ditulis oleh Umi Kulsum – Ibuguruumi.com

*

Jadi, saya kudu cerita.  Berhubung saya bisanya cumah beginih, yo wis ngene wae. Maap-maap kalau tidak sama dengan lainnya.  Atau kalau melanggar pakem emak-emak blogger yang kece badai ini, maapkanlah lagi.  Terus terang saya terharu dengan kesempatan ini. Luar biasa, bisa bertemu dan berinteraksi  emak-emak penuh inspirasi ini adalah anugerah tak ternilai. Terima kasih, terimakasih. I love you.

Jadi, saya mulai saja ceritanya.

Menjadi pengawas ujian sekolah itu pekerjaan mulia. Di tangan merekalah kejujuran dan kelurusan siswa dalam ujian dipertaruhkan. Mereka yang memastikan kemurnian hasil melalui proses yang bening; benar dan baik. Bisa dibayangkan jika para pengawas ujian melalaikan tugasnya. Kebiasaan buruk menyontek akan menjadi penghancur karakter bangsa. Tugas yang  sungguh mulia.  Dan saya bangga menjadi bagian dari ini. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Luar biasa. I love you.

Lho, kok pidato lagi. Maap. Sekarang saya serius, deh.

Cerita ini masih berhubungan dengan tulisan sebelumnya. Hari terakhir mengawas ujian, saya kebagian kelas XI Multimedia. Saya mengajar  Bahasa Inggris di kelas mereka  tahun lalu. Jadi, kami sudah tahu sama tahu, saling kenal. Para pendekar masa depan itu hanya senyum-senyum saja menyambut kedatangan saya.

Soal dibagi beserta lembar jawaban. Suasana hening dan tenang. Ini waktu sulit, sebab kelas XI mulai ujian pukul 12.00 sampai dengan  pukul 14.00 WIB. Lapar, mengantuk, gerah, capek. Para siswa mungkin tidak merasakan itu, sebab mereka baru tiba di sekolah sekitar pukul sebelas. Sementara saya mengawas mulai pukul setengah tujuh.

Berjam-jam duduk, mondar mandir, baca buku, di situ-situ saja, benar-benar membosankan. Apalagi bagi orang  kinestetis macam saya.

Satu peserta tidur dengan lelap. Saya kenal dia. Dia sekolah sambil bekerja di warnet yang juga menyediakan jasa foto copy dan lain-lain. Mungkin dia lelah, sehingga butuh istirahat di kelas. Saya biarkan saja sampai dia bangun sendiri.

gambar-1

Bosannya sudah stadium empat. Saya membolak-balik berita acara dan daftar hadir. Daftar hadir perlu diisi lengkap, termasuk nama guru pengampu.

“Siapa guru matematika kelas ini?”

“Bu Nurul, Bu.”

Nah, mantap. Konon kata orang, Bu Nurul ini mirip saya. Sama-sama pendek dan berbadan kecil. Gaya pakai jilbabnya juga hampir sama. Kami (saya dan komplotan hehe) memanggilnya Mamak.

Waktu berjalan, semakin siang. Saya juga semakin bete, dan mengantuk. Buku tebal yang saya bawa sudah dibaca sebagian. Mau meneruskan, sudah angop bolak-balik. Mana lapar, lagi. Menyesal, kenapa tidak bawa sebatang coklat atau segelas air minum kemasan.

Daftar hadir dan berita acara itu saya pandangi. Ada dua lembar untuk masing-masing bidang studi. Satu akan dimasukkan ke dalam amplop lembar jawaban. Satu lagi disimpan panitia.

Eh, kayaknya seru kalau daftar hadir dan berita acara saya tulisi. Tulisi apa saja, supaya Mamak membacanya saat mengoreksi.

Tiba-tiba saya ingin menulis surat. Sudah lama tidak surat menyurat pakai kertas, yang sifatnya personal. Dulu masa SMA, pak pos adalah orang luar  yang sanggup  mengaduk-aduk perasaan. Jika dia datang, saya deg-deg plasss. Berdebarnya bisa bermuara pada dua kutub: happy atau mangkel.

Happy, kalau surat atau kartu pos itu untuk saya dan membuat saya berbunga-bunga. Mangkel, kalau ternyata itu buat kakak saya yang lebih cantik dan lebih banyak sahabat penanya dari saya. Cemburu, wahahaha.

Saya menulis sambil senyum-senyum. Mengumpulkan stok ide jail yang sudah lama tidak dimaksimalkan.

gambar-2

 

Kepada

Yth. Mamak, sebagai guru Matematika XI MM1.

(Suratnya di belakang, Mak)

 

Bagian itu, saya tulis di bagian depan daftar hadir. Lalu, inilah isi suratnya:

 

Assalamualaikum wr wb.

Apa kabar, Mak? Semoga Mamak di sini baik-baik saja. Aku di sana sehat dan cukup gemuk.

Mak, hidup sebagai anak kost ternyata sulit. Aku sering rindu rumah. Rindu sambel Ayah. Rindu berlari-lari  ditengah hujan untuk mengantar sop panas ke rumah Mbah.

Aku rindu Mamak. Mamak juga, kah? Ah, Mamak bohong kalau bilang rindu. Mamak juga bohong kalau mengiyakan tulisan ini.

Pertama, aku kan tidak kost. Masa iya aku kost. Lha anak-anakku suamiku siapa yang temani kalau aku kost?

Kedua, Ayah gak pernah buatkan aku sambel. Sebab Ayah Budi gak pernah nyambel sendiri.

Ketiga, emang Mbahnya siapa yang aku antari sop?

Mak, jangan ketawa. Buang waktu dan energi. Lebih bermanfaat Mamak ambil hape, buka wa dan kirim aku pesan: ‘Bu Umi, makanan sudah siap. GRATIS, sebab aku ulang tahun.’

Eh, Mamak mau ultah ya?

Ciiyee, ciiyeee…. Tambah tua!

 

                                                                Temanmu, yang bahagia walau mengantuk.

                                                                                Umi Kulsum

Nah, selesai. Saya lipat berita acara itu, lalu saya masukkan amplop kembali. Waktu itu tidak terbayang bagaimana reaksi Mamak nanti.

Surat itu baru dibaca beberapa hari kemudian. Karena jadi panitia ujian, Mamak sibuk. Teman sekomplotan (gak cuma penjahat, kami para guru juga punya komplotan ..wahaha) ikut-ikutan membaca surat itu dan tertawa terbahak-bahak.

Pada kesempatan mengawas berikutnya, saya membuat surat kepada guru lain. Cuma yang ini tidak saya beritahukan teman-teman apa isinya. Rahasia antar saya dan beliau, dong.

Ada satu yang bertanya dalam group wa kami:

“Situ stress?” Ahaha.

Itu salah satu jalan  membunuh kebosanan  dengan cara berbeda.  Kalau membaca, mainkan hape, bengong, itu  mainstream. Sudah sering dilakukan.

Satu dua selingan, dan menjadi hiburan. Lupakan bahwa usia sudah tua.

Kalau Emaks, bagaimana cara membunuh rasa bosan dengan cara ‘tidak-biasa’?