ditulis oleh Haeriah Syamsuddin – https://haeriahsyam.com/

**

Siapa di antara kita yang tidak punya atau tidak pernah berhutang? Hm, rasanya hampir-hampir tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah berutang. Entah itu berutang karena memang sedang butuh atau karena kebiasaan. Ops, kebiasaan? Yah, tidak semua orang yang berutang dikarenakan memang sedang susah atau butuh. Ada beberapa orang yang berutang karena memang sudah kebiasaan. Mungkin bisa dikatakan, hidupnya gak indah kalau tidak berutang. Padahal dari segi materi, ia berkecukupan bahkan berlebih. Gak percaya? Pengalaman masa kecilku membuktikan kalau ada orang-orang seperti itu.
Sejak kecil saya telah akrab dengan utang. Bukan, bukan kecil-kecil jago utang lho…

Jadi ceritanya begini, orang tuaku punya toko kelontong yang lumayan ramai. Sebagian langganannya mengutang kebutuhan sehari-hari dan janjinya dibayar tiap habis gajian. Oleh Bapak, para langganan tersebut dimintai komitmennya kapan mereka akan membayar lengkap dengan tanggal, hari dan jam. Komitmen tersebut ditulis di buku catatan utang masing-masing. Jadi setiap tiba waktu yang sudah disepakati, diharapkan mereka datang sendiri membayar utang-utangnya sebagaimana mereka datang sendiri berutang.

Namun janji tinggal janji. Kebanyakan pas jatuh tempo tiba-tiba raib entah ke mana. Tiba-tiba ngilang tak tahu rimbanya. Lama ditunggu namun bayangannya tak sedikit pun berkelebat. Padahal orang-orang ini tergolong mampu lho.

Karena sudah terjadi beberapa kali dan orangnya itu-itu juga maka Bapak sudah siap sedia. Tepat di waktu yang telah disepakati, bapak mengutus debt collector-nya untuk turun gunung mendatangi rumah-rumah mereka. Dan debt collectornya itu adalah …….saya. Glek.

Jadilah saya, putri sulung di keluarga ini menjalankan amanah keluarga. Sebelumnya Bapak memberi saya wejangan untuk menghadapi elakan para debiturnya.

“Tunggu di rumahnya, bilang bapak yang suruh menagih.”

“Kalau molor, bilang ke Ibu A kapan dia akan membayar. Pastikan untuk mencatat tanggal, hari dan jamnya”

“Karena Ibu B ini sudah beberapa kali menunda pembayaran makanya kamu jangan pulang sebelum dikasih duit. Bilang, Bapak yang suruh…”

Semua wejangan Bapak saya jalankan dengan baik. Alhamdulillah, saya jarang pulang dengan tangan kosong. Sambil bersenandung dan berlari-lari kecil saya segera menuju rumah sembari memamerkan hasil tagihanku. “Berhasil berhasil berhasil, hore” *Dora mode on, ups, zamanku kecil mana ada si Dora adanya juga si Unyil, hehehe.

Kenapa saya selalu sukses? Jadi begini ceritanya, sebelum turun gunung saya menganalisa calon orang yang akan saya tagih. Ternyata sebagian ibu-ibu itu (jadi pengutang di toko Bapak tuh kebanyakan ibu-ibu) berutang tanpa sepengetahuan suaminya. (Hayo, ngaku siapa yang suka kayak gini?). Karenanya para ibu itu selalu berpesan agar mereka ditagihnya jangan di depan suami atau pas suami ada di rumah. Nagihnya ntar saja kalau suami-suami mereka sedang keluar.

Yang ngeselin, si pengutang yang ngasih pesan ini suka pake acara kabur-kaburan atawa molor-moloran. Kesal kan, ya udah saya pura-pura lupa aja dengan pesanannya.

”Ada ibu Fulan, Pak?”

“Ada. Memangnya ada urusan apa?” tanya balik suami ibu-ibu yang suka molor itu.

“Ini ada pesanan dari Bapak saya……”

Biasanya sampai di situ saja percakapan terpanjang kami. Tiba-tiba dari dalam rumah si ibu muncul dan “menyeretku” menjauhi suaminya. Setelah dirasa aman, saya diomeli tapi sekaligus diangsurkan segepok uang. Kalau sudah begitu, saya cukup bilang…

”Oh, itu suami ibu. Maaf, saya gak tahu…” atau

“Saya lupa kalau nagihnya harus sembunyi-sembunyi. Salah ibu sendiri, ditungguin di rumah tapi gak datang-datang…”

Hahaha…..

Pernah juga saya menagih di satu rumah. Sudah salam beberapa kali tapi pintunya tidak juga dibuka. Padahal saya tahu kalau ada orang di dalam. Ya udah, saya berdiri aja di depan rumahnya (soalnya tadi Bapak pesan, jangan pulang kalau gak dikasih duit). Pura-pura main tanah, atau corat-coret di tanah di samping rumah orang yang sedang kutagih.
Melihatku main atau berdiri sendirian tentu saja mengundang sejuta tanya dari para tetangga (maklum tinggal di kompleks). Sebagian besar mereka mengenalku. Saya pun ditanyain macam-macam. Lagi ngapain? Nunggu siapa? dan sejenisnya. Saya sih jawab jujur apa adanya aja.

Eh tiba-tiba dari dalam rumah si ibu nongol dan memanggilku masuk. Di dalam saya dikasih uang setelah sebelumnya diomeli. Duh ibu, salahku di mana?????

Sebagai debt collector cilik, saat yang paling membahagiakan adalah ketika menyerahkan uang hasil tagihan ke tangan Bapak. Rasanya bangga bisa menjalankan amanah Bapak. Rasanya bahagia melihat senyum Bapak karena haknya telah kembali. Dan rasanya bangga melihat toko kami kembali penuh barang-barang karena perputaran modal berjalan dengan baik.

Namun anehnya, sekarang kok saya gagal total jadi debt collector. Dari kebanyakan orang yang pernah berutang pada saya, sebagian besar sudah tidak bisa diharapkan lagi akan mengembalikan uang yang telah dipinjamnya. Mau nagih juga gimana? Belum ditagih mereka berkeluh kesah duluan. Ekspresinya macam orang paling sengsara di muka bumi ini. Kalau udah begini, entah ke mana dulu “kesangaranku” sebagai seorang debt collector yang sukses.

Tolong, Bayar Utangmu

Tak ada yang salah jika seseorang suatu ketika terpaksa harus berutang. Berutang merupakan salah satu cara untuk keluar dari permasalahan yang tengah menghimpit. Namun, harus selalu diingat dan dicamkan baik-baik. Tolong, niat berutang juga disertai niat dan tekad yang kuat untuk sesegara mungkin membayar kembali utang tersebut.

Saya yakin setiap manusia pastinya mempunyai hati nurani. Coba tanyakan ke dalam hati anda, betapa besarnya pertolongan orang yang telah rela menyerahkan sejumlah hartanya demi mengeluarkan anda dari kesusahan. Betapa mulianya hati mereka yang rela menggenggam janji-janji anda dan menukarnya dengan sejumlah harta yang bisa jadi mereka juga butuhkan namun rela untuk mendahulukan kepentingan anda. Dan setelah semua pengorbanan itu….anda malah marah-marah atau pura-pura amnesia atau mendadak menjadi orang paling melarat hanya ketika tiba waktu jatuh tempo? Oh kejamnya dirimu…

“Barang siapa meminjam harta manusia dan dia ingin membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Barang siapa yang meminjamnya dan dia tidak ingin membayarnya, maka Allah akan menghilangkan harta tersebut darinya.” (HR Al-Bukhaari)
“Memperlambat pembayaran hutang untuk orang yang mampu membayarnya adalah kezaliman.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Nasihat Seputar Utang:

  1. Jauhi kebiasaan berutang. Ingat berutang memang nikmat di awal tapi suka nyusahin giliran harus dibayar. Sst, suka susah kan melepaskan uang yang telah berada dalam genggaman.
  2. Tekad yang kuat untuk melunasi semua utang sesuai waktu yang telah dijanjikan. Syukur-syukur bisa lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Dalam Islam, orang yang mampu membayar utang namun menunda atau melambatkannya maka dianggap telah melakukan satu bentuk kedzaliman atau dosa.
  3. Jika waktu yang telah dijanjikan tiba namun anda belum mampu membayarnya maka segera mendatangi orang yang telah memberi anda pinjaman. Jelaskan kondisi anda sembari meminta tambahan waktu pelunasan.

Btw, kok saya ngebahas persoalan utang piutang sih untuk Collaborative Writing KEB ini? Karena eh karena…persoalan utang piutang gak jauh-jauh dari kebiasan ibu-ibu. Mulai dari utang di warung depan rumah, kredit panci, kredit daster dan sebagainya dan seterusnya.

Ingat ya emak-emak, gak apa-apa berutang asal … Jangan lupa dibayar!

Terakhir, saya mau tutup tulisan ini dengan doa agar kita semua terlepas dari utang sepenuh gunung.

“Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak”

Artinya: Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.(HR. Tirmidzi)