangan lupa untuk menunjukkan komitemen terhadap kesepakatan tersebut, karena bagaimanapun – your husband, your family come first -.

“Oke yang, kamu masih boleh kok kumpul-kumpul sama gengmu, tapi jangan lupa waktu ya. Jangan sampai lupa sholat gara-gara asik ngerumpi…”

Atau

“Pah, kamu besok jalan sama teman-teman mogemu ya.  Hati-hati ya di jalan, gak usah pake ngebut-ngebutan ah! Inget anak-anak di rumah. Oh iya, jangan mampir ke tempat yang enggak-enggak lhoo… Kalau si A iseng nantangin, gak usah lah diladenin…”

Yang paling penting juga adalah memperhatikan batasan-batasan yang berlaku pada masing-masing agama kita. Sebagai muslim misalnya, kita harus tahu batasan “syar’i” dalam pergaulan dengan selain suami atau isteri. Batas-batasan yang tentu harus jadi pegangan kedua belah pihak.

  1. Pastikan Tidak Ada “double standard”

Sejalan dengan hal yang sudah kita bahas di poin 1 dan poin 2, maka seharusnya kita dan pasangan memperlakukan atau bersikap dengan standar yang sama dalam memelihara persahabatan dengan lingkarannya.

Jangan sampai kita terlalu “gahol”, sementara suami sama sekali tidak mau tahu soal pertemanan kita atau cenderung  menyimpan sendiri cerita persahabatannya. Demikian juga sebaliknya.

Komunikasi dan keterbukaan merupakan hal yang mutlak agar tidak terjadi kesalahpahaman.

  1. Beri Ruang pada Keraguan dan Cemburu

Naah jangan terlalu anti pada ragu dan cemburu. Kadang-kadang kita memerlukannya sebagai salah satu bentuk “self alert”. Jika kita jujur tentu akan muncul rasa ragu saat kita merasa ada yang mulai tidak beres pada apa yang kita klaim sebagai persahabatan.

Ketika mucul gejala yang mengarah pada “sahabat lebih dari sekedar sahabat”, maka sebaiknya kita segara bergegas mewaspadainya. Jangan sampai kita terlalu banyak membiarkan perasaan kita bermain-main karenanya. Bahkan mungkin saat pasangan kita tidak bisa melihat sinyal sekalipun.

Sebaliknya, saat ada rasa ragu dan cemburu akan kehangatan persahabatan suami dengan sahabat wanitanya, maka intuisi kewanitaan kita haruslah didengarkan. Cemburu dan ragu, dalam hal ini merupakan sesuatu yang harus selalu ada di antara kita dan pasangan.

Well, cemburu buta? Jangan sampai buta dung, kasih arah petunjuk supaya jelas. Iya, tentu menunjukkan rasa cemburu (sepanjang tidak buta atau tanpa alasan) akan sangat bermanfaat untuk terus menghangatkan hubungan suami isteri.

Kita tidak boleh mengabaikan rasa cemburu apalagi berusaha menguburnya. Jika cemburu ini justru bisa lebih menguatkan hubungan cinta di antara suami isteri, mengapa tidak? Kecemburuan merupakan salah satu tanda cinta dan jika ia lenyap dari hati kita maka hati kita akan cenderung rusak dan melenceng dari fitrahnya.

Kalau emak sendiri bagaimana nih? Say Yay or Nay untuk persahabatan dengan lawan jenis setelah menikah? Sharing yuk maks.

***

Persahabatan Setelah Menikah, Yay or Nay? merupakan post trigger #KEBloggingCollab yang ditulis oleh Ophi Ziadah, untuk kelompok Butet Manurung.

Ophi Ziadah adalah pengelola blog http://www.ophiziadah.com/ dengan tagline Mom of Trio’s World.