ditulis oleh Irna Octaviana (Irly) – www.dunia-irly.com

**

Maks, sudah familiar kan dengan meme yang bergambar seorang pengendara perempuan dan bertuliskan

“Ya Tuhanku.. Jauhkanlah hambamu ini dari ibu-ibu yang bawa motor ngasih sen ke kiri tapi belok ke kanan.”

Atau..

“Ibu-ibu bawa motor: hanya Dia dan Tuhan yang tahu akan belok kemana.”

Tapi, kita tidak akan membahas mengapa ibu-ibu berkendara seperti itu, apalagi memecahkan misteri ke mana si ibu akan belok sebenarnya. LOL.

Meme yang banyak beredar tentang Ibu-ibu atau pengendara motor (mungkin maksudnya mobil juga) kebanyakan memang memojokkan, walaupun mungkin iya, sebagian benar, tapi benar juga bahwa tidak semua perempuan berkendara seperti itu, tidak peduli dia ibu-ibu atau bukan.

Jadi, mari membeberkan sisi lain kita yang susah payah belajar berkendara. Mari berbagi pengalaman tentang berkendara bagi perempuan, yang jiwa kita sebagian besar tidak sepemberani para pria.

Di rumah, hanya saya dan Ibu saya saja yang berjenis kelamin perempuan. Saya bisa mengendarai motor kurang lebih 7 tahun lalu, untuk Mobil tahun ini sudah turun jalan 5 hari kerja, sendiri, setelah itu vakum lagi. Entah masih bisa disebut bisa atau tidak.

Sedangkan Ibu saya, mengendarai motor pun tidak bisa, apatah lagi mengendarai mobil. Untuk mengajari Ibu saya berkendara saya cukup was-was juga, jalanan sekarang kejam, kita hati-hati, tapi orang lain tidak hati-hati, kelar. Orang lain hati-hati, kitanya yang tidak hati-hati, kelar juga.

Berkendara sebenarnya tidak seburuk urusan lelar-kelaran di atas. Sebenarnya, bisa berkendara sendiri itu memberikan banyak keuntungan:

  1. Agar ruang gerak kita tidak terbatas
  2. Tidak menyusahkan orang lain
  3. Lebih ekonomis

Tidak perlu saya jabarkan lagi mengenai 3 keuntungan di atas, kita sudah paham. Yang lebih saya pahami lagi adalah keuntungan-keuntungan tersebutlah yang umumnya menjadi motivasi bagi kita untuk bisa berkendara. Hasilnya?

Ada yang berhasil dan sukses wara-wiri di jalanan. Ada yang hanya berani di gang sekitar rumah saja. Ada juga yang sukses menjadi penumpang saja setelah trauma karena pernah menabrak pohon atau pagar rumah. πŸ˜€

Saya sendiri sukses masuk got di tempat tugas dulu saat belum lancar mengendarai motor. Saat sudah berkeliling desa dengan motor dan harus melewati jalan terjal pun saya sukses masuk ke dalam kubangan, jangan tanyakan sekarang ini, saya selalu parno melihat tanjakan yang harus saya lewati, takut kendaraan yang saya bawa tidak bisa sampai di puncak dengan sukses, padahal hanya tanjakan yang tidak tinggi. Entahlah, semuanya seperti sudah menjadi kebiasaan. Tapi alhamdulillah sejauh ini badan hanya lebam, semoga tidak terjadi hal yang sama atau lebih parah lagi.

Untuk laki-laki yang mungkin membaca tulisan ini, mari sama-sama jujur, tidak menggunakan helm, mendahului dari sebelah kiri, menyalakan lampu sen yang tidak benar, apa hanya perempuan pelakunya? Big No ya, laki-laki juga ada yang seperti itu.

Kami perempuan jangan serta merta selalu dipojokkan… Sesungguhnya (sebagian dari) kami berusaha keras untuk bisa berkendara. Tidak seperti (umumnya) laki-laki yang baru diajarkan sekali, dua kali lalu dengan gagahnya sudah ada di jalan raya. Well, setidaknya kebanyakan laki-laki yang saya ketahui seberani cerita di atas, tapi tidak jarang juga saya mendengar cerita dari kaum kami yang pemberani, salut untuk mereka!

Sayangnya, saya dan beberapa kawan perempuan saya, di awal berkendara, jangankan jalan raya, baru menghidupkan mesin saja kami sudah keringatan, padahal angin bertiup kencang, padahal AC sudah sangat dingin. Kami juga sangat ingin mandiri walau kadang hasilnya menunjukkan hal yang berbeda. Kalau ada kesalahan saat berkendara, alih-alih membunyikan klakson hingga kami panik, beritahu kami dengan baik, mungkin kami masih terlalu tegang sehingga tidak fokus.

Maks, punya pengalaman apa dalam belajar atau berkendara di jalan? Menurut emaks, benarkah Belajar Berkendara Bagi Perempuan Tidak Semudah Laki-laki? Sharing yuk! πŸ™‚