Penyakit Hati Yang Merugikan

By admin on February 02, 2012

“Eh, tau ga si anu kan orangnya begini… ah pasti dia bakalan begitu. udah mending kita ga usah deketin dia, ntar kita ga dianggap sama dia…”

itulah contoh sedikit dari sekian banyak kata-kata atau bahasa yang bisa dilontarkan ketika seseorang merasakan ketidaknyaman terhadap suatu hal yang bisa jadi itu melibatkan orang lain yang dimaksud.

Sebagai manusia yang diciptakan dengan segala akal rasa dan pikiran, tentunya itu menjadi satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari sifat yang melekat di dirinya. hanya sebagian bahkan sedikit sekali orang yang bisa terbebas dari rasa itu. Dan secara keseluruhan, hal tersebut sudah menjadi icon dari sebuah kultur. mau siapapun orangnya, berasal dari adat apapun namanya, tentu tidak terlepas dari sifat dasar yang seperti ini. Sifat yang sebenernya bisa mengakibatkan diri kita terlibat dalam penyakit hati yang merugikan.

Sebagai manusia biasa, jujurlah saya juga engga pernah terlepas dari hal demikian, ada sisi kemanusiaan saya ketika saya merasa kesal, marah, emosi bahkan lebih parahnya lagi sakit hati yang berkelanjutan. Aduh, miris kalau akhirnya saya menyadari betapa hati saya ini kotor. Siapa kah saya, mengapa saya seperti ini?

Namun Sadar atau tidak, Allah Swt selalu menyelipkan sisi terbaik dari sisi keburukan kita, istilahnya ketika kita merasa sangat emosi, akan selalu ada setitik hati yang selalu menyadarkan kita bahwa ssungguhnya kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari khilaf, lalu untuk apa kita berbangga diri, mencari pembenaran yang jelas-jelas belum tentu kebenaran itupun memihak pada kita. No Body perfect, Jelas banget.

Hidup memang banyak dan seharusnya dapat memberikan pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya. dalam hidup pun kita senantiasa agar selalu bisa melawan musuh dalam diri kita, walaupun pada kenyataannya tidak semua mampu melewatinya. ada yang berusaha bangkit dan tak sedikit ada yang berkata bahwa ini adalah takdir. Ya, ketika orang merasa sudah tidak bisa melakukan apa-apa, maka kata “Takdir”menjadi pembenaran bagi mereka yang hanya mencukupkan usahanya sampai batas yang dia tentukan. Bukankah Allah selalu senang dngan hambanya yang tak kenal lelah?
Semoga kita semua terhindar dari segala penyakit hati. iri, dengki, syirik, sombong dan lainnya.  Naudzubillahi Mindzalik. Kamis Optimis.