Faktanya, sekarang ini memang anak-anak rentan terkena alergi. Bahkan sudah mulai terjadi saat mereka masih bayi, dan alergi pada bayi ini sungguh tak bisa diremehkan.

Pernah dengar kalimat ini nggak, Mak?

“Anak sekarang rentan terkena alergi.”

Pastilah kalimat tersebut familier ya di telinga Emak? Yup, itu adalah kalimat yang diucapkan oleh seorang dokter di salah satu iklan. Dan faktanya memang begitu.

Kenapa bisa seperti itu?

Coba deh, tengok gaya hidup kita sekarang ini, Mak. Hadirnya beragam makanan cepat saji, junk food semakin banyak variannya, teknologi yang seringnya membuat pengguna malas gerak, polusi yang meningkat adalah faktor-faktor yang turut serta menghadirkan alergi pada bayi sekarang ini.

Contoh yang nyata dari alergi akibat maraknya varian snack itu ada di salah satu anak saya.

Anak kedua saya itu sudah dua kali mengalami alergi akibat susu formula dan snack. Yang terakhir itu bikin baper lo, Mak. Karena gejala yang muncul itu mirip seperti cacar air! Bekasnya pun agak lama pudar. Dan saya pun udah nggak ‘ngeh’ lagi akan kandungan snack yang dikonsumsinya itu karena udah terlanjur membuang bungkusannya. Saya benar-benar feeling guilty.

Itulah mengapa kita sebagai orang tua perlu banget tahu tanda-tanda alergi anak–terutama alergi pada bayi–agar lebih waspada dan nggak menganggap remeh akan hal ini. Mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan?

 

Inilah 5 tanda alergi pada bayi dan anak-anak, serta cara pertama untuk mengatasinya

1. Riwayat kesehatan orang tua yang juga mengidap alergi

Iya, tak hanya warna mata dan kepribadian saja yang bisa diturunkan oleh orang tua. Alergi juga bisa, Mak.

Pada umumnya, anak-anak yang mengidap alergi itu menurun secara genetik. Hal ini bisa dilihat melalui warna mata dan kepribadian.

Untuk memudahkan Emak untuk mendeteksi adanya alergi pada bayi ini, ada baiknya untuk memiliki dokter keluarga. Karena dokter keluarga bisa mengetahui secara detail riwayat kesehatan keluarga. Ketika memiliki bayi, peran dokter keluarga ini akan bisa meringankan Emak untuk mendeteksi alergi pada bayi sejak dini.

 

2. Muntah dan sakit perut sesaat setelah makan

Apabila si kecil alergi makanan, biasanya tanda-tanda yang akan langsung muncul adalah muntah, sakit perut, diare, dan ruam di kulit. Biasanya pemicu terjadinya alergi pada bayi akibat makanan ini adalah susu, kacang-kacangan, wijen, kedelai, sedangkan alergi gandum dan kerang muncul pada anak-anak dan orang dewasa.

Jika terjadi tanda-tanda seperti muntah dan adanya masalah pernapasan sebagai efek dari alergi makanan, maka sebaiknya segera konsultasi dengan dokter anak.

Apalagi ketika si kecil mengalami kesulitan bernapas, Emak harus segera menelepon rumah sakit untuk meminta ambulans, karena di dalamnya ada peralatan yang bisa membantu pertolongan pertama untuk si kecil.

 

3. Eksem – Biasanya muncul pada bayi di tahun pertama

Eksem merupakan alergi pada bayi yang ditandai dengan peradangan yang terjadi pada kulit. Nah, biasanya nih tanda-tanda umum yang muncul adalah gatal, ruam hingga kulit bersisik.

Kok bisa bayi mengidap eksem?

Bisa! Hal ini bisa dipicu oleh makanan tertentu yang dikonsumsi oleh bayi, tapi di satu sisi bisa juga ini adalah kondisi warisan dari orang tua.

FYI, Mak, bahwa alergi pada bayi mungkin akan menjadi jalan untuk jenis alergi yang lain. Beberapa dokter menyebut kondisi ini dengan evolusi dari satu alergi ke alergi lainnya.

Anak yang terkena eksem dan memiliki alergi terhadap makanan maka kemungkinan ia akan berpeluang terkena asma. Jalan yang terbaik untuk mendeteksi hal ini adalah dengan melakukan tes kulit. Segera konsultasikan dengan dokter ya, jika si kecil memperlihatkan tanda-tandanya.

4. Mengi – Sesak dan susah bernapas

Sebelumnya Emak mesti tahu bahwa gejala sesak dan susah bernapas nggak selamanya merujuk ke asma. Bisa jadi itu adalah mengi.

Mengi terjadi saat saluran udara kecil di paru-paru menjadi sempit dan hal ini membuat anak menjadi susah untuk bernapas. Efeknya menghasilkan suara seperti siulan ketika ia bernapas.

Seringkali mengi disebabkan oleh gas beracun, udara dingin, lembap, demam tinggi, alergi pernapasan maupun melakukan olahraga.

Untuk pengobatan mengi, Emak hanya perlu melakukan pengobatan simtomatik saja. Lagi-lagi, berkonsultasilah dengan dokter ya, Mak.

 

5. Batuk yang membandel

Batuk yang membandel ini sulit untuk sembuh, yang selalu muncul saat anak tertawa, menangis, atau berlarian.

Jika batuk bertahan selama berminggu hingga bulanan dan disertai gejala seperti gatal, mata berair, dan pilek, maka bisa saja itu adalah tanda si kecil terkena asma yang dipicu oleh debu, polusi, maupun bulu hewan peliharaan.

Apa yang harus dilakukan?

Pertama adalah memperhatikan kapan batuk terjadi dan lihat sekeliling hal yang memicunya.

Kedua, penting untuk memastikan itu bukanlah flu atau virus dari faktor lingkungan, seperti kuman yang biasa ada di tempat penitipan anak, ataupun asap rokok.

Jika kedua hal tersebut bukanlah pemicu batuk yang terjadi berminggu hingga bulanan, sebaiknya  langsung konsultasi ke dokter untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

 

Catatan tambahan nih, Mak, penting juga bagi Emak untuk menyimpan catatan makanan apa saja yang dikonsumsi, dan juga untuk selalu memperhatikan reaksi si kecil setelah mengonsumsinya.

Jadi, ke depannya Emak bisa meminimalisasi bahan makanan yang tak aman dikonsumsi oleh si kecil. Apabila si kecil sudah pernah sekali terkena alergi, konsultasikan dengan dokter anak agar si kecil melakukan tes alergi. Jangan remehkan alergi pada bayi dan anak-anak.

Semoga si kecil sehat selalu ya, Mak.

Ranny Afandi

Senang menulis tentang kesehatan dan makanan di Hujanpelangi Blog (https://www.hujanpelangi.com). Suka pamer foto di IG @rannyrainy. Dan kadang senang ngetweet receh di @rannyrainy.