Seperti juga otak dan fisiknya yang sedang mengalami perkembangan yang pesat di awal usianya, seorang anak juga mengalami perkembangan emosional yang pesat.

Menurut Elizabeth Hurlock dalam bukunya, Perkembangan Anak, emosi pada dasarnya ada 2 jenis, yaitu emosi yang menyenangkan dan emosi yang tidak menyenangkan. Emosi yang menyenangkan adalah rasa senang, bahagia, sayang dan sebagainya. Sedangkan emosi yang tidak menyenangkan adalah sedih, takut, cemburu, marah dan sebagainya.

Yang patut kita waspadai sebagai orang tua, Mak, adalah emosi yang tidak menyenangkan yang tidak terkendali yang muncul pada diri anak-anak. Orang tua perlu membimbing anak-anak untuk mengenalinya, mengendalikannya, dan mengatasi emosi negatif ini.

Yah, pastinya sih ini bukan perkara mudah ya, mengingat kadang kita pun kesulitan mengendalikan emosi diri sendiri, ya kan? Tapi yah, dari mana lagi anak bisa belajar kalau bukan dari kita? So, mari berusaha keras belajar, pun mendampingi anak dalam pertumbuhan perkembangan emosional mereka.

Nah, pertama kali, orang tua harus mengenali dulu faktor-faktor apa saja yang memengaruhi perkembangan emosional anak ini.

5 Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosional Anak

 

1. Faktor genetik

Kelenjar endokrin yang memang mempunyai sifat genetik atau keturunan merupakan salah satu hal penentu temperamen seseorang. Jika ada di antara garis keturunannya yang mempunyai sifat kurang bisa mengendalikan emosi, ada kemungkinan besar si anak juga akan mempunyai sifat yang sama.

Nah, jadi termenung deh sekarang. Jangan-jangan si bocah nurun kita yang nggak sabaran ini ya? Hmmm …

So, ayo, Mak. Bareng-bareng si anak, kita belajar mengelola emosi. Minta si kecil mengingatkan kita juga, kalau misal kita kelepasan. Berbesar hati dikritik si kecil kalau umpama kita juga susah mengendalikan emosi.

Dengan demikian, kita pun memberi contoh untuk berkembang bersama.

2. Faktor lingkungan

Lingkungan bagaikan guru untuk anak. Dari mana anak belajar pertama kali kalau bukan dari lingkungannya, keluarganya? Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang riuh dan selalu ribut, akan membuatnya juga lekas meledak. Begitupun anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang tenang dan bahagia, biasanya juga cenderung dapat mengontrol emosinya.

Pola pengasuhan juga termasuk faktor lingkungan yang dapat memengaruhi pola perkembangan emosional anak. Pola pengasuhan yang otoriter akan mendorong perkembangan emosi negatif, seperti sering cemas berlebihan, menjadi anak penakut dan tak punya pendirian. Sedangkan pola pengasuhan demokratis biasanya akan mendorong anak ke perkembangan emosional yang penuh semangat, harapan dan kasih sayang.

Jadi, untuk bisa mendampingi anak mengembangkan kemampuan olah emosinya, mari kita lihat dulu, pola pengasuhan seperti apa sih yang sudah kita lakukan sekarang?

3. Kondisi kesehatan

Anak dengan kondisi kesehatan yang kurang baik, biasanya juga tak mempunyai perkembangan emosional yang baik. Kondisi kesehatan ini juga berkaitan dengan baik tidaknya asupan nutrisinya, kondisi kebersihan lingkungan tempat ia dibesarkan, dan lain sebagainya.

4. Jenis kelamin

Anak laki-laki pada umumnya lebih sering mengekspresikan emosinya yang meledak-ledak, sedangkan anak perempuan biasanya lebih bisa memendam dan menyembunyikan emosi dengan baik.

Either way, semua anak perlu pendampingan. Anak laki-laki sebaiknya didampingi agar bisa mengendalikan emosi dengan baik. Sedangkan anak perempuan perlu kita dampingi, agar enggak terbiasa memendam emosi hingga akhirnya meledak di suatu waktu, karena hal ini bisa melukai mentalnya.

Keduanya harus seimbang. Sebisa mungkin emosi jangan dipendam, tetapi jika dikeluarkan pun harus dengan baik.

Susah? Iya, Mak. Memang susah. Tapi, pasti bisa 🙂

5. Status ekonomi

Menurut beberapa penelitian, anak-anak dari keluarga berstatus sosial ekonomi menengah – bawah biasanya mempunyai kecenderungan punya perkembangan emosional ke arah negatif, berupa kecemasan dan ketakutan.

Sedangkan mereka yang berasal dari keluarga berstatus sosial-ekonomi menengah – tinggi, lebih bisa mengontrol dan menumbuhkan perasaan positif.

Bukan berarti mendiskreditkan satu kelompok masyarakat, tetapi ada baiknya memang semua orang tua berusaha untuk memantau perkembangan emosional anak ini, terlepas dari status ekonominya.

Berbagai faktor di atas memang sangat memengaruhi perkembangan emosional atau temperamen pada anak. Meski hasil berbeda-beda, namun tetaplah menjadi tugas orangtua untuk mendampingi mereka selama masa perkembangan ini, termasuk masa-masa perkembangan emosional.

Dan untuk bisa membantu anak-anak belajar mengendalikan emosi masing-masing, maka orang tua harus menyelami perasaan mereka lebih dalam dengan mengenali lebih dulu karakter masing-masing anak.

Yah, selamat menyelami diri anak lebih dalam lagi ya, Mak! Ingat, memang jadi tugas kita untuk mendidik dan mendampingi mereka belajar selama hidup mereka di dunia.