Anak saya yang nomor dua, berusia 15 tahun dan bersekolah di SMK, bikin pusing kepala. Tiada hari tanpa marah-marah karena berat badannya tidak turun-turun, padahal dia sudah diet – tidak makan nasi, hanya buah dan sayuran – dan sudah berolahraga via Youtube. Anak remaja kok sudah “mati-matian” diet sih, pernyataan itu terlontar karena kesal menghadapi sikap uring-uringannya. Apalagi badannya enggak terlalu besar. Walau enggak kurus juga. Paslah untuk ukuran anak remaja. Menghadapi sikap yang seperti itu, orang tua hanya bisa mengelus dada. Dibutuhkan ilmu smart parenting agar bisa menghadapi anak generasi digital. Generasi yang ekpresif, bebas, suka berbagi atau berkolaborasi dan hidup dengan kecepatan tinggi.

Penampilan ternyata menjadi perhatian utama anak Generasi Z (usia antara 13 – 23 tahun), yang lebih cemas terhadap penampilan mereka dibandingkan dengan masa depan karir, uang, terorisme dan perundungan. Penampilan yang sempurna dibutuhkan untuk mendapatkan pengakuan.

Menurut Mbak Ainun Chomsun yang menjadi narasumber acara #KEBIntimate beberapa waktu lalu dengan tema Smart Parenting for Digital Generation, laporan Kaspersky Lab terbaru, dilansir Generasi Z adalah kelompok yang paling merasa cemas, khawatir tentang sesuatu dalam hidup mereka. Tapi, mayoritas tidak mencari bantuan profesional untuk mengatasi kecemasan itu.

Generasi Z lebih senang mencari akses informasi sendiri, apalagi sekarang ini era keterbukaan yang memberi kesempatan anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai minat bakatnya, mengasah kreativitas dan berkolaborasi. Mereka bisa memilih untuk jadi apa saja, kapan saja.

Smart Parenting di Era Digital

Jadilah Ibu yang “melek” teknologi. Gunakan gadget untuk memperkaya kemampuan dan kapasitas diri. 

Smart Parenting: 9 Aturan Parenting di Era Digital

Zaman serba digital dan serba cepat ini, peran orang tua (Bapak dan Ibu) tidak hanya mendidik dan membesarkan anak, tetapi juga harus melek teknologi. Menurut Mbak Ai (panggilan akrab Ainun Niswa), orang tua harus menjadi tempat pertama anak bertanya dan berdiskusi tentang dunia gadget. Karena orangtualah yang tahu persis anaknya.

Karena Ibu lebih banyak berinteraksi dengan anaknya. Ibu pun berhak membekali dirinya dengan pengetahuan tentang teknologi, agar jadi teman diskusi yang asyik untuk anaknya. Kenapa jadi gaptek kalau bisa mempelajari teknologi yang ada dalam genggaman, ya kan?

Smart Parenting memang perlu diterapkan dalam pola asuh Generasi Z. Orang tua kalau bisa harus tahu juga bagaimana teknologi (terutama internet) memengaruhi perkembangan anak-anak zaman sekarang. Generasi Z lebih asyik dengan teknologi, terutama di media sosial. Peran orangtua untuk menyeimbangkan dunia nyata dan dunia maya.

Dalam penggunaan gadget dan berinteraksi di media sosial, orang tua dan anak harus membuat kesepakatan bersama. Dan orang tua harus berkomitmen, kalau kesepakatan tersebut bukan mengontrol tapi memberdayakan. Ini yang dimaksud dengan disiplin positif.

9 Aturan Parenting di Era Digital

Banyak ahli digital yang menyarankan orangtua untuk berteman dengan anaknya di media sosial dan tidak menganggap internet dan gadget itu adalah produk atau barang yang jahat. Berteman dengan anak di media sosial pun ada syaratnya, yaitu untuk menjaga mereka dari kejahatan dunia maya, bukan untuk memonitor atau pun mengontrol.

Berikut ini 9 aturan parenting untuk orang tua dan anak di era digital.

  1. Gunakan HP atau gadget untuk berkomunikasi dengan anak (chat, telepon dan video call)
  2. Ajarkan kepada anak bagaimana berkomunikasi yang benar dengan HP/gadget
  3. Simpan HP/gadget ketika bermain atau jalan-jalan bersama anak-anak
  4. Tidak ada HP atau gadget saat makan bersama.
  5. Nonton video bareng anak, diskusikan yang ditonton bersama
  6. Batasi penggunaan gadget/hp kita
  7. Ikuti media sosial anak
  8. Ketika anak butuh perhatian, letakkan hp/gadget kita.
  9. Saat berbicara, lihat mata anak bukan layar hp/gadget.

So, siap belajar terus menjadi orangtua, Maks? Walau tak ada orangtua yang sempurna, tapi bisa menjadi orangtua yang smart dan asyik ya.