Siapa yang merasa enggak pede kalau pas berpergian lupa tidak pakai parfum? Ngomongin salah satu jenis toiletries ini, bakal seru, ya. Beberapa orang ada yang punya koleksi parfum dengan aroma berbeda sesuai dengan jenisnya. Hangat, ceria, lembut, segar,  kalem, feminim, maskulin dan sebagainya. Dari yang murah sampai yang mahal. Bahkan, ada juga lho produsen parfum yang meracik parfum sesuai dengan karakter dan informasi biologis pemakainya.  Mungkin Emak ada yang punya juga parfum seperti ini? Dan tahukah, Maks, kalau parfum atau the perfume (bahasa Inggrisnya), bisa jadi alat membunuh?

Judul Film: The Perfume : The Story of Murderer

Tahun : 2006

Sutradara :  Tom Tykwer

Produksi : Jerman

Bintang Film :  Ben Wishaw

Penghargaan:  15 award & 19 Nominasi

Ngomong-ngomong soal karakter parfum sesuai informasi biologis dari tubuh pemakainya, pada tahun 2006 Jerman memproduksi film berjudul The Perfume – yang dibintangi oleh Ben Wishhaw  yang memerankan tokoh utama Jean Baptiste Grenouille – bercerita tentang rahasia parfum yang wanginya tidak tertandingi.  Sekilas kalau baca nama tokohnya ini kok namanya berbau Perancis, ya?

Iyes, bener kok.  Film ini mengambil latar negara Perancis pada tahun 1700an akhir. Mungkin karena sejak dari dulu Perancis terutama Parisnya dikenal sebagai ikon mode dan parfum sebagai pelangkap fashion dan kecantikan.

Grenouille lahir dari ibu seorang penjual ikan di pasar namun kehadirannya tidak diharapkan. Setelah nyaris mati dan dibuang, bayi Grenoulle  dikirim ke panti asuhan dan sialnya mendapatkan ibu asuh serta  teman-teman yang kejam dan culas.

Sedari kecil Grenouille yang malang tidak pernah mendapatkan sentuhan kasih sayang,  menyadari dirinya mempunyai keistimewaan membedakan aroma-aroma secara detil. Tanah basah, daun, aroma lembab dan bau-bau lain yang kita abaikan. Dalam waktu singkat ia terobsesi untuk mewujudkannya namun belum tahu bagaimana caranya.

 

The Perfume: Cerita Sadis Dibalik Aroma Parfum

Perkenalannya dengan Pélissier- seorang peracik parfum di Paris – membuat ia terbebas dari tuan sebelumnya yang memperkerjakannya sebagai seorang penyamak kulit binatang. Dengan harga yang cukup mahal sebagai seorang budak,  Grenouille lambat laun menjadi aset berharga bagi Pélissier  yang saat itu tokonya sedang terpuruk.

Walau terkesan bodoh,  Grenouille  adalah orang yang lekas paham tanpa harus banyak berteori.  Hanya dari mencium aroma sebuah parfum, ia tau komposisi bahannya tanpa pusing memikirkan takaran yang pas. Bahkan  ia bisa membuat parfum yang lebih wangi dari bahan yang sama. Nah, gimana Pélissier enggak sayang sama Grenouille ya?

Sampai satu waktu  Grenouille yang keras kepala merasa putus asa dan kecewa karena Pélissier tida bisa menjawab pertanyaannya agar menghasilkan parfum dengan aroma yang wangi yang kuat dan tahan lama.  Pélissier lalu menyuruhnya pergi ke Grasse untuk memperdalam ilmunya.

Sebagai seorang budak, ia terkesan pendiam dan nurut saja. Ketika diomeli atau dikata-katai kasar, Grenouille datar saja tidak menunjukkan reaksi marah atau ingin membalas dendam.  Naluri brutalnya justru muncul karena dipicu oleh obsesinya untuk menghasilkan wangi yang khas dari tubuh manusia itu.

Waktu masih tinggal di Paris, Grenouille sudah memulai serangkaian pembunuhan dan mengincar korbannya dengan spesifikasi tertentu: harus seorang gadis yang masih perawan.  Grenouille membunuh korbannya tanpa waktu lama. Keahliannya ketika bekerja menjadi penyamak kulit dulu sangat membantunya untuk mengekstrak aroma tubuh dari korban yang diinginkannya.

 

The Perfume: Cerita Sadis Dibalik Aroma Parfum

Bergenre thriller psikologis, The Perfume tidak ada nuansa romantis-romantisnya. Tapi Tom Tykwer sebagai sutradara menampilkan adegan-adegan sadis tidak ada  darah mengucur atau penggorokan leher seperti fim-film lainnya yang bercerita pembunuhan. Misalnya saja seorang gadis penjual plum yang jadi korbannya mati karena kehabisan nafas karena mulutnya dibekap. Pun begitu dengan korban lainnya, tidak punya kesempatan untuk menjerit ketakutan atau kesakitan.

Aksi brutal Grenouille sebagai pembunuh berantai nyaris sempurna sampai kemudian saat mengincar Laura sebagai korban terakhir ia mendapat perlawanan dari ayah Laura yang juga seorang tuan tanah.

Menyerah?

Hohoho enggak dong. Grenouille  enggak patah arang. Ke mana pun Laura lari, ia bisa mengendus jejaknya bahkan dalam radius sekian kilometer.  Gila, ya? Kalau benaran ada orang yang punya penciuman setajam dia.

Waktu nonton ini saya jadi ingat anjing-anjing pelacak semacam Pit Bull atau Shepherd Jerman. Mungkin dia akan efektif membantu para detektif untuk melacak jejak entah itu korban, pelaku kejahatan atau orang hilang. Pokoknya dengan bakatnya beraksi tanpa menimbulkan kegaduhan itu,  ia bisa menjadi seorang intel atau detektif ulung. Well, sialnya enggak gitu. Bakat alami Grenouille ini malah jadi bencana dan menebar aroma ketakutan.

Saya nyaris enggak mudeng ada film ini, sampai satu waktu seorang teman begitu semangatnya bercerita film ini.  “Harus nonton, Teh. Filmnya keren, meski ide pembunuhnya gila.”

“Tapi,..” kata temen saya melanjutkan, “jangan kaget kalau ada adegan penduduk kota pada bercinta.”

“Hah? Gimana maksudnya?” Saya coba mengonfirmasi

“Iya, dia berhasil membuat parfum yang  ‘premium’ gitu. Semua orang terbius dengan wanginya sampai-sampai mereka enggak sadar bercinta gara-gara dia memercikan parfumnya itu.”

Grenouille memang akhirnya bisa ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Saat akan dieksekusi Grenouille memainkan kartu terakhirnya. Aroma parfum yang diracik dari tubuh manusia itu sungguh membius semua orang, tanpa kecuali. Bahkan termasuk uskup  yang begitu galak memerintahkan hukuman mati untuknya,  sampai kemudian muncul scene seperti yang teman saya bilang itu.

Jangan mikir kalau film ini bakal kental dengan adegan-adegan mesumnya lho. Walau memang kamera memunculkan korban ditinggalkan tanpa busana, misalnya. The Perfume menunjukan kalau si Grenouille ini hanya ingin mengekstrak wangi khas tubuh tapi dia malas mengenakan lagi pakaian pada korbannya.  Kenapa juga dia harus susah payah melakukan itu?

The Perfume: Cerita Sadis Dibalik Aroma Parfum

Grenouille  bukanlah tipe pembunuh berantai yang juga maniak seks.  Greonuille menjadi jahat karena obsesi gilanya itu mewujudkan parfum yang wanginya khas dari tubuh manusia, terutama dari perawan. Meski tanpa cipratan darah, tetap saja eksekusi yang dilakukan pada pemuda yatim piatu miskin ini bikin bergidik.

Sedikit informasi nih, kalau film yang berdurasi 2 jam 27 menit ini berhasil menyabet beberapa penghargaan, bukan hanya di negaranya sendiri, lho. Kalau di Jerman meraih penghargaan sebagai Film Terbaik, Desain terbaik,  Sinematografi Terbaik,  Kostum Terbaik dan beberapa penghargaan lainnya, di kancah Eropa menyabut penghargaan d’Exellence dan Carlo Di Palma European Cinematographer Award.

Tidak heran memang.  Selain gagasannya yang unik (diadaptasi dari novelnya Patrick Süskind yang juga  aktor) selama nonton, kita bakal disuguhi alur yang perlahan tapi pasti, bikin deg-degan ketika Grenouille mengincar korbannya dengan satu sentakan efektif yang maut demi menyamak aroma wangi yang diincarnya itu.

Obrolan Greonuille dengan bosnya Pélissier jadi bagian menarik ketika keduanya membahas teknik menghasilkan parfum yang berkualitas, tapi ga murahan. Bikin merinding memang setiap Grenouille selesai melakukan aksi bejatnya. Namun tone dengan warna-warna klasik dan  angle kameranya seperti ketika parfum menetes dari botol dengan latar yang gelap bikin  kita terpesona, lho.  Sejenak membuat kita abai bagaimana sadisnya kelakuan si peracik parfum saat beraksi. Sinematografinya emang juara.

Yuk, tonton film The Perfume.