Emak, sudah nonton Film Miracle in Cell No.7 ? Film yang akan diadaptasi versi Indonesia oleh sutradara Hanung Bramantyo ini aslinya adalah produksi Korea. Kalau emak pecinta drakor, yakin deh banyak yang sudah nonton ini.

Selain versi asli dari Korea itu, saya juga sudah nonton film dengan judul yang sama tapi diadaptasi oleh Turki. Benang ceritanya sama, tapi alur masing-masing punya kelebihan. Kalau menurut saya versi Korea enggak mengizinkan penontonnya buat nangis lama-lama. Yang versi Turki mengandung ekstrak bawang dengan kadar lebih tinggi.

Review Film Miracle in Cell No.7

Dalam versi Korea, film yang disutradarai oleh Lee Hwan Kyung ini mengambil seting tahun 1997 sebagai timeline utama cerita. Adegan film dibuka dengan alur maju, menceritakan Yesung dewasa yang diperankan oleh Park Shin Hye. Yesung menemui kembali teman-teman ayahnya untuk menuntut keadilan atas nama ayahnya, Lee Yong Goo, yang diperankan oleh Ryoo Seung Ryong.

Yong Goo ditangkap polisi atas tuduhan melakukan penculikan, pelecehan seksual dan membunuh seorang gadis kecil yang ternyata putri dari seorang komisaris polisi. Sebelumnya gadis kecil ini memberi tahu Yong Goo di mana ia bisa mendapatkan tas Sailor Moon yang juga jadi incaran Yong Goo dan putrinya Ye Sung kecil (So Won Kal).

Kenangan saya sama tokoh Usagi Sukino yang jadi Sailor Moon seperti diputar lagi saat Yong Goo dan Yesung nari-nari dan meniru gestur ciri khasnya Sailor Moon. “Dengan kekuatan bulan, akan menghukummu”.

Sialnya Yesung kalah cepat sama gadis kecil tadi yang ayahnya punya duit lebih banyak dan enggak usah mikir lama buat mendapatkan tas itu. Yong Goo yang punya keterbelakangan mental segera bereaksi dan minta tas itu jangan dikasih. “Tasnya punya Yesung!”

Ya, mana bisa?

Film Miracle in Cell No. 7: Versi Korea vs Versi Turki

Komisaris polisi yang mestinya lebih santai menghadapi Yong Goo yang keukeuh itu makin geram saat tahu putrinya tewas dibunuh Yong Goo. Pepatah pisau hukum tajam ke bawah harus dialami Yong Goo dan membuatnya mendekam di penjara.

Lepas dari mulut harimau, ketemu moncong buaya. Yong Goo sudah galau mikirin nasib Yesung, harus menghadapi teman-teman satu selnya yang membullynya. Ditambah lagi waktu mereka tahu kesalahan yang dituduhkan, makin membabi buta saja perlakuan mereka terhadap Yong Goo. Sampai kemudian mereka menyadari ada yang salah dengan ‘dosa’nya Yong Goo itu.

Secara kasat mata, tingkah laku Yong Goo enggak meyakinkan dia punya naluri penjahat. Teman-teman satu sel yang dijeblokan karena menipu, pelaku pelecehan dan kejahatan lainnya jadi jatuh iba dan berusaha keras menyelundupkan Yesung ke dalam penjara, juga mengatur rencana agar Yong Goo bisa kabur dari penjara.

Teman satu sel Yong Goo yang paling sangar, Choi Choon-Ho (Won Sang Park) malah yang paling care dan paling inisiatif belain Yong Goo agar lepas dari tuntutan hukuman mati.

Mungkin bagi si komisaris itu, nyawa harus dibayar nyawa. Resenya, tuduhan yang dilemparkan pada Yong Goo justru atas dasar paksaan. Tidak ada saksi yang kuat. Hanya sebongkah batu bata yang turut andil menyebabkan putrinya meninggal.

Sepanjang Film Miracle in Cell No.7 lebih banyak dibumbui dengan adegan komedi. Unsur drama muncul di beberapa scene terutama ketika Yesung bia menemui ayahnya di penjara.

Film versi asli Korea ini emang enggak mengizinkan penontonya buat nangis lama-lama. Setidaknya itu yang saya rasakan. Beda dengan Film Miracle in Cell No. 7  yang adaptasi oleh Turki yang yang berjudul: Yedinci Koğuştaki Mucize.

Film Miracle in Cell No. 7: Versi Korea vs Versi Turki

 

Dibuka dengan alur mundur juga, versi Turki mengambil tahun 2004 sebagai pembuka cerita. Anchor news di tv menyampaikan berita dihapuskannya hukuman mati di Turki yang sebelumnya selalu jadi polemik.

Hukuman mati terakhir kali di sana adalah pada tahun 1984, tahun di mana timeline film ini mengambil lebih dari 90% alur cerita.

Dengan latar belakang yang sama, versi Turki ini menceritakan Memo (diperankan sama Celile Toyon Uysal), seorang ayah yang mengalami disabilitas mental mempunyai seorang anak gadis yang teramat manis, Ova namanya (yang meraninnya Nisa Sofia Aksongur).

Cerita selanjutnya bisa ditebak. Memo dijebloskan ke penjara atas tuduhan membunuh anak perempuan seorang komisaris polisi. Di film versi Turki ini, baik Ova maupun gadis anaknya komisaris polisi itu adalah teman sekelas. Ova selalu dibully oleh teman-teman sekelasnya. Begitu juga dengan putri komisaris polisi ini. Enggak punya sopan santun dan kayak ngenyek sama Memo.

Kalau di versi Korea tidak banyak diceritakan Yesung tinggal dengan siapa saat ayahnya di penjara, Ova punya nenek yang baik dan sayang dengannya. Neneknya yang selalu bilang sama Ova kalau Memo adalah sahabatnya. Sepanjang pengamatan saya, Ova malah jadi lebih ngemongin ayahnya yang punya keterbelakangan itu.

Saat insiden putri komisaris terpeleset batu di tepian jurang, sebenarnya ada seorang tentara yang melihat kejadian itu. Ova yang kebetulan menemuinya, meminta tentara itu untuk bersaksi agar ayahnya bisa bebas dari hukuman. Tapi tentara tiba-tiba menghilang tanpa asalan yang jelas. Spekulasinya tentara ini membelot entah untuk alasan apa.

Ova kemudian berhasil menyusup ke dalam penjara dan bertemu dengan ayahnya juga teman-teman yang satu sel sama ayahnya. Kalau versi Turki ini, penjaranya lebih mirip kos-kosan padat atau penginapan ala backpacker yang padat.

Dalam setiap kamar disediakan ranjang bertingkat untuk tempat tidur masing-masing narapidana, juga disediakan meja dan alat masak bagi para tahanan. Penjara model gini lebih enakeun dari penjara versi Korea yang enggak nyediain kasur buat tidur.

Tapi seenaknya penjara tetap saja penjara, ya. Kehidupannya keras dan rumah sendiri jauh lebih enak.  Apalagi Memo juga mengalami hal yang sama seperti Yong Goo. Selain dibully teman-teman satu selnya, juga mendapat perlakuan kejam dari sipir penjara.

Dengan hilangnya unsur komedi di sini, otomatis saya dibuat lebih sering nangis menyaksikan beberapa scenenya. Apalagi ketika satu-satunya harapan kandas waktu tahu orang yang bisa diandalkan menyelamatkan Memo ternyata jadi incaran aparat penegak hukum yang dikendalikan oleh si komisaris polisi itu tadi.

Film Miracle in Cell No. 7: Versi Korea vs Versi Turki

 

Penjiwaan Celile Toyon Uysal sebagai Memo yang menyandang disabilitas mental bikin saya takjub. Celile segitu menghayati perannya sebagai seorang bocah laki-laki yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Seperti bertukar jiwa sama Ova yang ngemong ayahnya.

Adegan mereka ketika tidur di penjara dan tidur saling menatap wajah masing-masing sukses bikin saya meleleh. Untungnya saya nonton sendirian, enggak ada teman. Jadi cuek aja meweknya kayak adegan direwind, alias mewek lagi dan lagi hahaha.

Menurut saya, adaptasi Turki ini sukses memenuhi harapan saya. Dengan plot twist di ending (berbeda dengan versi aslinya) berhasil menghangatkan hati. Rasanya saya jadi seperti gurunya Ova yang ikutan patah hati sekaligus haru menyaksikan apa yang terjadi sama bocah manis dan pintar ini.

Film Miracle in Cell No.7 versi Turki ini mendapat 4,5 bintang dari saya. Kalau versi aslinya, ehm saya kasih 4. Bukan berarti jelekan aslinya, lho. Tapi penggambaran situasi Ova yang tinggal dengan nenek lalu diasuh gurunya lebih masuk akal buat saya.

Nah, itu ulasan saya tentang Film Miracle in Cell No.7 versi Korea Selatan dan versi Turki. Emak lebih suka yang mana nih, versi Korea atau Turki?