Maraknya kasus penculikan yang berujung pelecehan seksual dan pembunuhan ataupun kasus pelecehan seksual dari lingkungan atau orang-orang yang tidak pernah kita sangka, membuat kita sebagai orang tua merasa was-was. Rasanya ingin sekali mengurung anak-anak di dalam rumah sehingga tidak akan bertemu dengan para predator. Tapi kan tidak mungkin. Anak-anak tetap harus bersosialisasi dan menjalani kehidupan normalnya.

Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus meng-edukasi anak-anak sejak dini tentang berbagai kejahatan yang mungkin akan mereka temui diluar sana. Dan apa yang harus mereka lakukan untuk melindungi diri mereka. Aku sendiri sudah mulai mengajarkan anak-anak tentang konsep “orang jahat” yang bisa saja mereka temui.

Dengan meng-edukasi anak-anak atas beberapa aturan ini, setidaknya mereka sudah bisa melindungi diri mereka sendiri.

  1. Kamu diperbolehkan untuk melawan

Salah satu cara untuk mempertahankan diri adalah melawan. Konsep ini harus dipahami anak-anak. Sehingga ketika mereka mengalami kekerasan atau kejahatan yang ditujukan untuk dirinya, mereka berani melakukan perlawanan untuk mempertahankan dirinya. Hal ini sudah berkali-kali aku ajarkan kepada anak-anak. Bahkan untuk hal sekecil apapun. Ketika mereka “di serang”, maka aku mengijinkan mereka untuk melawan atau berlari meminta pertolongan.

  1. Tidak ada rahasia diantara kita

Percaya nggak kalau orang asing bukanlah bahaya terbesar dalam hal pelecehan seksual. Beberapa berita menyebutkan bahwa mayoritas pelaku pelecehan seksual adalah orang-orang yang dikenal oleh korban. Itu artinya, kebanyakan kasus pelecehan seksual dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan kita. Bisa tetangga atau orang-orang yang bekerja pada kita. Dan kadang, kasus pelecehan seksual pada anak, tidak anak sadari. Karena dilakukan oleh orang yang dekat dengan anak, maka anak akan berfikir itu bukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Untuk itu, kita harus membangun konsep kejujuran didalam keluarga. Anak-anak harus diberi pengertian jika tidak ada rahasia apapun diantara kita. Untuk hal sekecil apapun, mereka harus menceritakan semuanya pada kita orang tuanya.

  1. Tidak ada hukuman jika kamu melakukan kesalahan

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Begitu juga anak-anak. Ketika mereka melakukan kesalahan, biasanya apa yang kita lakukan? Tanpa sadar, kita akan memarahinya atau menghukumnya. Sehingga lama-lama, mereka berfikir “Aku melakukan kesalahan, berarti aku akan dihukum atau dimarahi”. Kalau pemikiran itu sudah terbentuk pada anak, maka jangan harap mereka akan berkata jujur pada kita. Pastikan anak-anak paham bahwa kita selalu menyayangi mereka bahkan jika mereka melakukan kesalahan. Dengan begitu, ketika mereka mengalami pelecehan, dimana mereka tahu hal itu adalah suatu kejahatan, mereka akan memiliki keberanian untuk menceritakannya kepada kita. Dan dengan begitu, kejadian serupa tidak akan berulang.

  1. Selalu minta izin sebelum pergi

Seperti yang kita tahu, pelecehan seksual lebih sering dilakukan oleh orang-orang terdekat dengan kita atau anak. Atau bahkan bisa saja dilakukan oleh orang yang selama ini dikagumi oleh anak. Ajari anak-anak untuk selalu meminta izin sebelum mereka pergi. Kemana dan dengan siapa. Sekalipun mereka pergi dengan orang yang sudah kita kenal. Dengan siapapun mereka pergi, mereka harus tahu bahwa kita sebagai orang tuanya, wajib mengetahui secara detail.

  1. Rumah adalah rumah

Biarkan anak-anak menjadikan rumah sebagai tempat pelarian untuk menenangkan dan mendamaikan diri dari segala yang terjadi diluar rumah. Sehingga ia tidak akan mencari “tempat” di luar sana untuk menenangkan diri. Seperti yang kita tahu, pelecehan seksual nggak selalu disebabkan oleh niat jahat dari pelaku. Terkadang, pelaku melakukan pelecehan karena ada kesempatan. Paham kan ya maksudnya? Jangan sampai anak merasa nyaman pada orang lain sehingga ia menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk orang itu.

Pastikan anak-anak tahu bahwa tidak peduli apapun, kita akan selalu datang dan menggengam tangan mereka untuk mengajak mereka pulang.

  1. Saling mengetahui akun media sosial

Media sosial bagai dua sisi mata uang. Sisi positifnya adalah bisa menjadi cara yang positif untuk anak dalam berhubungan dengan teman dan keluarga. Tapi akan dapat menjadi sisi negatif jika digunakan tanpa pengawasan dan pengaturan keamanan. Beberapa waktu lalu, diketahui bahwa media sosial digunakan sebagai sarana untuk pelecehan seksual dan perdagangan seksual. Itu membuktikan bahwa media sosial bisa saja menjadi sisi buruk dalam pergaulan.

Berikan pengertian pada anak untuk menggunakan media sosial pada area yang dapat kita awasi. Berikan mereka fakta-fakta (baik fakta positif maupun fakta negatif) tentang penggunaan media sosial. Untuk urusan media sosial, sepertinya kita harus tegas tapi tetap sesuai dengan usia anak. Dan jaman sekarang, orang tua harus melek tekhnologi supaya bisa menjadi bagian dari kehidupan online anak.

Selain hal-hal tersebut di atas, anak-anak juga perlu tahu bahwa mereka dicintai tanpa syarat. Kita juga harus membiarkan mereka tahu bahwa dunia tidak seindah yang dibayangkan dan tidak akan selalu sesuai logika. Tapi bagaimanapun dunia yang mereka hadapi, mereka akan selalu dicintai, didengarkan dan aman untuk menceritakan apapaun kepada kita.

***

Lindungi Anak dari Pelecehan Seksual dengan Aturan ini ditulis oleh Swiandi Kumalasari sebagai post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Khofifah Indar Parawansa.

Swiandi atau Wian, pengelola blog http://www.thehermawansjourney.com/