Ngomongin soal peduli lingkungan, tahu nggak sih, Mak, bahwa si kecil ternyata punya andil besar dalam fenomena global warming lo!

Loh, kok bisa?

Well, coba bayangkan. Menurut situs carbon-balanced-baby.org, setiap ada anggota keluarga baru berusia 0 – 5 tahun hadir dalam keluarga, maka itu berarti pemakaian air akan meningkat 227 – 279 liter per hari, limbah rumah tangga naik 30 – 70%, dan konsumsi listrik juga naik sebanyak 60%.

Waduh, banyak juga ya.

Belum lagi kalau kita menggunakan popok sekali pakai. Tahu nggak sih, Mak, bahwa pemakaian popok sekali pakai ini mencapai 49 juta lembar per hari di Amerika, 2.2 juta lembar di Australia, 6.7 juta lembar di Jepang, dan 9 juta lembar di Inggris lo! Fyuh!

Duh, berarti kalau kita melahirkan buah hati, ini berarti kita jadi nggak peduli lingkungan dong? Hmmm, nggak gitu juga sih, Mak.

Memang sih, data menyebutkan demikian. Tapi sebenarnya, bisa saja kalau kita mau ikut peduli lingkungan plus sambil merawat si kecil sehingga kita bisa menjadi orang tua yang lebih bertanggung jawab, baik pada anak maupun pada bumi tempat kita tinggal. Scroll terus ya, Mak, untuk tahu caranya!

Beberapa cara kita untuk peduli lingkungan namun perawatan si kecil tetap yang utama sebagai orang tua yang bertanggung jawab

Begini Caranya Mendampingi Bayi Bermain Agar Perkembangan Otaknya Terstimulus dengan Baik

1. ASI

Tahu nggak, Mak, bahwa untuk memelihara seekor sapi yang akan diperah susunya, diperlukan 10 ribu meter persegi tanah yang diambil rumputnya. Di negara-negara dunia ketiga, Mak, padang rumput untuk sumber pakan ternak itu didapatkan dari penebangan hutan tropis. Di Brasil, ribuan hektar hutan telah habis ditebangi untuk ditanami kedelai yang akan dijadikan pakan ternak lo!

Bayangkan, Mak, jika seandainya tanah seluas itu dijadikan hutan lindung untuk menyimpan air tanah dan menetralisir hawa panas yang dijasilkan oleh pemanasan global.

Proses pengemasan susu formula juga membutuhkan banyak sekali kertas, plastik, dan kaleng. Setiap 3 juta botol susu formula membutuhkan 450 juta kemasan kaleng susu. Hasilnya adalah 70 ribu ton sampah logam kaleng susu yang sulit didaur ulang.

Nah, dengan memberikan ASI, setidaknya Emak menjadi lebih peduli lingkungan karena akan menunda pemberian susu formula untuk si kecil. Seenggaknya kita bisa mengurangi penumpukan sampah tersebut selama 6 bulan kan?
Jika Emak nggak ada kendala apa pun dalam pemberian ASIX, sebaiknya susui saja. Kan, manfaat ASI itu luar biasa, yekan?

2. Pilih produk perawatan bayi yang sesuai

Produk perawatan bayi masa kini itu nggak kalah sophisticated dengan milik orang dewasa ya, Mak. Lihat saja deh, mulai dari bedak, baby oil, baby cream, baby cologne, minyak telon, sampo, sabun, semua tersedia dan bisa didapatkan dengan sangat mudah.

Pasti nggak sedikit Emak yang juga merasa perlu untuk membeli produk perawatan bayi sepaket lengkap kan? Well, tahu nggak sih, Mak, bahwa kalau kita memang peduli lingkungan, kita harus bertanya pada diri sendiri dulu sebelum membeli semua produk perawatan bayi tersebut, apakah memang perlu nih semua produk tersebut dipakai?

Baby cologne, misalnya, sebenarnya sama saja fungsinya dengan minyak telon kan? Digunakan setelah mandi, agar bayi wangi menggemaskan. Malah minyak telon punya fungsi lebih, yaitu juga menghangatkan tubuh bayi. Jadi, sepertinya, kalau kita sudah menggunakan minyak telon mungkin bisa jadi kita nggak butuh baby cologne.

Prinsipnya, Mak, makin sedikit produk yang kita beli, makin sedikit pula zat kimia yang dilepaskan ke bumi kita. Usahakan membeli produk dalam kemasan isi ulang saja, ketimbang membeli yang kemasan baru. Untuk produk yang dipakai sehari-hari, lebih baik belilah dalam ukuran besar yang ada.

Barang yang dibeli dalam ukuran besar akan menghasilkan lebih sedikit sampah dibandingkan membelinya dalam kemasan-kemasan kecil. Apalagi sachet.

Plastik bekas kemasan produk perawatan bayi yang sudah dicuci bersih juga sebenarnya bisa digunakan lagi lo, untuk berbagai keperluan. Misalnya saja, dijadikan pot bunga, disulap jadi mainan anak. Semua tergantung pada kreativitas Emak pastinya ya.

Agar Anak Semangat Makan Sahur

3. Jadilah chef favorit si kecil

Selain cita rasanya pasti lebih oke karena bisa disesuaikan dengan selera, nilai plus dari memberikan homemade food (MPASI) kepada si kecil adalah Emak bisa sekaligus bisa lebih peduli lingkungan lo! Mengurangi konsumsi makanan bayi instan berarti juga Emak nggak menambah jumlah sampah yang dihasilkan dari kemasan bekas pembungkus makanan.

Ya, memang sih, akan sulit untuk benar-benar lepas dari makanan instan ya, karena Emak mungkin masih harus membeli biskuit bayi atau snack lain yang berkemasan. Tapi kalau bisa dikombinasikan dengan masakan sendiri, kan pastinya akan lebih baik ketimbang terus-terusan memberikan makanan instan pada si kecil kan?

Aksi peduli lingkungan juga akan semakin solid jika Emak memilih menggunakan sayur-sayuran produksi lokal dan buah-buahan yang sesuai musim. Pastinya, dengan memanfaatkan hasil bumi lokal, jarak distribusi dari lahan pertahian ke rumah kan lebih bisa dipangkas, sehingga emisi yang dihasilkan oleh kendaraan pun lebih sedikit.

Menurut sebuah lembaga kesehatan komunitas di Amerika, makanan buatan sendiri juga biayanya lebih murah 30 – 50% ketimbang makanan instan lo!

4. Hemat energi

Biang keringat merupakan musuh utama bagi bayi yang tinggal di daerah tropis seperti anak kita ya, Mak. Itulah sebabnya banyak yang memilih menggunakan AC di dalam rumah. Padahal, semakin lama kita menyalakan AC, konsumsi listrik di rumah pun semakin melejit.

Waw! Selamatkan dompet!

Well, pemakaian AC yang berlebihan juga biasanya diikuti pula oleh penggunaan lampu secara berlebihan. Kok gitu? Iya, supaya udara dinginnya bisa kerasa, kan jadi menutup semua pintu dan jendela kan? Alhasil, sinar matahari pun kesulitan masuk ke dalam kamar sehingga kamar akan gelap. Jadinya, nyalakan lampu deh.

Kalau memang demikian, untuk mengatasinya agar lebih peduli lingkungan, lakukanlah pendekatan dari segi desain ruangan. Desain rumah tropis pastinya akan lebih baik, lantaran banyak bukaan dalam rumah, sehingga ventilasi dan penerangan pun cukup meski tanpa lampu dan AC.

Di pagi dan siang hari, jangan lupa buka pintu dan jendela ya, supaya sirkulasi udara alaminya lancar pun sinar matahari sempat masuk agar menyehatkan hawa dalam rumah.

Peduli Lingkungan, Ini Dia 6 Cara Menjadi Orang Tua yang Lebih Bertanggung Jawab!

5. Going vintage

Salah satu godaan terbesar yang harus dihadapi oleh para orang tua bayi nih, yaitu dorongan belanja ketika melihat berbagai aneka produk bayi yang tampak kinclong di etalase toko. Mulai dari tempat tidur bayi, baby tafel, kursi makan, stroller, sampai perlengkapan tidur beraneka model, begitu heboh ‘melambai-lambai’ minta dibawa pulang.
Bener nggak tuh?

Tahu nggak sih, semua barang tersebut, terutama furnitur yang berukuran cukup besar, pembuatannya dibayar dengan ongkos yang sama sekali tak murah oleh bumi kita lo!

Seandainya satu boks bayi memerlukan bahan baku seperempat batang pohon saja, coba bayangkan deh berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk membuat boks bayi yang lahir setiap harinya, seperti di Jakarta? Belum lagi ditambah bahan lain, seperti besi, plastik, dan lain-lain.

Nah, agar lebih peduli lingkungan, mendingan kita berburu barang-barang preloved atau yang berkategori vintage deh, asal pastikan saja kondisinya bagus. Apalagi untuk barang-barang yang hanya sebentar dipakainya. Bahkan sekarang juga ada persewaan alat-alat bayi kan, seperti boks bayi, stroller, carseat, dan lain-lain.

6. Pakai popok kain

Popok sekali pakai alias pospak memang praktis untuk keperluan sehari-hari. Apalagi kalau kita sedang bepergian bareng si baby. Kalau ganti, tinggal buang saja ke tempat sampah.

Well, tahu nggak sih, bahwa untuk bisa mengurai pospak di dalam tanah butuh waktu sekitar 200 – 250 tahun lo. Literatur lain malah ada yang menyebut angka 400 tahun! Duh, lama bener ya? Padahal, ada juga data yang menyebutkan, bahwa sebelum fase toilet training, seorang bayi bisa menggunakan 6 ribu lembar pospak! Wew!

Tapi, gimana dong? Nggak mungkin si baby nggak pakai pospak sama sekali? Repot banget! Apalagi kalau lagi bepergian, atau si kecil barangkali sedang diare, atau saat tidur malam. Kan bayi nggak enak tidurnya, sebentar-sebentar bangun merasa nggak nyaman karena ngompol?

Tenang. Ada cara alternatif untuk tetap peduli lingkungan tanpa repot soal diaper kok, Mak. Yaitu dengan mengombinasikan penggunaan pospak dan popok kain alias cloth diaper alias clodi. Saat sedang di rumah seharian dan si kecil sehat, pakaikanlah clodi. Saat harus pergi atau kondisi yang nggak memungkinkan, pakaikan pospak.

Memang sih, clodi juga harus dicuci menggunakan detergen ya, yang juga merupakan polutan lingkungan. Tapi jejak ekologi ulang dihasilkan ketika mencuci clodi hanyalah 53% dari pemakaian pospak. Jadi tetap saja, memakai clodi lebih menguntungkan untuk bumi kita.

 

Nah, gimana nih? Pastinya Emak juga mau kan bumi kita bisa awet dalam kondisi yang baik demi anak-anak kita juga nantinya? Makanya, ayo, Mak, mulai lebih peduli lingkungan sedari sekarang, meski tetap tak meninggalkan tanggung jawab kita pada anak. Bisa kan? Bisa pasti.

Yuk, jadi orang tua yang peduli lingkungan dan menyayangi bumi!