Review Film Riki Rhino

Sutradara: Erwin Budiono

Produksi: Batavia Pictures

Pemain: Hamish Daud, Ge Pamungkas, Zack Lee, Aurel Hermansyah, Cemen, Mikaela Lee, Arsyi Hermansyah, Mo Sidik, Ridwan Kamil

Genre: Petualangan (untuk semua umur) 

***

Maks, pasti pernah dengar ungkapan tidak berperikemanusiaan kan. Gimana kalau dengan ungkapan tidak berperikebinatangan? Memang ada?

Ada lho, Mak. Kalau tidak berperikemanusiaan tidak memperlakukan manusia seperti seharusnya dan semena-mena, begitu juga dengan tidak berperikebinatangan. Dan pelakunya adalah kita, lho. Manusia.

Ide manusia sebagai karakter villain inilah yang diangkat oleh film Riki Rhino. Film animasi buatan Indonesia yang dibuat di Bandung ini mengangkat Riki sebagai seekor badak Sumatera sebagai tokoh utamanya.

Seperti ini ceritanya. Riki (pengisi suara: Hamish Daud) adalah seekor badak Sumatera yang tinggal di sebuah hutan bersama teman-temannya. Riki kehilangan culanya ketika seorang pemburu bernama Mr Jak (Zack Lee) mengambil culanya.

Riki sempat kehilangan kepercayaan diri meski sahabatnya seekor bebek yang bawel bernama Beni (pengisi suara: Ge Pamungkas) berusaha menghiburnya bahkan mengorbankan dirinya agar Riki kembali tersenyum.

Setelah mendapat nasihat dari Grada seekor burung Dadali, Riki menempuh perjalanan bersama Beni untuk mencari Master (Dhimas Danang) yang katanya bisa membantu Riki memiliki kembali culanya.

Perjalanan yang ditempuh oleh Riki dan Beni memang cukup jauh. Tapi di sepanjang perjalanannya keduanya menemukan banyak hal. Mulai dari teman dan musuh baru sampai keajaiban yang membuat Riki mempunyai kekuatan super.

By the way teman-teman baru mereka ini adalah hewan-hewan hutan, dan musuh barunya adalah manusia-manusia pemburu seperti Mr Jak yang bernafsu menangkap binatang untuk diburu kulitnya atau dijual hidup-hidup dengan harga yang mahal.

Ide menjadikan manusia sebagai musuh di film ini sungguh menarik.  Bukan cuma bikin kecerdikan hewan yang dikomandoin oleh Beni man bawel ini tapi juga tingkah manusia yang ambisius dan rakus. Kelangkaan hewan yang terjadi bukan cuma karena faktor seleksi alam tapi juga campur tangan manusia yang merusak keseimbangan alam dengan memburu para satwa.

Para satwa di sini digambarkan justru memiliki naluri kemanusiaan dan menyindir kita terutama lewat ocehannya Beni. Kekesalan Beni yang ngomelin Riki sebagai hewan yang enggak usah malu karena mukanya sudah badak atau ketika ia menyusun  strategi dan membagi tugas dengan formasi ala pemain bola membuat saya ngakak. “Masa sih, kalian ga pernah lihat orang maen bola?”

Ya namanya juga satwa, kan? Memang di hutan ada tv, gadget dan wifi buat hiburan gitu?

 

Film Riki Rhino : Ketika Manusia Jadi Predator Bagi Satwa

Film Riki Rhino ini diisi soundtrack dengan menggunakan bahasa Batak dan bahasa Inggris dengan irama yang energik dan ceria. Sutradara filmnya Erwin Budiono membuka kesempatan untuk mengalihbasakan lagu Beauty of the Land ke dalam bahasa daerah lainnya, lho. Selain satwa, keberadaan bahasa daerah di Indonesia juga mengalami ancaman kepunahan.

By the way mungkin ada emak yang bingung kenapa yang diambil sebagai tokoh di sini adalah badak Sumatera, bukan Badak Jawa?

Ternyata keberadaan teman-temannya Riki alias badak Sumatera ini kondisinya lebih kritis. Makanya film Riki Rhino menjadikan badak Sumatera sebagai tokoh utamanya.

Riki Rhino bukan hanya mengedukasi penonton untuk peduli dengan kelestarian alamnya (pencegahan ilegal logging, kebakaran hutan dan para satwa di dalamnya) tapi juga ada value lain berupa persahabatan dan kasih sayang yang akan membuat anak-anak mendapatkan insight baru dengan gaya tutur yang ringan.

Saya jamin deh Mak. Mereka akan terhibur. Apalagi film yang proses produksinya menghabiskan waktu 4,5 tahun ga asal-asalan dalam penggarapannya. Animasinya keren dan bikin bangga karena ga kalah keren dengan film animasi asing buatan amrik.

Selain Hamish Daud dan kawan-kawan, Riki Rhino juga diramaikan oleh aktor-aktor lainnya yang sudah kita kenal. Ada Aurel Hermansyah, Arsy Hermansyah, Niken Anjani, Mikhaela Lee, Mo Sidik juga Gubernur Jabar, M. Ridwan Kamil sebagai pengisi suara Grada si burung Dadali itu.

Kalau sikap dan tindakan kejam sering disebut tidak berperikemanusiaan dan diplesetin berperikebinatangan, gimana kalau pelakunya itu manusia dan korbannya adalah satwa? Jangan-jangan manusia banyak yang ga punya perikebinatangan karena kejamnya itu tadi. Mungkin bener seperti dibilang sama Dhimas Danang. Mamalia paling kejam itu ternyata manusia.